Home / Berita / Internasional / Asia / Berbicara di Konferensi Keamanan Munich, Emir Qatar Tegaskan Kegagalan Para Pemboikot

Berbicara di Konferensi Keamanan Munich, Emir Qatar Tegaskan Kegagalan Para Pemboikot

Emir Qatar saat berpidato di Konferensi Keamanan Munich 2018. (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Berlin. Emir Negara Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani turut hadir dalam Konferensi Keamanan Munich, di Jerman. Tak hanya hadir, Syaikh Tamim juga diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato, Sabtu (16/02/2018).

Dalam kesempatan itu, Emir Qatar menyebut pemboikotan terhadap negaranya mendapat kegagalan. Para pemboikot, menurutnya, adalah penjudi yang menggerogoti cakrawala keamanan dan ekonomi di Teluk.

Emir mengatakan, para tetangga Qatar-lah yang menciptakan krisis teluk ini. Padahal, tambahnya, sebagian mereka adalah pemain yang di satu waktu berkeyakinan sebagai pilar stabilitas dunia.

Namun keyakinan itu saat ini tidak berlaku. Karena mereka justru merusak keamanan regional dan cakrawala ekonomi di Gulf Coorporation Council (GCC) sebagai blok strategis, tambah Emir Qatar.

Sebaliknya, Emir juga memberi gambaran andaikata hubungan di teluk berjalan sesuai prinsip hukum yang berlaku. Tentu negara-negara kecil tidak diperas sikap luar negeri mereka dengan bantuan, tegasnya.

Hal ini mengacu pada beberapa negara kecil yang dipaksa untuk turut memutus hubungan dengan Qatar.

Qatar Lebih Kuat

Lebih lanjut, Emir menegaskan pemboikotan Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir, mengalami kegagalan. Sementara Qatar telah berhasil mengalahkan pemboikotan darat, laut dan udara sejak Juni 2017 lalu dengan diplomasinya.

Emir juga menyebut negaranya saat ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Sebagai bukti, Emir menyebut negaranya termasuk salah satu yang paling damai di dunia, sementara kerusuhan regional marak terjadi. Persatuan untuk mempertahankan kedaulatan semakin menguat, ungkapnya.

Dalam hal perdagangan, Emir menyebut saat ini daya jangkau perdagangan Qatar jauh lebih luas. Bahkan ekspor gas Qatar menjamin stabilitas pasokan energi global.

Terkait kedaulatan dan kebebasan, Emir menjelaskan beberapa keputusan yang seharusnya diambil sebuah negara. Menurutnya, kedaulatan itu termasuk pada kebebasan pers, media dan kebebasan berekspresi. Inilah yang oleh para pemboikot diminta untuk ditinggalkan. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Hamas: Menhan Israel Mundur, Kemenangan Politik bagi Gaza