Home / Berita / Opini / Hikayat Negeri Ajaib

Hikayat Negeri Ajaib

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

dakwatuna.com – Usianya lebih dari 70 tahun. Di awal berdirinya, negeri ini sudah ajaib. Mengaku mayoritas Muslim tetapi pengambil kebijakannya menghapus 7 kata sakral dari rumusan awal dasar Negara yakni Pancasila. Pemimpinnya ajaib. Dari luarnya ia berkharisma, terlihat islami karana pakai peci, pidatonya berapi-api namun di satu sisi ia diktator. Membredel media, dan Partai yang menjadi rivalnya tak segan ia bubarkan.

Tercatat dalam lembaran sejarah ia memenjarakan Buya hamka tanpa proses hukum yang jelas. Didorong-dorong menjadi pemimpin seumur hidup dan digelari Waliyyul amri doruri bi al syaukah. Akhirnya pemimpin ini tidak berdaya sejak terbitnya Supersemar. Lagi-lagi kata para pengagumnya, ia dipaksa dan ditodong senjata ketika mengetik surat tersebut.

Negeri ajaib ini selanjutnya di bawah kendali Jendral bintang lima. Ia mengendalikan negeri ini lebih dari tiga dekade. Dikenal murah senyum, sayang anak dan kebal hukum. Falsafah jawa dan ajaran kebatinan ia terapkan dalam gaya politiknya. Pada zamannya PKI, politisi Muslim dan ribuan Preman dilibas. Yang ikut andil dalam “Petisi 50” ia batasi gerak-geriknya. Seluruh organisasi ia paksa mencantumkan Pancasila sebagai asas tunggal. Para birokrat juga ia kooptasi agar mendukung partai beringin. Ajaibnya, walau di atas kertas partai Beringin amat digdaya, namun di Ibukota, partai berbasis Islam mampu menorehkan kemenangan gemilang.

Pada zamannya berkuasa, negeri ajaib ini mampu membuat pesawat terbang sendiri. Canggih di kelasnya dan dengan harga terjangkau. Meski telah meninggal dunia, ia mewariskan sistem dan pola pikir yang sukar dihapuskan. Politik menghalalkan segala cara, De-islamisasi, dan KKN. Ia jatuh bukan hanya karena krisis moneter dan demonstrasi, melainkan karena diminta berhenti oleh Menlu negeri Adidaya.

Naiklah pria jenius yang dijuluki “Mr Crack”. Ia pemegang 40 lebih hak paten di bidang aeronautika. Di tangannya krisis moneter beranjak pergi. Nilai kurs rupiah menyentuh 6500 per Dolar Amerika. Padahal sebelumnya Kurs rupiah terpuruk ke level 16.800 per dolar Amerika. Ia dikritik IMF karena mempertahankan BBM bersubsidi dan menolak menaikkan Tarif listrik. Hanya dua kekurangan dari suaminya Hasri ainun (alm), Timor-timur lepas dari pangkuan ibu pertiwi dan ia tidak serius memproses kasus hukum yang menimpa the Smilling general.

Setelah dipimpin oleh Mr Crack. Negeri ajaib ini dinakhkodai pria yang suka lelucon dan suka baca buku. Keliling dunia ia lakukan walau hasilnya untuk negeri ini masih samar. Pernah ia lontarkan wacana hubungan dagang dengan penjajah zionis. Kurs rupiah di zamannya kembali terpuruk di level 12.000 per dolar Amerika. Terjadi beberapa teror bom dan kerusuhan antar etnis. Misalnya Madura versus Dayak di Sampit.

Perlu diingat, Pemerintahannya bersih dari orang-orang yang disebut “Mafia berkeley” dan ia dikenal pemimpin yang berani menolak perpanjangan kontrak Freeport. Pulau irian jaya kembali ia namakan Papua. Hari Imlek ia putuskan sebgaai hari libur Nasional. Akhir kepemimpinannya amat tragis. Ia keluar istana dengan dua kasus yang hingga kini misteri : Bruneigate dan ariyanti gate. Apakah ia benar-benar bersalah atau hanya sekadar dicari-cari kesalahannya.

Pria asal jombang dijatuhkan, naiklah seorang ibu Rumah tangga. Lebih layak disebut ibu rumah tangga ketimbang presiden. Kalau tidak percaya, bacalah buku karangan Prof Tjipta Lesmana yang terbit tahun 2008. Semasa ia duduk dikursi kekuasaan, dikenang sebagai pemimpin yang suka menjual aset BUMN, memberi karpet merah kepada koruptor BLBI, Pulau sipadan dan ligitan lepas dari ibu pertiwi.

Akan tetapi yang patut kita apresiasi adalah Nilai kurs rupiah berhasil kembali ke level 8000 per dolar Amerika dan keberaniannya menolak permintaan negara adidaya. Permintaan (baca: ekstradisi) untuk membawa Ust Abu bakar ba’asyir. Singkat cerita ibu rumah tangga tersebut ditaklukkan dua kali dalam pemilihan presiden oleh Pria asal Pacitan. Ibu rumah tangga tersebut menaruh dendam kepada Kakeknya Erlangga Satriadhi ini. Saking dendamnya, tidak pernah sedikit pun ia menginjakkan kaki ke istana selama sosok yang ia benci setengah mati menjabat Presiden RI.

Saat dua periode menjabat Presiden, negeri ajaib ini makin ajaib karena disebut media sebagai “negeri 1001 isu” bahkan “negeri auto-pilot”. Isu kecurangan pilpres tiba tiba teralihkan ke isu terorisme. Isu naiknya harga BBM teralihkan ke isu bentrok Monas. Utang luar negeri di zamannya meroket pesat. Misalnya, tiap tahun Ibu rumah tangga menambah utang 4 triliun rupiah, maka Pria pacitan menambah utang sebesar 80 triliun per tahun. Utang-utang sebesar itu adakalanya dipakai untuk “politik sinterklas”. Rakyat di negeri ajaib ia suruh mengantri untuk mengambil Bantuan langsung tunai (BLT).

Negeri ajaib ini sempat menorehkan prestasi di bidang Olahraga dengan menjadi juara umum Sea games tahun 2011. Negeri ajaib mampu meraup 154 medali emas. Pencapaian juara umum Sea games mengingatkan kita akan Prestasi dunia olehraga pada zaman berkuasanya the smilling General.

Pada zamannya, Pria asal Pacitan ini melakukan bersih-bersih dengan meminjam “KPK” atau dalam falsafah Jawa “Nabok nyilih tangan”. Anak buahnya hingga besannya sendiri ia jebloskan ke Penjara. Namun ada juga satu anak buahnya yang tak tersentuh hukum dan tiba-tiba menjadi Pejabat bank Dunia. Menariknya, walau sudah tidak memimpin negeri ajaib, ia disegani dan diawasi oleh rival politiknya. Terlebih lagi kini putranya berlaga di pilkada DKI.

Terakhir sebelum mengakhiri tulisan ini, tibalah masa di mana negeri ajaib dipimpin saudagar Bugis, pria brewok dan ibu rumah tangga lagi. Ibu rumah tangga ini terjangkit “post-power syndrome”. Kepada awak media ia minta tetap ditulis sebagai presiden RI ke-6. Ajaibnya, meski belum merasakan rumitnya mengerjakan skripsi dan prosesi wisuda, ibu rumah tangga ini diganjar Gelar doktor kehormatan oleh Kampus beken di tanah Pasundan. Alasannya sebatas unsur leadershipnya dan hubungan emosional.

Negeri ajaib ini rasanya “auto-pilot”, tak jelas siapa yang memimpin dan siapa yang mengambil kebijakan. Saking tidak jelasnya adalah saat ada kenaikan pesat tarif pengurusan dokumen STNK dan BPKB. Mulai RI-1, Kapolri dan pihak Kemenkeu saling lempar tanggungjawab. Rakyat di negeri ajaib dibuat bingung. Di tengah ekonomi yang lesu, rakyat dibebani dengan naiknya tarif listrik, harga BBM dan meroketnya harga cabai. Malang nian rakyat negeri ajaib. Program “Nawacita” berubah menjadi program “Duka cita”.

Di saat Pancasila sebagai lambang negara dihina anggota Australian Defence Force (ADF). Tidak ada satu pun umat merespon dan membuat aksi bela Pancasila. Unjuk rasa ke jalan dengan jutaan massa seperti di Monas dan bundaran HI. Apa sebabnya? Pertama, Pancasila sudah mati dan tidak dianggap lagi. Kedua, Di masa lampau, Pancasila dipakai kaum sekular untuk memberangus tokoh islam dan ketiga, umat fokus kepada naiknya harga-harga kebutuhan hidup. Jadinya mereka tidak sempat gelar aksi-aksi bela lambang negara. Marilah kita berdoa, semoga suatu saat Allah swt memberikan pemimpin yang adil dan bukan yang suka bikin bingung rakyat di negeri ajaib. Wallahu’allam. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Fadh Ahmad Arifan
Alumni Jurusan Studi Ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Malang. Pasca lulus, pada 2013-2015 menjadi Dosen tetap di STAI al-Yasini, Pasuruan. Sejak Februari 2015, menjadi Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di MTs-MA Muhammadiyah 2 kota Malang. Telah mengunggah lebih dari 50 karangan populer dan ilmiah, terutama di bidang Pemikiran Islam, Filsafat, Tasawuf dan Politik. Artikel terbaru berjudul 'Para Penguasa Suriah Dalam Catatan Sejarah' dimuat di Majalah Tabligh bulan April 2018

Lihat Juga

Muhasabah, Kebaikan untuk Negeri

Organization