Home / Berita / Opini / Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (twitter)
Ilustrasi. (twitter)

dakwatuna.com – Seakan baru tersadar dari lelap tidur panjang dan mimpi indah. Tiba-tiba tabuh genderang perlawanan sontak dari berbagai arah dan tempat, mengarahkan umat Islam untuk segera berbenah dan bergegas pada satu keyakinan ‘bela Islam’. Geliat musuh sepertinya sudah penuh perencanaan, siap mempertaruhkan keyakinan yang selama ini dianggap benar. Muslim di manapun saat ini layaknya satu badan dan sekarang bertambah yakin memang butuh barisan yang  solid dan kompak. Berpadu semangat membela keislaman dan membela Al Quran melalui penistaan Surah Al Maidah ayat 51.

Peristiwa ini tidak hanya mendatangkan kecaman, penyesalan dan sakit hati. Melainkan puji syukur kehadirat Allah Ta’ala yang telah menganugerahkan hikmah besar dan membangkitkan kesadaran, kepemilikan, kecemburuan, kewaspadaan pada kaum muslimin. Yang terpenting justru bangkitnya kembali persatuan umat Islam yang sempat terpecah-belah dan terkecoh oleh perbedaan pemahaman yang sesungguhnya menjadi pemakluman sejak Nabi Saw hidup dahulu kala dan justru tanda kerahmatan-Nya.

Semangat ukhuwah dan persatuan umat Islam yang akan hadir dalam aksi damai jilid kedua, 4 November 2016 dalam jumlah yang lebih besar lagi, sangat mengharapkan keikhlasan niat, tidak mudah terprovokasi, mengedepankan bahasa yang santun, damai dan menyejukkan kalbu hingga terkabulnya keinginan bersama untuk memproses secara hukum penista Al Quran. Memperjuangkan tegaknya keadilan hukum bagi seluruh warga Negara Indonesia yang berdaulat dan berkeadilan.

Ada realitas pemahaman yang perlu dihadirkan di tengah umat untuk mempelajari ayat-ayat Allah dalam Al Quran yang akan menjadi penguat argumentasi dan pertanggungjawaban di mata publik dan di hadapan-Nya kelak. Mentadabburi merupakan perintah dan cara Allah meninggikan derajat kaum muslimin. Semoga kejadian ini menambah hikmah dalam peta sejarah umat Islam di Indonesia dan di dunia, bekal menuju kebangkitan kaum muslimin dari keterpurukannya selama satu abad, sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki.

Merunut kaitan sebab turun ayat 51 Surat Al Maidah ini, mengutip dari Tafsir Ibnu Katsir dari Muhammad bin Ishaq yang meriwayatkan dari Ubadah bin al Walid bin Ubadah bin Shamit, dia berkata, “Tatkala Bani Qainuqa’ memerangi Rasul Saw, Abdullah bin Ubay bin Salul bergantung pada mereka dan berdiri di belakang mereka. Ubadah bin Shamit yang bersekutu dengan Bani Auf bin Khazraj meminta mereka pergi menuju Rasul Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku membebaskan diri dari sumpah mereka dengan berlindung kepada Allah, Rasul-Nya serta berwali kepada Allah, Rasulullah dan kaum mukminin. Aku pun melepaskan diri dari kemitraan dengan kaum kafir dan perwalian kepada mereka.”

Dalam Tafsir Shofwatut Tafasir, dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rifa’ah bin Zaid dan Suwaid bin Al Harits menampakkan keislaman, lalu keduanya bersikap munafik. Kemudian salah seorang dari kaum muslimin bersimpati kepada keduanya. Lalu turunlah ayat 51 Surat Al Maidah.

Realitas hari ini merupakan pengulangan sejarah, jika melihat sebagian dari umat Islam (oknum) yang cenderung menyalahkan aksi pembelaan terhadap Al Quran. bahkan bersedia bermitra, mendukung, berlindung dan bersandar atau menjadi tim sukses bagi seseorang yang telah jelas melecehkan ayat Allah Ta’ala. Hal ini menjadi unsur yang menguatkan perwaliannya terhadap orang kafir yang sudah jelas dilarang oleh Allah Swt melalui Qs. Al Maidah: 51, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Mereka satu kesatuan dalam kekafiran dan kesesatan, karena agama kafir adalah satu kesatuan. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Ayat di atas menjadi motivasi yang kuat dan pendirian yang kokoh bagi kaum muslimin dalam menyatakan sikap dan perilaku dalam berafiliasi, bekerja sama, bermitra dan saling menolong. Selanjutnya berhati-hati mengambil sikap dalam memilih ‘teman setia’ apalagi pemimpin yang akan berdampak pada kehidupan dunia dan di akhirat kelak. Memilih pemimpin bukan sekedar faktor kedekatan, kesukaan, kesukuan, kesenangan, kece-kecean, keuntungan duniawi atau kebanggaan semata. Melainkan terdapat konsekuensi logis yang sangat mendasar bagi kehidupan umat muslim di negeri mayoritas muslim, dalam mempertahankan aqidah yang sangat mendasar, akhlak sebagai pribadi muslim, berkeluarga, pernikahan, hukum, peradilan dan pelaksanaan keadilan. Muamalah, penataan hubungan antara kaum muslimin dan agama lain yang sangat mempengaruhi posisi mereka di dunia dan di akhirat. Teringat sebuah ceramah Dai sejuta umat, (alm) KH. Zainuddin MZ, “Allah Ta’ala memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman, namun Dia tidak menjamin bahwa Islam akan terus ada di Indonesia.” Na’udzubillahi min dzalik.

Mengomentari Al Maidah ayat 51, Abdullah bin Mas’ud mengingatkan, “apabila kamu mendengar Yaa Ayyuhalladzina aamanu, pasanglah pendengaranmu karena sesungguhnya ada kebaikan sehingga diperintahkan melakukannya atau ada keburukan sehingga dilarang melakukannya. Sedangkan makna, Yaa Ayyuhalladzina aamanu, wahai kalian yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benar iman. Wahai kalian yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan. Wahai kalian yang telah menetapkan Allah sebagai sembahan, dengarkan dan taatilah Allah.”

Awliya adalah jama’ dari wali yang memiliki arti yang banyak, yaitu wali, pemimpin, loyalitas, teman setia, kepercayaan, dukungan, keberpihakan yang Allah Ta’ala melarang diberikan kaum muslimin terhadap orang Yahudi dan Nasrani, dengan maksud saling menolong,  saling bekerja sama dan saling bersekutu dengan mereka. Untuk Qs.al Maidah ayat 51, ulama tafsir memaknai ‘awliya’ dengan pengertian wali, orang yang dipercaya, diberikan loyalitas dengan 3 syarat, yakni adanya kedekatan pemikiran, hati dan perilaku. Larangan itu disebabkan sebagian mereka menjadi bagian yang lainnya di segala penjuru dunia. Sepanjang sejarah, prinsip ini tidak pernah berubah sama sekali. Telah tampak kebencian dari mulut mereka bahkan yang mereka sembunyikan jauh lebih besar lagi. Kebencian mereka disebabkan keislaman dan hal itu bersifat permanen, abadi dan autentik.

Adalah konsekuensi alami dan realistis, bila sebagian orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain. Orang yang mengangkat mereka menjadi pemimpin termasuk dari golongan mereka. Dengan kata lain, Individu dari barisan muslim yang mengangkat mereka menjadi pemimpin berarti dia telah mengeluarkan dirinya dari barisan Muslim dan tergabung dalam barisan kafir.

Ia menzalimi diri sendiri, agama Allah dan kaum muslimin. Allah memasukkannya ke dalam golongan Yahudi dan Nasrani yang telah diberinya wala’. Allah tidak menunjukinya kepada kebenaran dan tidak mengembalikannya kepada barisan muslim. Dengan demikian, ayat Ini menjadi pemisahan (mufashalah) yang diperlukan seorang muslim di setiap tempat dan setiap generasi.

Sesungguhnya banyak sekali ayat yang melarang hal serupa dalam Al Quran, antara lain bisa dibaca dalam Qs. Al Maidah: 57,80-81, Ali Imran: 28,118,149-150,   Annisa: 138-141, 144, At Taubah: 16, 23 , Al Mujadilah: 14-15, 22, Al Mumtahanah: 1,5, 13, Al Qashash: 86.

Saat Surah Al Maidah yang menjadi permulaan peringatan bagi kaum muslimin di Indonesia. Setidaknya ada lima hal penting yang menjadi pembelajaran buat umat Islam:

  1. Penamaan surat ini dengan Al Maidah karena penyebutan kisah Al Maidah (Qs. Al Maidah: 112-115). Yakni kisah permohonan umat Nabi Isa ‘alaihissalam yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala, berupa turunnya hidangan dari langit sebagai cara menambah keyakinan mereka akan kekuasaan Allah Ta’ala dan kenabian Isa ‘alaihissalam. Sejarah telah membuktikan bahwa kaum Hawariyun (pengikut setia Nabi Isa as) telah memenuhi janji mereka kepada Allah Ta’ala untuk menaati Allah Swt dan utusan-Nya, maka kaum muslimin hari ini dan sampai kapan pun dituntut untuk memenuhi janji kepada Allah dan kesetiaan mereka dalam membela kebenaran Islam dan Kitab Al Qur’anul Kariim.
  2. Sebagaimana hadits yang dikutip dalam Khowathir Qur’aniyah menyebutkan “Ajarkan anak-anak lelaki kalian Surat Al Maidah dan ajarkan pula anak-anak perempuan kalian Surat Annur,” mari kita realisasikan wasiat Rasul Saw kepada generasi Islam, agar Islam tetap menjadi agama pilihan dan benteng yang kokoh bagi mayoritas generasi Indonesia.
  3. Ada 88 ayat yang dimulai dengan ‘Yaa Ayyuhalladzina aamanu’. Dalam Surat Al Maidah ini terdapat ayat seruan “Yaa Ayyuhalladzina aamanu lebih banyak, yakni 16 kali dibandingkan yang terdapat dalam Surat lainnya, termasuk yang mengawali Qs. Al Maidah ayat 51. Sedangkan dalam Al Baqarah hanya 10 kali.” Betapa instruksi Allah Ta’ala sangat banyak dalam surat yang terpopuler di penghujung 2016 ini.
  4. Aisyah ra mengatakan “sesungguhnya surat Al Maidah merupakan surat Al Quran yang terakhir diturunkan. Apa saja yang kalian dapatkan di dalamnya tentang urusan yang dihalalkan, hendaknya kalian menghalalkannya. Sebaliknya apa saja yang kalian dapatkan di dalamnya urusan yang diharamkan, hendaknya kalian mengharamkannya.” Surat ini memang penting untuk dipelajari dalam rangka menambah ketaatan kaum muslimin terhadap Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
  5. Surat Al Maidah ini berisi penolakan keras terhadap orang kafir (Qs. Al Maidah: 73). Di dalamnya juga terdapat akhir surat Al Quran berkenaan dengan hukum halal dan haram sekaligus menjadi ayat penutup bagi turunnya wahyu Allah Ta’ala kepada Rasul Saw (Qs. Al Maidah: 3).

Saat ini menjadi momentum emas bagi umat Islam untuk bersatu-padu dalam gerak langkah yang positif, aktif dan konstruktif, membangun produktivitas amal yang sinergis, mengedepankan persamaan dan menghargai perbedaan, menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai bahan rujukan dalam semua sisi kehidupan. Tidak ada yang alpa kecuali telah diatur dalam keduanya. Hanya manusia yang lalai dan tidak mau mempelajarinya. Wallahu A’lam Bish Shawab. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Tentang

Ketua Umum PP Salimah.

Lihat Juga

Guru yang Berhati Guru