Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Kader “Siang Malam Tunggu Panggilan”

Kader “Siang Malam Tunggu Panggilan”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Indra Fitriyana)
Ilustrasi. (Indra Fitriyana)

dakwatuna.com – Ketika kita berbicara tentang sebuah wajihah dakwah di kampus, akan sering berkaitan dengan kondisi kader di wajihah tersebut. Kader adalah sebuah wajah bagi sebuah wajihah dakwah di kampus. Maka hukum majas sinekdok pras prototo akan berlaku bagi seorang kader dakwah. Ketika kader tersebut mempunyai sifat yang baik di kalangan masyarakat kampus, maka wajihahnya juga akan tercitrakan baik, pun begitu sebaliknya.

Sebuah wajihah dakwah adalah sebuah wajihah kaderisasi yang dituntut untuk menghasilkan kader-kader yang memiliki pribadi yang sehat akan jasadiyahnya, fikriyahnya, dan ruhiyahnya. Dalam era dakwah di masa kini sangat sulit menemukan kader ideal yang memiliki jasadiyah, fikriyah, dan ruhiyah yang sehat. Tetapi bukan sebuah ketidakmungkinan hal tersebut akan bisa diwujudkan dengan pembinaan atau kaderisasi yang optimal.

Salah satu sifat kader saat ini yang merujuk pada sehatnya jasadiyah, fikriyah, dan ruhiyah kader adalah kader yang “Simatupang” (Siang Malam Tunggu Panggilan). Kader seperti inilah yang harus kita bentuk terlebih dahulu dan kemudian dilestarikan. Ketika saya membicarakan mengenai kader simatupang, saya teringat saudara sekaligus guru saya Yogi Gustaman, Mantan Ketua LDK Keluarga Muslim Itenas (2013-2015). Definisi kader simatupang menurut beliau adalah kader yang aktif dalam lembaga dakwah kampus, dan kader yang siap dibebani amanah dakwah dalam posisi apapun dan di manapun tempatnya.

Kondisi medan dakwah yang semakin berkembang menuntut penyebaran dan pengisian kader ke dalam beberapa lini dakwah. Hal inilah yang menuntut adanya kader yang berkarakter simatupang. Tentunya kader simatupang bukan hanya kader yang siap untuk bergerak saja tetapi ada beberapa profil yang harus dimiliki oleh kader simatupang diantaranya adalah:

  1. Memahami Teori

“Barangsiapa yang beramal tanpa didasari Ilmu, maka unsur merusaknya lebih banyak daripada mashlahat-nya”. Begitulah perkataan dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. Pemahaman terhadap apa yang dilakukan adalah landasan awal dalam menjalankan segala sesuatu. Dalam konteks kader sebagai seorang individu, diharapkan dia dapat memahami Islam secara menyeluruh dan alasan mengapa ia harus melakukan aktiftas dakwah. Jika pemahaman terhadap Islam dan alasan kenapa dia berdakwah tidak terpenuhi maka rawan terjadinya spontanitas dalam gerakan dakwah, yang pada ujungnya akan menimbulkan kerusakan dalam gerak dakwah. Adanya pemahaman inilah yang membuat kader istiqomah dan terus semangat dalam jalan dakwahnya.

  1. Peka dan tanggap akan permasalahan yang terjadi

Berbaur tetapi tidak melebur adalah cara yang ampuh untuk memahami permasalahan yang terjadi di kampus. Stigma negatif terhadap kader wajihah dakwah kampus adalah bahwa kader dakwah cenderung menjadi seorang kader yang eksklusif. Stigma negatif inilah yang harus diubah dengan berbaur tetapi tidak melebur di lingkungan kampus. Selain peka dan faham akan kondisi kampus, kader juga dituntut untuk peka dan paham akan permasalahan yang terjadi di Indonesia dan di Dunia saat ini. Hal itulah yang akan membuat kader lebih memahami islam secara komprehensif dan dapat membuka mata kader tentang kesempatan dakwah yang lebih luas.

  1. Berkomitmen dalam dakwah

Seseorang yang memiliki gambaran akan tujuan akhir dakwah akan cenderung memiliki komitmen yang kuat dalam berdakwah. Komitmen dalam dakwah dapat ditumbuhkan dengan pengenalan akan dakwah itu sendiri dan kebermanfaatannya dalam lingkungan masyarakat. Jika seseorang sudah mengetahui manfaat yang dilakukannya maka orang tersebut akan bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya.

  1. Mempunyai kapasitas tarbiyah dzatiyah yang baik

Kapasitas tarbiyah dzatiyah yang baik akan menjadikan kader mampu bertahan dalam berbagai ujian dan cobaan dakwah di manapun dia berada. Ia tidak futur, tidak kendur semangat dakwahnya, pemikirannya tidak jumud dan tidak akan bimbang dan ragu menjawab berbagai tuduhan miring serta yang sangat diharapkan dari efek tarbiyah dzatiyah adalah seorang kader mampu menyelesaikan persoalan yang menghadangnya. Bahkan Rasulullah saw. menilai hal ini sebagai prasyarat untuk para duta Islam dalam mengembangkan dakwah. Karenanya hal ini menjadi point dalam fit and profer-test bagi mereka yang akan menjalani tugasnya. Sehingga seseorang yang diutus ke suatu tempat, Rasulullah saw. mempertimbangkan kemampuannya dalam pengembangan tarbiyah dzatiyahnya.

  1. Mempunyai kompetensi akademik yang baik

Seorang aktivis dakwah kampus harus mempunyai kompetensi akademik yang baik karena hal ini akan menjadi nilai tambah dalam dakwahnya di kampus. Kita bisa membayangkan ketika seseorang mempunyai kompetensi akademik yang baik, orang tersebut akan mudah diterima di lingkungan manapun sehingga peluang dakwahnya akan lebih besar. Terlepas dari itu, kader juga akan dihadapkan pada dunia pasca kampus, dan jika dikaitkan dengan dakwah pasca kampus maka kader inilah yang akan berbicara banyak di dunia luar.

Dari tuntutan kelima profil di atas tentunya kita memahami bahwa kader simatupang bukan hanya kader yang siap bergerak saja tetapi kader yang memang aktif di lembaga dakwah dengan mobilitas yang tinggi, dan faham teori akan dakwah yang menyeluruh. Tentunya bentuk kader ideal yang memiliki jasadiyah, fikriyah, dan ruhiyah yang sehat bukanlah sulit diwujudkan tetapi dengan menjadi kader yang simatupang lah yang merupakan bentuk dari kader ideal. Menjadi harapan besar bagi saya saat kader-kader di wajihah dakwah kampus memiliki sifat simatupang. Dengan bekal kader-kader yang simatupang lah wajihah dakwah kampus akan cepat berkembang dan semakin progresif dalam menebarkan nilai-nilai islam di kampus. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Indra Fitriyana
Alumni SDN Sawahdadap 1, SMPN 2 Jatinangor, SMAN Cimanggung. Pernah aktif sebagai Wakil Ketua OSIS SMAN Cimanggung, Ketua KIR, Anggota PASKIBRA, dan Anggota ROHIS SMA. Pendidikan sekarang di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung mengambil S1 Jurusan Teknik Sipil. Di kampus Indra aktif sebagai salah satu anggota LDK Keluarga Muslim Itenas. Pernah menjabat sebagai Ketua Umum LDK Keluarga Muslim Itenas tahun 2017. Sekarang Indra diamanahkan menjadi ketua FSLDK Bandung Raya

Lihat Juga

Milad ke-16 Tahun, Erdogan: Partai AKP Partai Rakyat

Organization