Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ironi di Bulan Suci

Ironi di Bulan Suci

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (deviantart.net)
Ilustrasi. (deviantart.net)

dakwatuna.com – Salah satu hikmah bulan puasa adalah berempati dengan sesama. Agar kita merasakan apa yang dirasakan kaum dhuafa/miskin yang hanya bisa makan sekali dalam satu hari. Berpuasa bukan hanya mengganti jadwal sarapan di waktu sahur atau makan siang di waktu berbuka (maghrib). Puasa pada hakikatnya pengendalian diri, termasuk dalam makan. Di bulan ramadhan itulah seharusnya kita dapat berlatih menahan diri dari makan. Makan seperlunya. Makan sesuai yang dibutuhkan.

Tapi sering kali kita menjadikan berbuka sebagai balas dendam. Setelah menahan lapar seharian, lantas kita makan secara berlebihan di waktu berbuka. Kita makan sesuai apa yang kita inginkan berdasarkan nafsu. Padahal Rasulullah SAW menganjurkan berbuka dengan secukupnya. Sering kali kita berbuka dengan yang kita inginkan, bukan dengan yang Rasulullah SAW anjurkan.

Media sosial pun ramai dengan unggahan menu berbuka. Seakan orang lain harus tahu dengan apa kita berbuka. Orang lain pun tidak mau kalah gengsi. Tidak mau kalah. Makanan yang seharusnya dikonsumsi malahan difoto dan disebarkan melalui dunia maya. Disini rawan terjadinya pamer makanan. Ramailah perang foto makanan di sosial media. Rasa empati dengan kaum dhuafa/miskin pun pelan-pelan terkikis.

Dengan frekuensi makan yang lebih sedikit dari biasanya, seharusnya di bulan ramahan pengeluaran untuk konsumsi keluarga semakin hemat. Faktanya tidak. Justru di bulan ramadhan pengeluaran semakin membengkak. Untuk membeli banyak makanan yang lebih enak-enak dari menu makan sehari-hari. Tidak masalah kalau pengeluaran itu untuk sedekah atau amal ibadah lain. Rasulullah SAW pun semakin dermawan ketika di bulan ramadhan. Sedekahnya semakin sering. Bahkan digambarkan sedekahnya seperti angin yang berhembus.

Kondisi ramadhan kita berkebalikan dengan ilustrasi pertandingan sepak bola. Di awal ramadhan biasanya masjid atau mushola penuh dan ramai dengan jama’ah. Tua, muda, dan anak-anak. Shaf-shaf penuh. Sandal terparkir banyak, sebanyak jumlah jama’ahnya. Semangat yang luar biasa hingga sepuluh hari ramadhan. Namun, kondisi berkebalikan memasuki pertengahan bulan ramadhan. Lebih-lebih pada sepuluh hari terakhir. Ibaratnya sebuah pertandingan, final ramadhan malah tidak seru. Masjid semakin sepi dari jamaah. Biasanya yang datang orang tua yang sudah sepuh. Shaff tidak lagi penuh. Anak mudanya tidak lagi datang ke mushala. Mungkin para orang tua juga. Agenda rutin shalat tarawih berganti dengan agenda buka bareng (bubar) atau reunian instansi atau organisasi. Keramaian pindah tempat. Tradisi masyarakat kita, menjelang lebaran justru meramaikan mal, pasar, perbelanjaan atau pasar takjil.

Padahal lazimnya sebuah pertandingan sepak bola, penonton semakin antusias kian mendekati partai final. Mereka menyiapkan diri sebaik dengan maksimal.  Meski harus berjuang dengan kepayahan.Harga karcis yang semakin mahal pun dibeli demi menyaksikan sebuah laga final.

Ngabuburit

Di dalam satu hari terdapat waktu mustajab untuk digunakan berdo’a yaitu menjelang berbuka. Di waktu itu do’a lebih didengar dan akan dikabulkan oleh Allah. Lebih-lebih saat itu manusia sedang berpuasa. Sungguh di waktu itu adalah waktu yang dahsyat untuk memanjatkan do’a. Akan tetapi banyak diantara kita yang malah menggunakannya untuk ngabuburit atau menunggu waktu berbuka dengan hal yang sia-sia. Nongkrong, ngobrol, nonton tv, atau jalan-jalan. Malah pada kalangan anak muda, ngabuburit dilakukan dengan pasangan mereka.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan puasa memiliki tiga tingkat. Pertama, shaumul umum atau puasanya orang awam yang berpuasa sekedar menahan makan, minum, dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat. Walaupun sedang puasa, orang awam belum bisa mengendalikan nafsunya seperti masih melakukan perbuatan tercela seperti ghibah, berbohong, atau mengumpat. Kedua, shaumul khusus atau puasanya orang khusus. Orang dalam golongan ini selain menahan dari makan, minum dan godaan syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, dan anggota tubuh dari segala macam bentuk dosa. Ketiga, shaumul khususil khusus atau puasa khusus untuk orang khusus. Selain berpuasa, orang dalam kelompok ini menjaga hati dan pikirannya dari pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Berpuasa hati dan pikiran serta anggota tubuh. Tingkatan ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi, shidiqin, dan muqarrabi.

Pada tingkatan manakah kita? Sulit rasanya untuk mencapat tingkatan ketiga. Minimal, tingkatan kedua itulah yang kita kejar. Jangan pula tingkatan pertama. Sebab kata Rasulullah, “Banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala berpuasa kecuali hanya lapar dan dahaga”. Sebelum ramadhan tahun ini usai mari kita serius untuk meningkatkan kualitas ibadah wajib dan meningkatkan kuantitas ibadah sunnah. Jadikan ramadhan kali ini adalah ramadhan terbaik untuk kita. Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadhan di tahun berikutnya. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Ramadhan yang Membekas