Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Perisai Cahaya di Bulan Ramadhan

Perisai Cahaya di Bulan Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (amoudy.com)
Ilustrasi. (amoudy.com)

dakwatuna.com – Ramadhan adalah bulan penuh ampunan, bulan yang membuat semua umat muslim bergetar menyambut kedatangannya. Bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan bathil). Oleh karena itu, siapa yang di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa) maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, aga kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah 2: 185).

Firman Allah tak ada yang bisa menandinginya meskipun seluruh ahli sastra berkumpul untuk menandinginya membuat kalimat seperti firman-Nya. Tidak akan mungkin bisa. Firman Allah tentang bulan ramadhan sangat jelas dan menyentuh tentang hakikat bulan ramadhan. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Ketika ada orang yang sakit, berpergian atau safar, hamil, menyusui, berat jika berpuasa dan tua mempunyai ketentuan tersendiri tentang perihal puasa. Sekali lagi Lallah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya.

Seorang hamba yang tidak berpuasa bukan karena udzur syar’i maka jika dia berpuasa sepanjang tahun untuk menggantinya tidak akan bisa. Ramadhan bulan yang istimewa tidak hadir setiap bulan melainkan sebulan dalam setahun. Jika disia-siakan maka akan rugi, sungguh rugi. Banyak orang yang tetap melakukan perbuatan dosa misal: berbohong, berzina, berkata kotor, dan perbuatan maksiat lainnya maka tidak ada gunanya ia menahan haus dan lapar karena sia-sia belaka puasa. Jika semua umat muslim mengetahui keutaman bulan ramadhan maka semua akan takut kehilangan bulan ramadhan dan terus berdoa agar dipertemukan bulan ramadhan lagi.

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : ”Rasulullah saw bersabda:” Setiap amal anak Adam itu adalah untuk anak Adam sendiri (kembalinya kepada manusia) kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu (untuk Allah, urusannya pahala berada di tangan Allah), dan Aku (Allah) yang akan membalas puasanya. Puasa itu bagai benteng atau perisai, maka apabila seseorang di antara berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan pula berkata kasar. Jika ada seseorang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan “Aku ini sedang berpuasa”. Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada dalam genggamman-Nya, sesungguhnya bau busuk mulut orang berpuasa (menurut pandangan Allah) lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan yang menggembirakannya, apabila ia berbuka ia merasa gembira, dan apabila ia menemui Tuhannya, ia gembira dengan puasanya.” HR. Bukhari

Sungguh luar biasa keutaman puasa di bulan ramadhan maka berpuasalah dan berbukalah ada waktu yang sudah ditetapkan. Perisai yang sangat kuat ketika orang yang berpuasa jika ia dicaci atau diserang maka ucapkan “Aku sedang berpuasa”. Perisai yang kokoh tiada duanya. Rahmat Allah kepada hambaNya kepada yang beriman dan bertakwa.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Suka membaca fiksi, bergolongan darah A, dan suka kesederhanaan. disiplin dan tegas. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus

Lihat Juga

Sambut Ramadhan dengan Belajar Quran Bersama BisaQuran