Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ibuku Kolot!

Ibuku Kolot!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kenalkan wanita super yang selalu ku anggap merepotkan hidupku, suka mengatur tak pernah mengerti remaja, dan… selalu merasa benar. Siapa lagi kalo bukan Ibuku, iya ibuku! Tak percaya? Coba saja bertemu.

Pemikiran kekanak-kanakanku selalu menyebutkan sosok Ibuku sebagai penggangu di kehidupan remaja yang aku miliki. Bagaimana tidak? Ibuku itu cerewet sangat peduli pada anaknya dan sangat menyayangi anaknya. Kenapa aku berpikir Ibuku merepotkan hidupku? Penilaian salahku ini selalu membuat aku bercerita pada teman-teman bahwa Ibuku itu repot, cerewet, tak pernah mengerti aku. Tuhan! Bagaimana bisa aku punya pemikiran sekotor itu terhadap malaikat tak bersayap yang engkau kirimkan untuk menemani perjalanan hidupku? Merawatku sampai sekarang, tanpa sekalipun mengeluh di depanku?

Aku lahir dari keluarga yang bisa dikatakan cukup. Keluarga sederhana yang mempunyai rumah dan kasih sayang yang berlimpah. Mempunyai Ayah dan Ibu yang amat menyayangiku, namun aku tak pernah peka terhadap kasih sayangnya. Tidak! Aku bukan anak sulung ataupun anak bungsu yang terkesan manja, aku masih mempunyai kakak sebagai panutanku dan 2 adik yang mencontohku. Ya, aku anak kedua dari 4 bersaudara.

Ibuku adalah wanita asli Sunda yang lahir di Sukabumi 18 November 1972. Wajah Ibu selalu tampak gembira, tak pernah terlihat perasaan sedih. Senyum ramah dan wajah riang selalu diperlihatkan kepada semua orang. Tak pernah Ibuku meminta belas kasihan kepada orang lain. Setiap hari Ibu jalani dengan penuh semangat. Tak pernah dia mengeluh apalagi berputus asa dan yang paling penting Ibuku adalah pekerja keras. Aku sangat kagum pada kepribadiannya, Ibu adalah idolaku.

Namun, hingga umurku berada pada titik 15 tahun masa dimana aku mencari jati diri, masih terbawa arus dan belum punya pendirian, pola pikirku terhadap Ibu mulai berubah. Aku sedikit membenci Ibu, apa yang aku lakukan selalu dibatasi oleh Ibu, apa yang ingin aku miliki semuanya harus sesuai keinginan Ibuku bukan aku. Ah! Aku kesal, Ibu kuno.

Pernah sekali Ibu mengambil handphoneku yang aku letakkan di atas lemari di kamarku, ibu tau aku sedang kasmaran walaupun aku tak pernah bercerita apapun masalah percintaanku, kebetulan saat itu aku sudah kelas 1 Sekolah Menengah Akhir (SMA) dan merasa sudah waktunya aku menjalin kisah kasih di sekolah.

Ibu membaca setiap jengkal pesan yang aku kirimkan padanya, kata-kata yang penuh muslihat cinta, mungkin jika kau tidak ada rasa kau juga akan muak melihatnya. Ya, meskipun saat itu aku pun belum terlalu mengerti cinta.

Kala itu aku yang baru selesai mandi dipanggil ibu, segera saja aku bergegas masuk ke kamar ibu, tiba-tiba saja Ibu membentakku untuk menjauhi lelaki itu, mukanya merah padam, aku yang tak tau duduk masalahnya langsung mengklaim semua bentakan ibu. Kesal yang ku rasakan bukan main saat Ibu memperlihatkan handphoneku yang digenggam oleh tangan kanannya seakan Ibu sudah tau semua rahasia yang ku simpan rapat-rapat. Tapi ibu harusnya tau itu privasiku. Ku bentak Ibu dengan nada yang tak kalah tinggi. Ah! Ibuku seperti tak pernah muda saja.

Aku lari ke kamar dengan bantingan pintu yang sangat keras sampai dinding kamarku pun bergetar untuk beberapa saat. Air mata hangat mengalir deras di pipiku, aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Esoknya aku tak mau sekolah selain karena masih kesal, aku merasa mataku masih bengkak sisa menangis semalam suntuk. Terserah kalo kau berpikir aku keterlaluan tapi ya begitulah proses pendewasaan yang aku lalui.

Aku baru tahu ternyata Ibu mendapatkan info aku sudah berpacaran dari kakakku dan menurut kakakku lelaki itu tidak baik untukku, dia mengadu pada Ibu agar aku menjauhi lelaki itu.

Setelah masuk sekolah aku bercerita kepada beberapa temanku bahwa Ibuku menjengkelkan, Ibuku kuno dan sepertinya Ibu tak pernah muda. Sungguh tidak hanya masalah ini aku kesal pada Ibuku. Banyak lagi sifat Ibu yang menjengkelkan kala itu.

Saat aku memasuki kelas 3 Sekolah Menengah Akhir (SMA) beberapa alumni yang melanjutkan untuk kuliah di berbagai universitas di Indonesia dan berhasil lolos di universitas negeri mulai berdatangan memasuki kelasku untuk mempromosikan kampusnya. mulai dari UI, UGM, IPB, UNPAD, UNDIP, UIN, UPI, UNPAK dan masih lain sebagainya, saat itulah aku mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Namun, ya! Kau tau. Ibuku lagi-lagi tak setuju dengan pilihanku. Ibu menentang keinginanku untuk berkuliah. “Bu! Anakmu ingin maju, memang salah?” itu yang ada di pikiranku. Memang di daerahku itu anak yang sudah lulus SMA biasanya langsung bekerja sebagai buruh pabrik, alasannya karena tidak adanya biaya untuk menguliahkan anaknya. “Bayaran SMA saja susah apalagi untuk kuliah? Biayanya tidak sedikit!” itu yang dipikirkan orang-orang di daerahku termasuk Ibuku.

Tapi aku tidak menyerah untuk serta merta mengikuti keinginan Ibuku. Aku daftarkan diriku mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang diurus oleh wali kelasku dengan tidak adanya restu dari ibu dan ayahku. Untung gratis jadi aku tidak perlu membohongi Ibuku untuk meminta uang lebih. Harap-harap cemas aku menunggu pengumuman hasil seleksi, hingga setelah selesai Ujian Nasional pengumuman melalui website resmi pun sudah bisa dilihat dengan memasukin nama lengkap dan nomor yang sudah diverifikasi saat mendaftarkan diri di SNMPTN.

Ku buka website dan aku menuruti apa yang web itu minta agar aku bisa membaca hasil seleksiku. Pelan-pelan ku ketik perintahnya, kubaca awalnya dan kau tau? Hasilnya aku pun dinyatakan tidak lulus ke universitas negeri yang kupilih. Tuhan, apalagi ini? Seketika hatiku hancur sangat hancur, aku kecewa, harapanku pupus seakan memang pernyataan Ibuku itu benar. Aku bukan anak dari konglomerat yang bisa memaksa orangtuanya melakukan hal yang dia inginkan sesuka hatinya dengan uang yang tak pernah ada habisnya.

Aku menangis sejadi-jadinya sepertinya memang tak pernah ada harapan untukku melanjutkan sekolah dan mengenyam pendidikan di dunia yang begitu keras. Ibuku juga bukan orang yang fanatik yang mengharuskan anak-anaknya mengejar pendidikan hingga ke negeri China. Bagi keluargaku lulus SMA saja sudah cukup. Lihat saja ibuku, hanya lulusan Sekolah Dasar.

Maka aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanku, namun memang hati kecilku berkata lain tapi apa boleh buat semangatku sudah luntur. Walaupun memang masih banyak seleksi untuk masuk ke perguruan tinggi, aku malas jika kembali ditolak, aku tak bisa menunjukkan keberhasilanku pada Ibuku, kau bisa merasakannya? Aku malu pada Ibu. Aku terus mengurung diri dan malas dengan berbagai hal, entah itu rumah ataupun sekolah yang memang pada saat itu sudah bebas namun masih banyak yang harus diurus di sekolah. Pasti teman-temanku yang lulus seleksi bangga memperlihatkannya kepada orang tuanya masing-masing tidak sepertiku, sudah tak lulus membangkang pula.

Setelah aku dinyatakan lulus Ujian Nasional dan lulus dari sekolahku, aku seakan menyesal karena masa SMA ku tidak ku pergunakan dengan sebaik-baiknya. Namun, Ibuku tak pernah menyalahkan ku atas segala hal yang telah terjadi dalam hidupku. Ibu selalu menjadi pundak pertama yang ku sandari, ibu yang selalu mensupportku, ibu yang selalu menyayangiku meskipun setelah lulus aku hanya diam di rumah dan tidak ada rencana apapun untuk masa depan.

Dari situ aku sadar apapun yang ibu lakukan semata-mata agar aku menjadi anak yang berguna baginya, bagi keluargaku, dan bagi orang lain meskipun tak bisa berguna bagi bangsa. Pola pikir kotorku terhadap ibu seolah-olah termakan oleh waktu. Mengapa aku sedurhaka itu pada ibuku? Aku bahkan bukan anak sholeh seperti yang ibu harapkan.

Suatu waktu, ketika aku lirih dalam tidurku, aku mendengar rintihan batin ibu yang selama ini tertutup oleh rasa kesalku terhadapnya. Di tengah malam yang sunyi dengan balutan udara malam kampungku yang dinginnya menusuk, Ibu membuka kedua telapak tangannya, dalam kepasrahannya ku mendengar doa ibu yang begitu menusuk hatiku, menyayat jantungku, hingga mengetuk nuraniku akan pandanganku terhadap ibu.

Ibu mulai bercerita kepada sang pencipta tentang keluargaku, aku mendengar sayup-sayup namaku yang tertuang di dalam ceritanya. Ibu bertanya pada Tuhan mengapa Tuhan tak memberiku jalan atas apa yang aku perjuangkan, mengapa anaknya selesu sekarang? Ibu bilang jika kesalahanku terhadap ibu yang menghalangi jalanku tolong bukakanlah, jangan halangi aku karena ibu sudah memaafkan semua kesalahan apa yang telah aku buat. Sungguh ibu mendoakan begitu banyak kebaikan hingga aku menitikan air mata haru atas perjuangan ibu untukku, sampai ibu merayu sang pencipta lewat cerita malam bagai alunan syair nan indah.

Setelah mendengar semua curahan hati ibu aku tak pernah tega untuk menyakitinya kembali. Setahun aku bekerja untuk membantu pemasukan keluarga hingga hati kecilku kembali bergelora. Aku yakinkan pilihanku bahwa aku ingin tetap melanjutkan pendidikanku dan membawa nama baik keluargaku. Ibu doakan aku.

Aku berhenti bekerja, ku mulai dengan meminta doa kepada kedua orang tuaku. Aku daftar SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan tinggi Negeri) dan mengikuti UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri) dengan keyakinanku, aku belajar dengan tekun sampai akhirnya 2 malam sebelum tes aku meminta kembali restu dari orang tuaku.

Walaupun malu ku ambil air lalu ku masukan ke dalam ember kecil. Aku mendatangi ibu dan ayahku yang kala itu sedang menonton televisi di ruang tengah. Pertama aku meminta maaf kepada ibuku, ku minta doanya, ku cium kedua pipinya, lalu ku basuh kedua kakinya. Aku benar-benar sangat menyesal pernah membuat ibuku menderita. Air mataku terus mengalir, ibu berdoa sambil menangis, ibu elus rambutku dan langsung ku peluk ibuku seerat-eratnya. Ku lakukan hal yang sama pula pada ayahku. Ibu, ayah maafkan aku atas segala perbuatan yang telah menyakitimu.

Semua tes sudah ku lalui, berkat doa kedua orang tuaku aku lulus kedua-duanya. Aku berteriak dan lari menghambur ke pelukan ibuku yang ketika itu bengong melihat tingkahku dan setelah ku beritahu ibu adalah orang yang pertama kali sujud syukur atas pencapaianku, berterimakasih pada Tuhan dan mencium kedua pipiku. Ibu aku tau ibu bahagia, iya bu aku juga!

Terimakasih Ibu atas segala doa dan dukunganmu hingga aku bisa jadi seperti sekarang.

Terimakasih ibu atas segala peluh, cucuran keringat, dan segala tenaga untuk menghidupiku.

Terimakasih ibu sudah menjadi Ibuku, aku sangat bangga keluar dari rahimmu.

Ibu jika ada kata yang lebih dari sekedar terimakasih pasti itu yang akan ku ucapkan padamu.

Bu… aku sangat mencintaimu, dulu, kini, esok, nanti dan selamanya. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi di salah satu politeknik negeri di Jakarta. Hobi berimajinasi, membaca novel dan juga photography. Anak kedua yang bebal dari 4 bersaudara.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Organization