Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sosok Pelindung

Sosok Pelindung

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com/Jasmin Merdan)
Ilustrasi (123rf.com/Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Ia tak pernah mengeluh. Menjadi sosok yang tangguh. Melakukan ini dan itu, tanpa ragu. Dialah seorang yang biasa ku panggil Ibu.

Bagimu, pria dan wanita sama saja. Tidak ada yang membedakan selain fisik yang terlihat. Selama hal itu bisa kau kerjakan, gender bukanlah penghalang bagimu untuk tidak berusaha. Tidak ingin merepotkan orang lain mungkin menjadi alasan. Namun, kau terlalu mandiri, bahkan untuk dirimu sendiri.

Seringkali Ibu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan laki-laki seorang diri. Tanpa meminta bantuan, ia tidak pernah berkeluh kesah. Mulai dari mengganti bohlam lampu, sampai membetulkan atap ia lakukan sendiri. Prinsipnya, menjadi seorang wanita itu harus mandiri. Walaupun tidak ada laki-laki di rumah, semua masalah bisa terselesaikan tanpa harus bergantung kepada siapapun.

Satu waktu, motor yang aku kendarai ke kampus mogok. Aku langsung menghubungi Ibu, memberi tahu keadaanku. Ibuku memutuskan untuk pergi seorang diri ke kampusku mengendarai sepeda motor. Saat itu ayahku harus bekerja.

Langit sudah gelap gulita, akhirnya Ibu menyarankan untuk menarik motorku dengan tali tambang yang dikaitkan di antara motorku dan motor ibuku. Mesin motorku yang tidak mau menyala membuat ibuku kesulitan mengendarai motor yang posisinya ada di depanku.

Suara klakson dan teriakan dari pengendara lain yang tidak sabar akan kehadiran kami meramaikan sekelilingku. Melihat perlakuan mereka terhadap ibuku, aku hanya bisa terisak dalam tangis di balik kaca helmku. Mereka tidak mengerti susah payah yang kami rasakan sepanjang perjalanan. Apalagi ibuku, dengan jerih payahnya, ia bahkan hampir terjatuh, kehilangan keseimbangan. Tetapi, mereka begitu egois, hanya karena ingin sampai rumah dengan cepat, mereka seperti itu.

Jika ada yang menanyakan siapakah pahlawan bagiku, maka ia adalah ibuku. Ia bisa berganti posisi dari seorang Ibu dengan segala sisi kelembutannya, berubah menjadi selayaknya kepala rumah tangga yang bisa melindungi keluarganya.

Ibuku, ialah wanita tangguh yang sebenarnya. Mungkin sering kali ia merasa takut, namun di hadapan anak-anaknya, ia berusaha menutupi semua itu. Berubah menjadi sosok pemberani yang selalu berdiri melindungi. Tanpa mengeluh dan ragu ia selalu berusaha sebaik mungkin.

Ibu, walaupun kalimat itu tidak pernah terucap langsung dari mulutku, kau tahu pasti bahwa aku selalu mencintaimu. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, prodi Penerbitan (Jurnalistik). Bercita-cita menjadi seorang penulis dan editor, saat ini mulai menekuni bidang kepenulisan.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Organization