Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / IBUMU… Kemudian IBUMU… Kemudian IBUMU…

IBUMU… Kemudian IBUMU… Kemudian IBUMU…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi gendong ibu
ilustrasi gendong ibu

dakwatuna.com

Ibu…

Malaikat mulia tak bersayap itu nyawanya di ujung tanduk. Kontraksi rahimnya kian lama makin menyakitkan. Saat itu benar-benar pertaruhan hidup dan mati menanti sang buah hati tercinta, bahkan lebih rela anaknya yang selamat jika takdir Allah berkehendak “mengambil” salah satu di antara keduanya. Baginya saat itu adalah Jihad fii Sabilillah. Perobekan luas nan luka kronis berdarah-darah seolah sirna ketika mendengar tangis sang bayi. Ya… saat itulah kita muncul di pentas dunia. Ahlan wa Sahlan.

Ibu…

adalah Abdullah bin ‘Umar, putra Al-Faruq (‘Umar bin Khaththab) itu menyaksikan geliat penuh semangat seseorang yang menggendong ibunya yang telah berusia lanjut sembari thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah sudah lunas hutang budiku pada kebaikan-kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walau sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu”. Bayangkan, betapa tak kuasanya kita membalas kebaikan-kebaikan ibu kita walau sampai berjibaku memuliakannya. Betapa sukarnya kita menandingi ketulusan cintanya.

Ibu…

Mari sejenak berkaca pada kisah Ibunda Hajar (istri Nabi Ibrahim a.s). Bayi mungil bernama Isma’il itu meraung dalam tangisnya karena dahaga yang teramat sangat. Saat itu air susunya telah habis, terpaan panas dan badai padang pasir cadas menyergap mereka berdua, deru angin dan debu menerpa mereka. Di telisiknya ke segala penjuru ternyata tak ada sama sekali sumber mata air. Hajar pun rela berlari bolak-balik dari bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali hanya untuk mencari teguk air bagi buah hatinya. Walau kerikil-kerikil mencacah tapak kakinya. Sebuah pengorbanan yang tak tertandingi. Dengan kalimat yang paling saya ingat “Jika ini perintah Allah, maka sekali-kali tiada pernah Dia menyia-nyiakan kami”.

Ibu…

Ketika jatah makanan di rumah kita terbatas, sang Ibu berujar kepada anak-anaknya. “Makanlah dan habiskan makanannya wahai anak-anakku, kalian pasti sangat lapar”. “Bagaimana denganmu Ibu?”. “Tenang Nak, Ibu sama sekali tidak lapar”.

Ibu…

“Jika dalam usia sebelia ini mereka menjadi hafizh qur’an maka kami tak dapat membayangkan apa yang terjadi pada mereka 20 tahun kemudian, peradaban (yahudi) ini bisa hancur”.

Lihatlah, betapa pongahnya Israel melihat serdadu-serdadu mungil Palestina, betapa gentar dan ciutnya nyali mereka. Inilah yang menjadi sebab Zionis Israel Laknatullah menjadikan wanita dan anak-anak sebagai target pembabatan utama. Sebab sedikitpun mereka tak sudi, bila dari rahim Ibu-Ibu Palestina yang Shalihah lahir generasi Rabbani yang siap memporak-porandakan kebathilan dan mengembalikan kejayaan Islam.

Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, para sahabat, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in, dan para salafus shalih pernah mengkhusukan dan memerintahkan “pemuliaan ibu” pada hari tertentu saja? Ternyata tidak, karena sejatinya kemuliaanmu wahai ibu, bukanlah pada hari ini saja. Engkau berhak mendapatkan perlakuan istimewa, perkataan baik nan penuh hikmah, senyuman termanis, sambutan dengan wajah berbinar, dan dekap pelukan terhangat tiap harinya.

Ibu…

Bahkan bila seandainya hari ini (tanggal 22 Desember) tak pernah ada, bagiku seluruh hari adalah harimu. Momentum 22 Desember 2014 ini mudah-mudahan menjadi “sentilan” bagi gelayut hati kita agar memaknai pentingnya Birrul Walidain beserta keutamaan dan pahala yang terselip di dalamnya.

Ibu…

Maafkan kami yang selama ini mengaklaim diri kami terlalu sibuk sebagai Mahasiswa hingga tak ada waktu menengokmu melalui pelupuk mata ini. Hati kami sebenarnya menyeruak, dihantui perasaan dosa besar tatkala melihat bulir-bulir air matamu yang berjatuhan disebabkan karena kedurhakaan kami. Dering telepon milik Ibu kita berdering. Oh.. betapa senangnya saat itu sang Ibu menyambut anaknya yang telah jauh merantau, meskipun hanya melalui telepon seluler. Kerinduan membuncah Ibu yang telah lama terbelenggu, pupus sudah dengan menyibaknya perkataan sang anak “Bu, apa uangnya sudah dikirim ke rekening?” .

Ibu…

Jika kelak Ibu kita telah lanjut usianya, janganlah sekali-kali engkau mencelanya karena seringnya BAK dan BAB di celana. Bukankah dulu kita sangat sering mengganggu tidur lelapnya di tengah malam? Saat itu kita hanya bisa merengek meminta ganti popok karena tidak nyamannya lagi kondisi popok kita yang penuh kotoran.

Jika kelak Ibu kita telah lanjut usianya, janganlah sekali-kali engkau merendahkannya karena seringnya “pikun”. Bukankah dulu dia telah mengajari kita nama-nama benda di sekitar? Bahkan seringnya kita kembali bertanya. “Ibu, itu apa?”. “Itu kucing nak” (senyumnya menyejukkan kita). Saat melihat kucing yang warna dan jenisnya berbeda kita bertanya kembali, “Ibu, itu apa?”. “Sama anakku sayang, itu kucing” (sambil menggendong dan menimang-nimang kita).

Jika kelak Ibu kita telah lanjut usianya, janganlah sekali-kali geram ketika suapan nasi dari kita sering dimuntahkan tatkala dia sakit. Bukankah dulu kita juga sering memuntahkan bubur ketika didulang makan?

Jika kelak Ibu kita telah lanjut usianya, janganlah sekali-kali terselip niat untuk meng-hijrahkannya ke Panti Jompo dengan dalih “kehadiranmu sudah terlalu merepotkan dan mengusik kenyamanan istri dan anak-anakku”. Bukankah dulu kita jauh lebih sering merepotkannya? Pagi hari sebelum berangkat sekolah berlaku layaknya raja minta dibuatkan sarapan, siang hari ketika sudah pulang kita selalu meletakkan kaos kaki dan baju sembarangan, kita enggan merapikan tempat tidur kita, mencuci baju kita, menjahit baju kita. Kita sering tak pamit jika keluar rumah. Betapa seringnya kita menadah uang darinya namun berkhianat dengan berpesta pora di malam minggu ria, bahkan sampai menggandeng “wanita” lain atas nama cinta. Lelaki Mukmin sejati kok ngajak pacaran?? (afwan, sedikit keluar dari tema, hehe).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Ku lah kembalimu.“ (Surah Luqman: 14).

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Surah Al-Israa: 23).

Mari kita do’akan Ibu kita selalu, Allahummaghfirlii wa li waa lidayya warhamhumaa kamaa Rabbayaani Shaghira. InsyaAllah menjadi manifestasi amalan yang tiada putus-putusnya.

Ya Allah, Maha Suci dan segala Puji hanya bagi-Mu

Aku bersyukur masih dapat melihat ibuku dan merasakan kasih-sayangnya hingga kini

Aku bersyukur masih mendengar nasihat dan “omelan-omelan” cintanya kepada anak yang masih kurang ajar ini

Ibumu… Kemudian Ibumu… Kemudian Ibumu…

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswa Universitas Negeri Malang angkatan 2014.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Organization