Home / Berita / Opini / Imbas Perhelatan 17-an Masa Kini

Imbas Perhelatan 17-an Masa Kini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Sisa-sisa perhelatan 17-an HUT RI ke-70. (Ilustrasi. (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo))
Sisa-sisa perhelatan 17-an HUT RI ke-70. (Ilustrasi. (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo))

dakwatuna.com – Merdeka..! Itulah kata yang sering terdengar saat bulan Agustus mulai beranjak. Bulan yang penuh dengan sejarah terutama bagi bangsa ini. Bangsa dengan banyak kisah di masa lalu. Mulai dari perjuangan merebut kemerdekaan hingga pasca merebut kemerdekaan, banyak kisah dari para leluhur mengenai para perjuangan, kisah heroik para pahlawan yang telah gugur di medan perang kala itu.

Banyak cara untuk memperingati bulan kemerdekaan, di antaranya ada yang mengadakan lomba-lomba yang bersifat menanamkan karakter dan hiburan masyarakat. Dari elemen masyarakat yang kecil hingga yang masyarakat yang besar, dari rakyat hingga pemangku kekuasaan. Dari tingkat kampung hingga tingkat pemerintahan.

Kegiatan tersebut tiap tahun diadakannya, saat bulan Agustus. Dan tak ketinggalan juga kegiatan di kecamatan Cibaliung tahun ini. Turut menyedot perhatian masyarakat sekitarnya, bahkan hingga ranah provinsi.

Bahkan di kegiatan di kecamatan Cibaliung ini, mulai di persiapkan dari 3 bulan sebelumnya. Dan hal yang lebih mencengangkan lagi, para penjual dan pembisnis dari manapun itu mulai mendirikan tenda sejak bulan Juli atau sekitar 3 minggu sebelum 17 Agustus.

Kegiatan ini, sudah menjadi buah bibir bagi masyarakat sekitar, karena pertandingan sepak bola yang memang menjadi primadona dalam acara tersebut. Dari berbagai daerah pun ikut meramaikan pertandingan sepak bola tersebut.

Agendanya sederhana sekali, hanya 3 minggu saja, namun imbas terhadap lingkungan sangat luar biasa hebatnya. Jalanan di hari-hari mendekati acara puncak yaitu 17 Agustus menjadi ramai dan sulit untuk melintasi jalanan yang biasa di lalui oleh kendaraan beroda baik roda dua maupun roda tiga. Bahkan bisa menimbulkan macet hingga berjam-jam lamanya. Apalagi saat acara puncak di tanggal 17 Agustus. Bisa pindah Jakarta ke kecamatan Cibaliung.

Sisa-sisa perhelatan 17-an HUT RI ke-70. (Ilustrasi. (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo))
Sisa-sisa perhelatan 17-an HUT RI ke-70. (Ilustrasi. (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo))

Kegiatan 17-an ini atau lebih dikenal dengan pesta rakyat merupakan ajang masyarakat untuk memasarkan barang dagangannya atau pun hanya sekedar untuk mencari hiburan, membeli barang-barang dan sekedar jalan-jalan saja. Sangat memberikan efek bagi masyarakat, bahkan pesta rakyat ini telah lama di tunggu oleh banyak masyarakat, hingga mereka rela menabung jauh-jauh hari sebelumnya untuk membeli barang saat pesta rakyat berlangsung, bahkan pesta rakyat ini mengalahkan hiruk pikuknya lebaran Idul Fitri.

Namun, itu semua berimbas pasca pesta rakyat. Sampah berserakan di mana-mana hingga merusak pemandangan mata. Bau busuk yang tak sedap mulai tercium di mana-mana, sampah yang di buang pemiliknya mulai merasuki dan menghancurkan pemandangan lingkungan yang hijau, tenda-tenda hilang bagai di tiup angin puting beliung.

Inilah dampak miris dari pesta rakyat yang selalu di agung-agungkan oleh masyarakat. Bisa di kata kenikmatan sesaat yang banyak mendapat mudharat. Sungguh di sayangkan, seandainya pengelolaannya di percantik, hingga tidak menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat itu sendiri. Semoga pelajaran di tahun ini dapat di ambil manfaatnya hingga tahun depan tak terulang hal yang sama. Aamiin.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Rumah Zakat Pelopori Bank Sampah di Tegal

Organization