Home / Berita / Opini / Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan yang Memerdekakan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ist)
Ilustrasi. (ist)

dakwatuna.com – Genap tujuh puluh tahun sudah indonesia merdeka, Indonesia pernah menorehkan catatan gemilang dalam dunia pendidikan. Dengan kondisi negara yang terdiri tak kurang dari tujuh belas ribu pulau, indonesia telah berhasil mengentaskan buta aksara warganya dari yang waktu merdeka hanya kisaran 1% masyarakat mengenal aksara berbalik menjadi mayoritas warganya telah mampu mengenal aksara. Prestasi lain yang juga patut dicatat dalam kemerdekaan ini adalah kita mampu menyiapkan guru mengajar hingga malaysia. Tapi prestasi itu seolah kendor dengan kenyataan kekinian bahwa saat ini Indeks pembangunan Manusia (IPM) menurut UNDP pada tahun 2011 indonesia berada diurutan 124 dari 187 negara dengan skor 0, 617. Dikawasan asean indonesia hanya unggul dari vietnam, laos, kamboja, myanmar.sedang malaysia berada di tingkat ketiga Asean dengan skor 0,761.

Upaya yang kemudian ditempuh dalam dunia pendidikan antara lain pendidikan dasar digratiskan dengan adanya dana bantuan operasional sekolah (BOS). Kualitas guru dijamin dengan adanya program sertifikasi. Guru harus memiliki kualifikasi SI dan bersertifikat profesional. Serta tentu untuk memperbaiki kualitas dunia pendidikan yang akan menghasilkan manusia indonesia di masa depan juga dilakukan dengan perbaikan kurikulum. Yang kemudian digulirkan kurikulum 2013. Apa daya gayung tidak bersambut, program sertifikasi yang diharapkan menghasilkan guru yang profesional siap menghadapi perubahan justru tidak siap dengan adanya pemberlakuan kurikulum baru. Penerapan kurikulum 2013 telah dilakukan bertahap dimulai dari kelas satu dan empat berurutan hingga pada tahun ketiga semua kelas telah menerapkan kurikulum ditunda dibeberapa daerah dan hingga kini masih belum jelas nasibnya.

Penundaan pelaksanaan kurikulum ini tidak hanya akan berdampak pada masa kekinian, akan tetapi juga di masa depan, terhadap para siswa lulusan. Kualitas guru perlu kembali ditingkatkan kualitasnya. Bagaimanapun guru adalah ujung tombak dari pemberlakuan kurikulum tersebut. ibarat kata percuma memiliki alat yang baru akan tetapi tetap memakai cara lama. Kurikulum boleh baru tapi guru masih seperti yang dulu. Harapan dari kurikulum baru ini tak lain adalah pembentukan generasi yang lebih baik. Penerapan kurikulum 2013 untuk tingkat pendidikan dasar dengan pembelajaran tematiknya lebih memungkinkan perkembangan potensi anak didik. Mendekatkan materi dengan lingkungan juga meningkatkan kecerdasan. Anak dengan tipe auditory, visual dan psikomotor menjadi terakomodir dan terkembangkan sesuai dengan kecerdasannya.

Dan memang semestinya begitu pendidikan, memerdekakan anak didik untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang telah dimiliki, bukan menumbangkan potensi yang dimiliki dan memaksa menanam lain yang belum tentu sesuai dengan masa depan peserta didik. Kurikulum 2013 bukan kurikulum yang terbaik. Tiap kurikulum perlu ada koreksi untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman. Di antara semua kurikulum yang telah disusun, kurikulum inilah yang paling memerdekaan peserta didik utamanya pendidikan dasar. Sebelum nanti kurikulum akan mengerucut tidak hanya mengakomodir potensi peserta didik tapi benar benar kurikulum yang khusus bagi tiap peserta didik. Kurikulum yang memerdekaan. Jikalau kemudian guru masih belum juga siap dengan berbagai perubahan diluar kelas yang lebih cepat, maka peningkatan IPM Indonesia semakin sulit untuk dapat diwujudkan.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Anak bungsu dari keluarga sederhana dan senang dengan petualangan yang menantang.

Lihat Juga

Tradisi Ilmu dan Pendidikan antara Islam dan Barat

Organization