Home / Berita / Internasional / Asia / Kemesraan Saudi dan AS Terancam akibat Menghilangnya Khashoggi

Kemesraan Saudi dan AS Terancam akibat Menghilangnya Khashoggi

Presiden Amerika Serikat dan Putra Mahkota Arab Saudi. (Aljazeera.net)
dakwatuna.com – Washington. Menghilangnya jurnalis asal Saudi Jamal Khashoggi mengancam salah satu kemitraan paling penting antara Arab Saudi Amerika Serikat (AS).

Setidaknya, kemesraan dua negara terancam dalam hal kerja sama keamanan seperti penjualan senjata untuk Saudi yang dbatasi, pemberantasan ISIS, bantuan militer Saudi untuk di Suriah, dan informasi penting tentang terorisme yang dibutuhkan masing-masing negara.

Menurut Messi Rian dalam tulisannya di Washington Post, apa yang terjadi pada Khashoggi memicu gelombang kritik terhadap Arab Saudi.

Seorang anggota Kongres AS telah mendesak negaranya untuk menghentikan penjualan senjata kepada Saudi. Sementara Senator Demokrat Dianne Feinstein menyebut tiba saatnya bagi AS untuk meninjau ulang hubungannya dengan Riyadh.

Rian menambahkan, sejak peristiwa 11 Setember 2001, Saudi memainkan peran penting dalam upaya AS untuk memberantas terorisme. Saudi juga dinilai memberi informasi berharga kepada AS tentang ancaman teroris baik secara umum maupun yang secara khusus mengancam Washington.

Terkait penjualan senjata, Rian menyebut semasa pemerintahan Donald Trump saja, AS berhasil mendapatkan uang sebesar 14,5 miliar dolar dari penjualan senjata ke Riyadh. Menghentikan penjualan senjata ke Saudi, jelas menjadi ancaman bagi produksi senjata itu sendiri. Penjualan senjata ke Saudi jauh lebih besar daripada penjualan ke Israel maupun Mesir.

Pembekalan Saudi dengan persenjataan juga bukan hanya bertujuan untuk memperkuat kemampuan tempurnya. Lebih dari itu, Saudi juga bertujuan memperdalam hubungan politik dengan negara penghasil senjata seperti AS.

Namun begitu, meskipun membeli senjata dalam jumlah besar, Saudi bukan sekutu militer terpenting AS di Dunia Arab. Ini karena pembelian itu tidak menjelma menjadi kemampuan tempur praktis, seperti halnya dengan UEA, Yordania dan Irak yang menjadi “mitra lahan taktis” kesukaan AS. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi