Home / Berita / Internasional / Amerika / Imigran Muslim, Akankah Mengubah Wajah Barat di Masa Depan?

Imigran Muslim, Akankah Mengubah Wajah Barat di Masa Depan?

AS cabut larangan masuk imigran dari 11 negara. (aljazeera.net)
dakwatuna.com – Washington. Penulis Eric Kofman berbicara tentang migras dan dampaknya di masa mendatan. Ia mengatakan, kebangkitan populisme sayap kanan di Barat telah menjadi fakta saat ini.

Lebih lanjut menurut Kofman, migrasi dari negara-negara Islam ke dunia Barat memainkan peran penting dalam menentukan masa depan politik di Eropa maupun Amerika. Maka dari itu, migrasi menjadi pokok bahasan khusus bagi partai-partai ekstrem kanan.

Hal itu disampaikan Kofman melalui tulisannya di majalah Foreign Policy. Ia menyebutkan, akhir-akhir ini di Amerika dan Eropa muncul partai-partai dengan aksi institusional. Para kandidat meraih kemenangan elektoral secara mengejutkan. Mereka mempromosikan diri sebagai pembela negara dari ancaman dari pihak asing maupun elite yang korup.

Kejutan paling besar terhadap dunia, imbuh Kofman, adalah keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS. Dua hal ini merupakan manifestasi dari kecenderungan di atas.

Kofman menjelaskan, budaya dan identitas berada di posisi pertama dalam hal populisme. Ini dapat dilihat dari ketakutan para pemilih kulit putih di Barat bahwa budaya dan identitas mereka terancam.

Sementara gelombang populisme dimulai dengan pemilu Parlemen Eropa tahun 2014 silam. Saat itu muncul partai-partai seperti Partai Rakyat Denmark, Front Nasional Prancis, Partai Kemerdekaan Inggris, dan lainnya, yang bertepatan dengan meningkatnya imigran dari Afghanistan, Irak dan Suriah yang memasuki wilayah Eropa.

Kemudian pada tahun 2015, terjadilah krisis migran. Tahun itu, lebih dari satu juta imigran dan pengungsi – sebagian besar dari negara Islam – memasuki Eropa.

Krisis migran ini menjadi anugerah bagi para pemimpin populis ultra-kanan. Pada tahun yang sama, kandidat partai Republik AS, Donald Trump, menggunakan retorika yang sangat keras kepada pengungsi Suriah. bahkan ia berjanji menutup secara penuh imigran Muslim.

Tahun berikutnya, 2016, giliran pimpinan Partai Kemerdekaan Inggris memainkan isu ini. Ia menggunakan isu pengungsi dan imigran sebagai peringatan bagi warga Inggris jika negara mereka gagal keluar dari UE.

Partai-partai populis kanan di seluruh Eropa mendapat rekor perolehan suara. Bahkan mereka mampu membuat pihak-pihak moderat untuk berurusan langsung dengan isu imigran dan Islam. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kesaksian Warga Desa Kamboja Hempaskan Megaproyek Cina (Bagian 1)

Organization