Home / Berita / Internasional / Asia / Gedung Putih Tampak Belum Puas ‘Mengerjai’ Turki

Gedung Putih Tampak Belum Puas ‘Mengerjai’ Turki

Lira Turki tampak pulih dari keterpurukan di hadapan dolar AS. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Washington. Gedung Putih menyayangkan sanksi balasan yang diumumkan Ankara kepada Washington pada Rabu (15/08) lalu. Amerika Serikat juga kembali mengultimatum agar Turki membebaskan Pastor Andrew Brunson dengan segera.

“Bea Cukai Turki sangat disayangkan dan itu tindakan yang salah,” kata Sarah Sanders, Jubir Gedung Putih, dilansir dari Aljazeera, Jumat (17/08).

Sebaliknya, Sanders menyebut bea cukai AS kepada Turki berasal dari kepentingan keamanan nasional. Sementara bea cukai Turki merupakan balas dendam, imbuhnya.

Sanders mengungkapkan penyesalannya “karena Turki memperlakukan Pastor Brunson dengan cara yang sangat tidak adil dan buruk”. Berulang kali Sanders mengatakan, “(Brunson) pribadi yang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan.”

Lebih lanjut Sanders menjelaskan, bea cukai negaranya kepada Turki akan tetap berlaku. “Meski Pastor telah dibebaskan sekalipun.”

Selain itu, Sanders juga menyebut negaranya senantiasa mengikuti perkembangan. Menurutnya, krisis lira Turki bukan sebab keputusan dari Washington.

Sebelumnya, Turki menaikkan bea cukai terhadap sejumlah produk dari Amerika Serikat, termasuk barang-barang seperti mobil, alkohol dan tembakau. Hal ini sebagai lanjutan dari krisis diplomatik kedua negara.

Lira Menguat

Selama beberapa pekan terakhir, mata uang Turki anjlok ke titik terendah di hadapan AS. Hal ini membuat perekonomian Turki maupun pasar global cukup terguncang.

Berbagai langkah dilakukan oleh pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengatasi hal tersebut. Sementara negara-negara sahabat juga tampak menunjukkan dukungan kepada Turki, salah satunya Qatar.

Pada Rabu (15/08) lalu, Emir Qatar Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani bertolak ke Ankara untuk bertemu dengan Erdogan. Dalam pertemuan tersebut, Qatar memberikan paket bantuan senilai 15 milyar dolar dalam bentuk deposito dan investasi.

Dilansir dari The Guardian, para pengamat meyakini langkah itu akan membantu Turki keluar dari krisis. Namun, dalam jangka panjang, banyak investor akan mencari langkah-langkah konvensional seperti kenaikan suku bunga.

Setelah berhari-hari dalam keterpurukan, lira Turki berangsur pulih. Pada Kamis (16/08) kemarin, lira tercatat menguat 5 persen, dan bertengger di sekitar 6 lira untuk satu dolar. Cukup baik dibanding awal pekan ini yang mencapai 7 lira untuk satu dolarnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Mahathir Muhammad Kritik Kebijakan Trump