Home / Berita / Internasional / Asia / ‘Rasa Sakit dan Penderitaan’: Ketika Gaza Berduka atas Gugurnya Ibu Hamil dan Balita

‘Rasa Sakit dan Penderitaan’: Ketika Gaza Berduka atas Gugurnya Ibu Hamil dan Balita

Pelayat yang menghadiri pemakaman Inas Abu Khmash. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Jalur Gaza. Ratusan pelayat menghadiri pemakaman Inas Abu Khmash, dan putrinya yang masih berusia 18 bulan, Bayan. Inas adalah seorang ibu hamil berusia 23 tahun yang gugur dalam serangan brutal Israel ke Gaza baru-baru ini.

Pada Kamis kemarin, Militer Israel mengatakan telah menyerang sekita 140 situs di berbagai wilayah Gaza. Serangan dilakukan sebagai balasan untuk 150 rudal yang ditembakkan dari Gaza, dan melukai enam warga Israel.

Ketegangan terjadi ketika PBB dan Mesir tengah berusaha mengamankan kesekapatan Hamas-Israel tentang gencatan senjata jangka panjang. Kemudian, pejabat Hamas menyebut kesepakatan yang diperantarai Mesir telah dicapai.

Serangan brutal Israel berlangsung selama dua hari berturut-turut sejak Rabu (08/08) sore, hingga gencatan senjata yang berlaku mulai Kamis (09/08) pukul 10:45 waktu setempat.

Setidaknya 18 warga Palestina terluka setelah sebuah gedung di Gaza runtuh akibat serangan Israel.

Adegan ‘mengejutkan’

Salah satu daerah yang menjadi target serangan Israel semalaman adalah Deir al-Balah. Di sanalah Inas – yang tengah hamil hampir sembilan bulan, suaminya Muhammad dan Bayan tinggal sejak April 2017 lalu.

Pada hari Rabu, keluarga kecil itu memilih untuk tidur di ruang tamu dengan balkon menghadap ke taman kecil. Ruangan itu dinilai lebih sejuk selama musim panas yang menyengat. Sementara listrik untuk pendingin ruangan, sama sekali tidak ada.

Sekitar pukul 2 pagi, dua ledakan keras terdengar, kata tetangga mereka kepada Aljazeera.

“Segera setelah mendengarnya, aku tahu bahwa serangan itu ditujukan ke rumah Muhammad,” kata Khalid Abu Sanjar, salah satu dari sejumlah tetangga yang bergegas ke tempat kejadian.

Para saksi menyebut pemandangan yang mereka lihat setelah itu sangat ‘mengejutkan’. Serangan itu mengoyak ruang tamu, dan menghancurkan ujung apartemen keluarga tersebut.

“Darah ada di mana-mana,” kata Sanjar. “Kami sangat terguncang.”

“Kami melihat potongan tubuh Inas dan Bayan, menghubungi ambulan dan mulai mengumpulkan bagian-bagian tubuh mereka,” lanjutnya.

Sanjar mengatakan, Muhammad masih terus berteriak ketika bantuan tiba.

Menurut Ashraf al-Qidra, jubir pelayanan kesehatan di Gaza, Muhammad mengalami luka serius di kepala dan bagian tubuh lainnya.

“Muhammad mengatakan, kepalanya terbanting ke langit-langit dan kemudian jatuh ke lantai karena intensitas serangan,” kata saudaranya, Kamal yang bergegas ke rumah Muhammad setelah diberi informasi dari tetangga.

Pria 30 tahun itu masih dirawat di rumah sakit setempat. Ia bahkan masih belum mengetahui nasib keluarganya.

‘Ia hanya tidur’

Di dalam apartemen, semua yang tersisa hanya reruntuhan, perabot rumah tangga yang rusak dan dinding-dinding berlumuran darah. Mainan dan boneka tertutup puing-puing bangunan. Boks Bayan masih tampak utuh. Di dalamnya, ada sepasang sepatu kecil.

“Kakakku hanya tidur, tapi mengapa ia harus meninggal seperti ini,” adik Inas yang masih berusia 19 tahun, Iman.

Iman mengatakan, semua yang diinginkan Inas hanya ‘bekerja keras’ untuk memastikan masa depan cerah untuk keluarga dan anak-anaknya.

Inas dan Iman menghabiskan waktu bersama dalam beberapa pekan terakhir. Mereka sibuk memilih pakaian bayi baru untuk putri kedua Inas yang akan diberi nama Razan.

“Aku tak bisa memahami ini. Aku berharap tentara (Israel) yang menembak kakak dan keponakanku bisa merasakan apa yang aku rasa,” kata Iman.

“Aku ingin ia merasakan rasa sakit dan penderitaan yang harus aku hadapi sekarang.”

Setidaknya 12 warga Palestina, termasuk anak-anak, terluka dalam serangan malam itu. Ali Youssef al-Ghandour, anggota sayap militer Hamas berusia 30 tahun, juga gugur dalam serangan pada Rabu tersebut. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Sejumlah Negara Beri Dukungan untuk Lira Turki

Organization