Home / Berita / Internasional / Asia / Segala yang Perlu Diketahui Tentang Pemilu Turki Mendatang

Segala yang Perlu Diketahui Tentang Pemilu Turki Mendatang

Pemilu Turki akan digelar pada 24 Juni mendatang. (Anadolu)
dakwatuna.com – Ankara. Rakyat Turki akan memberikan suaranya pada pemilihan legislatif dan presiden tanggal 24 Juni mendatang. Itu juga menjadi awal berlakunya sistem presidensial di negara tersebut.

Sebelumnya, 16 April 2017 lalu Turki menggelar referendum perubahan konstitusi. Poin yang paling penting adalah soal perubahan sistem pemerintahan dari parlementer menjadi presidensial.

Sejatinya pemilu baru akan digelar pada November 2019 mendatang. Namun secara tiba-tiba Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan percepatan pemilu. Isu keamanan regional disebut-sebut sebagai alasan kuat dari keputusan tersebut.
Sistem Baru

Berdasarkan konstitusi baru, jumlah kursi di parlemen akan ditambah dari 550 menjadi 600, pemilihan parlemen dan presiden akan digelar setiap lima tahun, dan presiden tidak dapat dihentikan oleh partainya.

Presiden memiliki kewenangan untuk mengangkat dan memberhentikan wakil presiden serta para menteri.

Presiden juga diberi hak untuk mengeluarkan dekrit presiden.

Parlemen dapat memutuskan digelarnya pemilihan kembali dengan mayoritas tiga-perlima suara. presiden hanya dibatasi pada dua periode, namun apabila tiga-perlima parlemen menghendaki, presiden dapat dipilih kembali untuk periode ketiga.

Dalam sistem baru ini, rakyat berusia minimal 18 tahun sudah dapat mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. Sebelumnya, usia minimal pencalonan adalah 25 tahun.

Jika tidak terdapat kandidat presiden yang mendapat suara mayoritas, pemilihan putaran kedua akan digelar pada 8 Juli dengan dua kandidat teratas.

Kandidat Presiden

Recep Tayyip Erdogan, 64 – presiden Turki pertama yang dipilih langsung – telah menjabat sejak 2014. Sebelumnya ia menjabat sebagai perdana menteri sejak 2003 hingga 2014.

Erdogan berjanji mengubah Turki menjadi negara berpenghasilan paling tinggi, menjadikan Turki negara pengekspor utama, serta meningkatkan partisipasi tenaga kerja wanita.

Muharrem Ince, 54, mantan dosen fisika, merupakan anggota parlemen dari Partai Rakyat Republik (CHP) di provinsi Yalova sejak 2002.

Ince menjabat sebagai wakil ketua fraksi CHP antara 2010 dan 2014. Ia pernah bersaing melawan Kemal Kilicdaroglu menjadi ketua CHP, namun kalah.

Kebijakan luar negeri yang damai dan berorientasi keamanan, ekonomi yang berpusat pada produksi dan distribusi, sistem parlementer berdasarkan pada pemisahan kekuatan, menjadi bagian dari janji-janji Ince.

Meral Aksener, 61, mantan menteri dalam negeri dan wakil jubir parlemen. Tahun 2016 ia keluar dari Partai Gerakan Nasional, setelah kalah dalam persaingan ketua partai melawan Devlet Bahceli.
Tahun 2017 ia mendirikan Partai Baik (IyI).

Peningkatan ekonomi dan kembali pada sistem parlementer menjadi dua janji dari Aksener.

Selahattin Demirtas, 45, pernah memimpin Partai Rakyat Demokratis (HDP) pada tahun 2014 hingga 2018. Saat ini ia mendekam dalam penjara karena dituduh terkait dengan Partai Pekerja Kurdi (PKK) teroris.

November 2016 lalu, Demirtas bersama 12 anggota parlemen HDP lainnya ditangkap dengan tuduhan terkait teror. Ia tetap dalam tahanan sambil menunggu persidangan.

Jika terpilih, ia berjanji akan membagi kekuasaan presiden dengan parlemen. Tujuannya agar teradopsi pendekatan ekonomi yang memprioritaskan kebutuhan sosial. Ia juga mempromosikan parlemen yang terbuka.

Dogu Perincek dari Partai Patriotik sayap kiri dan Temel Karamollaoglu dari Partai Saadet juga akan turut dalam persaingan presiden.

Lebih 3 Juta Pemilih Luar Negeri

Komisi Pemilihan Turki mengatakan, 59, 39 juta rakyat Turki akan memberikan suaranya pada 24 Juni nanti. Jumlah itu termasuk lebih dari tiga juta pemilih dari luar negeri.

Diaspora Turki dapat memilih dalam periode 13 hari, dimulai tanggal 7 hingga 19 Juni.

Pemungutan suara di gerbang bea cukai juga dimulai pada 7 Juni hingga hari H pada 24 Juni.

Sebanyak 3.160 bilik suara didirikan di 123 misi diplomatik Turki. Serta 180.065 bilik suara akan disebar di 81 provinsi Turki. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Benarkah Erdogan Minta Bantuan Ekonomi ke Merkel? Ini Jawaban Menteri Jerman