Home / Berita / Internasional / Asia / Sikap Negara-negara Tanggapi Rencana Serangan AS ke Suriah

Sikap Negara-negara Tanggapi Rencana Serangan AS ke Suriah

Cuitan Trump di Twitter. (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Damaskus. Ancaman serangan Amerika Serikat ke Suriah yang dilontarkan Presiden Donald Trump memicu tanggapan dari banyak negara. meski belum dipastikan kapan serangan akan dilakukan, namun Trump telah menegaskan hal itu bisa terjadi kapan saja.

Melalui unggahan di akun twitter pribadinya, Trump menyebut rencana serangan ke Suriah belum final. Namun ia menyebut segala kemungkinan masih bisa terjadi.

“Kami belum membicarakan kapan serangan ke Suriah akan dilancarkan,” tulis Trump, seperti dilansir Aljazeera.net, Kamis (12/04/2018). “Serangan bisa saja sangat dekat, atau bisa pula tidak dilakukan sama sekali.”

Dalam unggahan yang sama, Trump mengklaim pemerintahannya telah melakukan hal besar yaitu memberantas ISIS dari kawasan. Ia pun mempertanyakan sepinya apresiasi terhadap hal itu.

“Bagaimanapun, AS di bawah pemerintahanku telah melakukan hal besar yaitu membersihkan Kawasan dari ISIS. Mana terima kasih untuk AS?” imbuh Trump.

Sementara di Eropa, media massa memuat pernyataan Kanselir Jerman yang enggan bergabung dengan AS untuk menyerang  Suriah. Menurutnya, lebih baik baik semua pihak untuk menahan diri.

“Sangat penting kita menunjukkan persatuan terhadap Suriah, dan sangat sulit melakukan sesuatu,” kata Merkel. “Tampaknya sangat jelas bahwa Damaskus tidak menghancurkan persediaan senjata kimianya.”

Sementara Menlu Jerman Heiko Maas mengaku negaranya belum menerima ajakan untuk penyerangan Suriah.

“Kami belum menerima permintaan apapun dari Washington maupun Paris untuk bergabung dalam penyerangan ke Suriah,” katanya. Maas juga menyarankan agar segala tindakan dimusyawarahkan terlebih dahulu, termasuk dengan Berlin.

Sedangkan Presiden Prancis Emmanuel Macron bersikukuh punya dalil penggunaan senjata kimia oleh pasukan rezim Suriah saat menyerang Douma. Macron memastikan bahwa respon balasan akan segera diambil, namun ia menolak segala tindakan yang memperkeruh situasi di Kawasan.

Dari London, PM Inggris Theresa May menegaskan pentingnya membalas serangan kimia rezim Suriah tersebut. Pemberitaan menyebutkan, tampaknya Inggris akan bergabung dengan AS dan Prancis tanpa minta persetujuan dari parlemen.

Peta pangkalan udara di Suriah. (Aljazeera.net)

Hindari Konfrontasi

Rencana serangan Washington ke Suriah tentu mengusi Rusia sebagai penyokong utama rezim Suriah. Banyak pihak memprediksi, serangan Washington nantinya akan menjadi pintu konfrontasi langsung antara AS dan Rusia.

Kekhawatiran tersebut ditepis oleh Jubir Kremlin Dmitry Peskov. Ia menyebutkan, komunikasi pasukan Washington dan Moskow terus terjalin. Hal ini untuk menghindari konfrontasi langsung antara kedua pihak.

Kepada awak media Peskov menambahkan, pihaknya senantiasa mengikuti perkembangan yang akan diambil Washington. Namun, katanya, Moskow berharap semua pihak tidak mengambil tindakan yang menambah ketegangan di Suriah dan Kawasan.

Ancaman AS tak luput dari perhatian Presiden Suriah, Bashar Assad. Menurutnya, pergerakan negara-negara Barat hanya akan meningkatkan instabilitas di Kawasan.

Assad menambahkan, Barat meninggikan suara dan menunjukkan pergerakan hanya untuk mengubah fakta yang terjadi di Suriah. Hal ini ia sampaikan saat bertemu dengan Ali Akbar Velayati, Penasihat Urusan Internasional Iran.

Turki Terganggu

Di sisi lain, Turki merasa terganggu dengan perubahan drastis di lapangan Suriah. “Kami merasa terganggu melihat Suriah menjadi medan konfrontasi negara-negara pemilik kekuatan militer,” kata Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Erdogan menyebutkan, dirinya telah berbicara dengan Trump beberapa waktu lalu, dan akan berbicara dengan Putin terkait hal ini.

Lebih lanjut Erdogan menyebut tidak ada yang berhak memuntahkan peluru di kawasan Mediterania maupun Suriah. “Mereka yang mendukung pembunuh (Bashar Assad) salah, dan yang mendukung milisi Kurdi juga salah,” tegas Erdogan. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Turki Akan Memasuki Fase Baru Pasca Pemilu 24 Juni