Topic
Home / Berita / Internasional / Asia / Operasi Militer Turki di Afrin, Pilihan Sulit Bagi Washington

Operasi Militer Turki di Afrin, Pilihan Sulit Bagi Washington

Operasi Militer Turki memberantas teroris di Suriah. (Aljazeera.net)

dakwatuna.com – Washington. Pertempuran yang terjadi di kota Afrin, Utara Suriah, tampaknya menjadi sengatan baru terhadap ketegangan di Timur Tengah. Hal ini disebabkan karena ada dua sekutu Washington yang saling berhadapan senjata. Mereka adalah Turki sebagai sekutu AS di NATO, serta milisi Kurdistan yang menjadi perpanjangan AS dalam memerangi ISIS.

Program ‘From Washington Aljazeera’ episode 26 Januari 2018, membahas tentang opsi-opsi yang dimiliki AS menghadapi operasi militer Turki tersebut.

Terkait pembahasan itu, Profesor Sejarah di Universitas Shawnee, Amr al-Azm mengatakan, pemerintah AS saat ini mewarisi kebijakan luar negeri terkait isu Suriah dari pemerintah sebelumnya. Ia menambahkan, Menlu Rex Tillerson belum menjelaskan bagaimana tujuan-tujuan AS dapat terwujud saat bertemu dengan Condoleezza Rice.

“Pertanyaan yang selalu terdengar adalah bagaimana tujuan-tujuan itu dapat terwujud? Sejauh ini belum ada kemajuan yang mengarah pada keterwujudan. Ditambah lagi dengan urgensi dan tekanan pada Turki yang diharuskan masuk ke Afrin untuk mengatasi masalah dengan (milisi) Kurdi,” lanjut al-Azm.

Masih menurut Al-Azm, sejauh ini belum ada solusi cepat dari pemerintah AS. Washinton, tambahnya, juga tidak menghadirkan inovasi atau sesuatu yang baru dalam hal tersebut.

Lebih lanjut, ia menyebut ujian sesungguhnya bagi pemerintahan Trump adalah Manbij. Terlebih Erdogan telah menginstruksikan untuk memberantas milisi Kurdi dari seluruh wilayah Barat Efrat.

Sementara itu, Wakil Presiden Institut Timur Tengah, Paul Salem menjelaskan, AS tidak bersama milisi Kurdi di Afrin dan juga tidak berkomitmen dengan keamanan dan masa depan Afrin. Dengan begitu, tambahnya, yang terjadi di sana tidak kontraproduktif dengan tujuan utama AS dan tidak berkaitan dengan sekutu kurdi mereka.

Salem menjelaskan, tujuan baru AS justru pada isu tekanan pada Iran dan meluasnya wilayah mereka di tengah Suriah yang mendekati zona Israel.

Masih menurut Salem, operasi militer Turki dilakukan atas persetujuan dan lampu hijau dari Rusia. Menurutnya, tindakan itu tidak ada kaitannya dengan Manbij atau wilayah dimana AS berada. Turki sangat berhati-hati, dan tidak akan bertindak tanpa izin dari Rusia atau AS, tambahnya. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Komunitas Muslim Jerman Minta Aparat Jaga Seluruh Masjid

Figure
Organization