Home / Berita / Internasional / Asia / DK PBB Gelar Pertemuan Bahas Situasi Terkini di Suriah

DK PBB Gelar Pertemuan Bahas Situasi Terkini di Suriah

Situasi Sidang DK PBB di New York (aljazeera.net)

dakwatuna.com – Paris. Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis, Jean-Yves Le Drian, mengumumkan bahwa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) akan menggelar pertemuan hari ini, Senin (22/01/2018). Menurutnya, pertemuan itu akan membahas situasi terkini di Suriah yang atas inisiasi negaranya.

Dilansir dari Aljazeera.net, Le Drian menambahkan, DK juga akan membicarakan soal operasi militer Turki di kota Afrin, Utara Suriah. Di sela-sela sebuah pertemuan, ia mengungkapkan kekhawatiran negaranya terkait operasi militer tersebut.

Lebih lanjut, Menlu Prancis juga memastikan akan mendesak DK PBB untuk mengkaji risiko kemanusiaan yang ditimbulkan. Selain itu, Paris menyerus agar segala pertempuran diakhiri dan dan memastikan distribusi bantuan kemanusiaan dapat masuk.

Sementara Menlu Turki, Mevlut Covusoglu mengecam keras tindakan Prancis tersebut. Menurutnya, negara yang menentang operasi militer Turki sama dengan mendukung terorisme.

Sebelumnya, baik Menlu Prancis maupun Turki sudah saling berbicara melalui saluran telepon. Pada kesempatan itu, Prancis menyeru Turki agar menahan diri. Prancis berdalih dengan sulitnya kondisi kemanusiaan di Suriah akibat operasi militer yang terjadi.

Operasi ‘Ranting Zaitun’ secara resmi diluncurkan oleh otoritas militer Turki pada Sabtu (21/01) sore waktu setempat. Sejauh ini, pihak militer mengklaim telah melakukan penyerangan terhadap 153 titik yang disinyalir milik organisasi teroris tersebut.

Militer Turki juga menyebut operasi Ranting Zaitun ini telah sesuai dengan hukum internasional dan resolusi DK PBB mengenai pemberantasan teroris. “Turki juga berhak membela diri sebagaimana dimaksud dalam pasal 51 Konvensi PBB dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah,” lanjutnya.

Tak ayal, tindakan Turki tersebut mengundang reaksi dari dunia internasional. Selain dari Prancis, Washington dan London juga menyarankan agar Turki meninjau ulang keputusannya dan menahan diri.

Rusia dan Iran

Sementara itu, Menlu Rusia Sergey Lavrov menyebutkan, operasi Turki merupakan reaksi dari tindakan Washington. Disebutkan, Washington diketahui mempersenjatai Pasukan Demokratik Suriah, yang termasuk di dalamnya milisi kurdistan.

Moskow juga mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap tindakan Turki. Di sisi lain, para pimpinan milisi Kurdistan menuding Rusia mendukung operasi Turki itu.

Sedangkan Menlu Iran Bahram Qassemi menyatakan, negaranya mengikuti perkembangan di perbatasan Suriah dengan penuh kekhawatiran. Teheran juga berharap Turki berkomitmen dengan rekomendasi-rekomendasi Perundingan Astana. (whc/dakwatuna)

Sumber: Aljazeera

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Palestina Bergabung dengan Konvensi Senjata Kimia

Organization