Home / Berita / Internasional / Asia / Operasi Militer ‘Ranting Zaitun’; Antara Dimensi Lapangan dan Politik

Operasi Militer ‘Ranting Zaitun’; Antara Dimensi Lapangan dan Politik

Militer Turki terus lakukan penguatan pasukan dalam operasi Ranting Zaitun di perbatasan Suriah. (aa.com.tr/ar)

dakwatuna.com – Ankara. Beberapa jam setelah pengumuman Presiden Recep Tayyip Erdogan terkait tindakan efektif di wilayah perbatasannya, militer Turki pun mengirimkan pesawat-pesawat tempurnya ke arah kota Afrin, Suriah. Operasi militer yang kemudian dikenal dengan Operasi ‘Ranting Zaitun’ itu diluncurkan 20 Januari lalu, tepat pukul 17:00 waktu setempat. Pihak Ankara meyakinkan dunia bahwa tujuannya hanya untuk memberantas organisasi teroris PKK/PYD.

Sehari setelahnya, PM Turki Binali Yildirim mengumumkan operasi darat. Menurutnya, ada empat fase yang akan dilalui pasukan. Pada kesempatan itu, ia kembali menegaskan bahwa tujuan operasi adalah membersihkan kota Afrin dari unsur-unsur teroris dan membentuk zona aman di sana.

Ada banyak hal yang dapat dilihat dari operasi tersebut berdasarkan dimensi lapangan. Namun yang terpenting, operasi itu masih sangat dini. Sehingga sulit untuk mengukur batasan wilayah dan waktu, serta sampai kapan tujuan akan dicapai. Terlebih operasi ini berhadapan dengan Pasukan Demokratik Suriah yang langsung dilindungi oleh Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, dimensi politik dari operasi militer ini juga tak kalah pentingnya. Pertama, operasi ini dilakukan di luar batas atau di wilayah negara lain. Kedua, adanya keberatan dari pihak-pihak penting dalam rekonsiliasi Suriah seperti AS, Prancis dan Iran, serta rezim Suriah sendiri. Ketiga, kompleksnya jaringan kepentingan dan aliansi dalam masalah Suriah.

Tampaknya, Turki harus bekerja berdasarkan jaringan pengamanan politik – diplomatik untuk pergerakan operasinya. Untuk itu, setidaknya ada empat pilar utama yaitu:

  1. Legitimasi Tindakan. Sejauh ini, Turki hanya bernarasi pada hak negara dalam membela diri dari ancaman organisasi teroris. Penentuan nama ‘Ranting Zaitun’ juga mengisyaratkan bahwa itu merupakan tindakan damai yang bertujuan membebaskan penduduk dari kontrol teroris. Selain itu, bergabungnya FSA (Tentara Pembebasan Suriah) sebagai pasukan internal Suriah ke dalam operasi Turki juga membantah tuduhan intervensi atau penjajahan.
  2. Perkuat Dukungan Internal. Hal kedua adalah Turki harus memperkuat dukungan dari partai-partai oposisi yang ada di parlemen. Sejauh ini, dukungan telah diperoleh dari Partai CHP (oposisi terbesar) dan Partai MHP. Selain itu, Turki juga harus mengundang dukungan lebih luas lagi dari rakyat, yang dapat dilihat dari doa bersama di seluruh masjid yang ada di Turki.
  3. Kesepahaman dengan Rusia. Tidak bisa dibayangkan jika tindakan berani dan berbahaya Turki itu terhadi tanpa adanya kesepakatan dengan Rusia. Hal ini bukan hanya karena Rusia yang punya kontrol terhadap langit Rusia. Lebih dari itu, Moskow juga memiliki pasukan di wilayah Afrin.
  • Sejauh ini, memang belum ada pengumuman resmi dari Rusia yang mendukung dengan terang operasi ini. Namun ada beberapa indikator yang menunjukkan kesepakatan Moskow; seperti penarikan pasukan dari Afrin, tidak menghambat pesawat-pesawat tempur Turki, serta pernyataan Menlu Rusia yang menuntut pertanggungjawaban dari Washington, bukan Ankara.
  1. Berkomunikasi dengan Berbagai Pihak. Ankara mengklaim, pihaknya menyampaikan pemberitahuan operasi kepada rezim Suriah secara tertulis dan disampaikan melalui Rusia. Selain itu, pimpinan militer AS juga menyampaikan hal yang sama bahwa ada pemberitahuan dari Ankara sebelum operasi dilancarkan. Bahkan, beberapa jam sebelum operasi dimulai, Kepala Staf Militer dan Intelijen Turki berkunjung ke Moskow. Lebih dari itu, Turki juga menyampaikan hal yang sama kepada negara-negara tetangga Suriah, UE dan anggota DK PBB melalui Kemenlu-nya.

Empat pilar pengamanan politik-diplomatik itu tampaknya dapat mengamankan operasi militer Turki pada tahap ini. Namun itu bukan jaminan bahwa operasi akan berjalan mulus ke depannya. Operasi ‘Ranting Zaitun’ masih sangat dini. Sementara sikap berbagai pihak sangat terbuka untuk berubah.

Tampaknya, kesepahaman tentang keamanan wilayah Turki dengan Rusia menjadi poin yang sangat penting. Sehingga diharapkan, Rusia tidak mengubah sikapnya dengan mendesak Turki agar mengakhiri operasi di masa yang akan datang. Meski sejauh ini Moskow belum secara terang mendukung tindakan Turki tersebut.

Di sisi lain, manuver Prancis melalui DK PBB cukup mengkhawatirkan bagi Ankara. Hal itu karena dapat menjadi pintu bagi tekanan internasional. Meskipun sangat sulit untuk memunculkan keputusan tingkat tinggi yang mengikat terkait Afrin, mengingat adanya kesepahaman antara Rusia dan Turki. (whc/dakwatuna)

Sumber: Turk Press

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

[Video] Dolar Amerika Dirobek dan Dibuang Warga Turki

Organization