Topic
Home / Narasi Islam / Dakwah / Kredit Secuil untuk Multiplikasi Manfaat Selangit dalam Dakwah

Kredit Secuil untuk Multiplikasi Manfaat Selangit dalam Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (macleans.ca)
Ilustrasi. (macleans.ca)

dakwatuna.com – Perjalanan dakwah adalah perjalanan panjang bahkan sepanjang perjalanan nafas kemanusiaan itu sendiri. Dakwah pun tidaklah mungkin dipikul oleh beberapa orang saja apalagi seorang diri pribadi, melainkan ia merupakan sebuah ‘project’ keumatan yang tidak bisa tidak haruslah melibatkan berbagai jenis insan dengan segala potensi kelebihannya yang berbeda-beda. Karena ‘sifat’nya yang butuh periode waktu yang panjang dan membutuhkan banyak manpower maka sangatlah esensial bila dakwah dijalankan dengan tahapan dan perekat antar insan dakwah. Mengenai faktor kebertahapan dakwah sangatlah urgen karenanya dakwah tidak dijalankan secara ‘habis-habisan’ melainkan hendaknya berangsur-angsur baik dari aspek potensi maliyah, tenaga, ataupun akal pikiran agar terjaga keberlangsungan dakwah. Sementara itu dari faktor perekat ikatan antar insan dakwah sangatlah penting di dalam dakwah itu terdapat mekanisme yang dapat menumbuhkan unsur-unsur perekat barisan dakwah. Untuk faktor yang kedua ini aspek manajerial dakwah dalam menempatkan pribadi-pribadi yang tepat sesuai potensinya dan menstimulasi motivasi diri para pegiat dakwah menjadi hal yang sangat penting.

Sebuah hadits mulia dari Rasulullah saw menyatakan sebagai berikut:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (أعطوا الأجير أجره قبل أن يجف عرقه)، وفي رواية: (حقه) بدل (أجره) رواه ابن ماجه(

Dari Abdullah ibn Umar ra. berkata: Rasulullah saw bersabda: “Berikanlah pekerja upahnya sebelum keringatnya kering”. (Di dalam riwayat lain ‘berikanlah haknya’, Hadits riwayat Ibnu Majah)

Dari syarah-syarah hadits yang ada (misalnya Hasyiyah Al-Sanadi, Juz 5 Hal 128) sudah terang bahwa sudah menjadi kewajiban bagi seorang yang memiliki pekerja untuk bersegera memberikan upahnya tanpa keterlambatan yang dengan hal itu ia menopang kehidupannya. Jikalau keterlambatan atau penundaan membayar sudah dicela maka bagaimanakah bila sampai tidak dibayarkan tentunya merupakan kezaliman dan dosa yang besar. Namun selain upah, sesungguhnya terdapat hal-hal lain yang juga harus dipenuhi oleh tuan/majikan pekerja itu yaitu penghargaan atas hasil-hasil kerjanya atau karyanya bila memang ia menghasilkan karya yang layak dihargai.

Dalam kaitannya dengan dakwah pula, sesungguhnya dibutuhkan hal yang kurang lebih serupa meskipun tidak sama. Bila pekerja bekerja dengan mengharapkan upah maka mayoritas pegiat dakwah atau da’i bekerja secara sukarela tanpa harapan imbalan apapun atas hasil kerja dakwahnya. Meskipun demikian, adalah sangat penting bagi pemimpin dakwah atau koordinator dakwah atau siapapun yang memang membawahi barisan dai meski pada level/tingkat sekecil apapun seperti pengajian untuk selalu tanggap dan tidak lalai dalam memberikan penghargaan atas kerja-kerja anggotanya. Penghargaan ini tidak mesti berbentuk uang atau hadiah, bisa sesederhana, secuil dan sekecil ucapan terima kasih syukron akhi atas kerja antum ataupun memberinya kredit sekecil apapun atas hasil kerjanya.

Mungkin ada yang akan berpandangan bukankah dakwah itu harus ikhlas lillahi ta’ala dan jangan mengharapkan penghargaan ataupun pamrih dari siapapun selain Allah swt. Pandangan ini benar namun diletakkan dalam bab yang tidak tepat. Masalah ikhlas adalah masalah hati yang hanya diketahui oleh Allah swt, oleh karenanya diluar lingkup kuasa insan, meskipun tentulah taushiyah yang mengingatkan keikhlasan selalu perlu dihidupkan. Adapun masalah penghargaan (appresiasi) adalah termasuk dalam lingkup muamalah insan, dan dari aspek manajerial apapun baik institusi publik ataupun bisnis adalah suatu hal yang mutlak ada. Lalu bagaimana dengan lingkup dakwah? Tentulah penghargaan dan apresiasi terhadap pegiat dakwah yang kebanyakan bekerja sebagai relawan tidak dibayar tentulah lebih patut lagi bahkan sangat penting bagi kesinambungan dakwah. Ironisnya seringkali inilah yang terabaikan oleh sesama pegiat dakwah, serasa slogan fastabiqul khoirot berlomba-lomba mengejar mardhotillah memberatkan lidah dan mengelukan bibir untuk menuturkan penghargaan yang paling sederhana sekalipun seperti terima kasih atau syukron kepada fulan dan fulan atas perannya yang demikian. Toh kualitas pribadi seseorang tidak akan berkurang dengan mengapresiasi orang lain, sebaliknya akan meningkat dan menjulang dengan tambahan kualitas sebagai seorang pemimpin. Dan memang kualitas pemimpin tidak salah lagi selain mampu mendeteksi kekurangan dan menawarkan solusi persoalan juga dengan kejeniusan mengapresiasi kerja atau karya bawahannya. Maka dari itu janganlah sampai pelit dalam berapresiasi dan menghargai.

Allah swt. berfirman dalam kitabnya:

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan berbuat baiklah (berihsanlah) sebagaimana Allah berbuat baik (berihsan) padamu”

Prof. Az-Zuhaili dalam tafsirnya Al-Munir menerangkan bahwa Allah swt memerintahkan manusia untuk berihsan kepada makhluk-Nya sebagaimana Dia telah berihsan kepada engkau setelah sebelumnya dalam ayat yang sama Allah swt memerintahkan untuk berbuat ihsan dalam harta dan perkara duniawi melalui penggalan ayatnya (وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا) Dan janganlah engkau lupakan bagianmu di dunia. Terkait ihsan kepada makhluk-Nya ini terutama kepada insan manusia, seorang insan dituntut berwajah manis dan ramah bagi sesamanya, membangun pergaulan yang baik, dan meninggalkan citra dan kesan yang baik. Yang terakhir ini mencakup segala ihsan yang terkait adab maupun akhlaq. (Juz 20, ayat 161, cet. Dar al-fikr al-muashir).

Bila demikian perintah-Nya untuk berbuat ihsan bagi manusia secara umum atau secara mutlak maka tentunya berihsan bagi para dai lebih utama baik melalui apresiasi-apresiasi dan penghargaan baginya sekecil apapun itu dan mungkin tidak bernilai dari sisi maaliyah namun bisa jadi hal itu besar artinya dalam menggugah semangatnya dalam berdakwah dan membesarkan hatinya yang mungkin lelah berjerih payah dalam usahanya secara sukarela sebagai penggiat dakwah.

Salah satu yang langkah kecil mengapresiasi seorang dai adalah dengan memanggil dirinya dengan panggilan yang disenanginya atau terkait dengan karya-karya dakwahnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam mustadraknya  dari Syaibah bin Utsman al-Hijabi dari pamannya Utsman bin Thalhah bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:

ثلاثٌ يُصفِّينَّ لك وُدَّ أخيك تُسلِّمُ عليه إذا لقيتَه وتُوسِّعُ له في المجلسِ وتدعوه بأحبِّ أسمائِه إليه

Ada tiga perkara yang menggambarkan kecintaanmu kepada saudaramu: kamu mengucapkan salam kepadanya ketika bertemu dengannya; meluaskan tempat untuknya dalam majelis; memanggilnya dengan nama yang paling disukainya (HR al-Hakim, Juz 3, Hal 485, No. 5815)

Dalam syarahnya untuk sebuah hadits lain dalam bab Apakah Manusia dipanggil dengan nama-nama ayahnya? (هل يدعى الناس بآباءهم) Imam Ibnul Batthal rahimahullah menyinggung tentang maksud “memanggilnya dengan nama yang paling disukainya” adalah dengan memanggil kunyah-nya karena dalam hal ini terdapat pemuliaan dan doa untuk orang tua yang sangat mempermudah dalam pengenalan dan paling mempermudah untuk membedakan (seseorang dengan yg lainnya). (Syarah Shohih Bukhori, J. 9, Hal. 335, Kitab Adab, cet. Maktabah Al-Rusyd). Meskipun kunyah terutama digunakan untuk memanggil seseorang dengan nama ayahnya (misalnya Ibnu Umar) atau nama anaknya (misalnya Abul Hasan) makna kunyah dalam bahasa Arab tidak terbatas pada nama ayah ataupun anak saja. Contoh paling mudah mungkin adalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang sesungguhnya bernama pada masa jahiliah Abdu al-Syams bin Shakhr ad Dausi dan diganti namanya oleh Rasulullah saw setelah Islam dengan nama Abdurrahman bin Shakhr ad Dausi. Sahabat perawi hadits ini kemudian dipanggil oleh Rasulullah saw dengan nama Abu Hir atau Abu Huroiroh karena kecintaannya pada kucing kecil yang menemaninya menggembalakan kambing dan bila malam tiba ia letakkan diatas pohon.

Bila demikian adanya contoh dari generasi Rasulullah saw dalam memanggil nama untuk seorang sesuai dengan kecintaannya maka dari itu dalam dakwah di masa kini tentulah tidak salahnya para pegiat dakwah juga berkreasi dalam memanggil panggilan terbaik bagi sohibnya sesama pekerja dakwah dan mengkaitkannya dengan kerja-kerja dakwah maupun karya-karya dakwah yang ditelurkannya dari perjalanannya dalam mengarungi dakwah.

Hal itu agar jangan sampai dakwah stagnan dan kurang termotivasi ataupun kurang antusias karena kurangnya penghargaan antar sesama penggiat dakwah. Realita di lapangan terkadang penulis menjumpai memang sesama dai yang semangat besarnya dalam fastabiqul khoirot sampai – husnudzhonnnya – terlupakan dalam memberi appresiasi-appresiasi sekecil apapun baik melalui terima kasihnya ataupun pengakuannya terhadap sesama penggiat dakwah. Optimisme kita bahwa fenomena ini sangat kecil namun tentulah tidak sia-sia untuk mengingatkan kembali dalam tulisan singkat ini. Jangan sampai dakwah Islam kalah dengan kerja-kerja kapitalisme global yang salah satu faktor kesuksesannya boleh jadi adalah kebrilianan sistemnya dalam memberi apresiasi dan penghargaan terhadap kerja-kerja dan karya-karya yang meningkatkan kinerja ekonomis dan finansial. Begitu pentingnya memberi kredit dan apresiasi bagi pekerja dan pemilik karya di negeri-negeri kapitalis di Eropa ataupun Amerika hingga sampai-sampai tergolong tabu dan sangat tercela bagi seorang pemimpin perusahaan atau posisi serupa lainnya yang gagal dalam mengapresiasi dan memberi kredit bagi tenaga kerjanya.  Sunnah kebaikan itu awalnya dari Rasulullah saw jangan sampai dakwah melempem karena kedhoifan kita dalam mengapresiasi kerja-kerja dakwah sekecil apapun itu. Wallahu a’lam Bisshowab. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
PhD/ Doctoral Student dan alumnus Master of Arts - Kajian Masyarakat dan Pemikiran Islam di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar. Diplom 'Aliy fii Ad-Dirasat Al-Islamiyyah, di Universitas Hamad bin Khalifa, Qatar. Sarjana Pendidikan Bahasa Arab, Univ. Islam Jakarta. Former Secretary General of Indonesian Muslim Society in Qatar 2012-2016. Penulis buku To Be Successful Muslim Youth: Panduan bagi Muda-Mudi di Era Global Kini.

Lihat Juga

Manipulasi Esemka

Figure
Organization