Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali  silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pada setiap organisasi tidak bisa hidup bila gerakannya dilakukan sendiri, apalagi gerakannya berbau kebaikan. Mungkin bisa saja ia bisa terus menjalankan gerakan kebaikannya, tetapi tidak akan efektif dan efisien. Tidak hanya manusia saja sebagai makhluk sosial yang bergantung satu sama lain, tetapi juga institusi. Lembaga dakwah juga harus berhubungan dengan institusi lain agar kegiatannya bisa diketahui banyak orang dan punya efek berganda. Salah satu institusi yang harus dibina secara baik adalah media/pers. Dalam Islam juga kita mengenal istilah silaturahim, pada konteksi ini bagaimana lembaga dakwah bisa bersilaturahim dengan media/pers yang bisa menghasilkan kebaikan yang massif.

Dengan lembaga dakwah menjalin dan menjaga hubungan dengan media merupakan cara yang efektif untuk membangun, menjaga, dan meningkatkan citra atau reputasi organisasi di mata masyarakat. Media relations sangat penting artinya sebagai wujud komunikasi dan mediasi antara suatu lembaga dengan publiknya. Di sisi lain, fungsi media relations yang berjalan baik sangat bermanfaat bagi aktivitas lembaga karena pihak media memberi perhatian pada isu-isu yang diperjuangkan (Shafwatillah, 2014). Pada setiap lembaga dakwah memiliki biro atau departemen sebagai media relation, sebagai contohnya saja di FSI jaman saya terdapat Departemen Media dan Komunikasi (Medikom) dan Salam UI memiliki Biro Hubungan Mahasiswa dan Alumni (Humalum), Hubungan Nasional (Hubnas), dan Hubungan antar Bangsa (Hubansa). Bisa dilihat Salam UI mengklasifikasikan hubungan nya pada tingkat insitusi kampus, nasional, dan internasional agar terbinanya hubungan yang luas dan bermanfaat bagi kebaikan. Pelaku-pelaku media relation ini harus bisa membina hubungan baik agar lembaga dakwah memiliki jaringan yang luas dan bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Dalam kaitannya dengan fungsi media/pers, Kusumaningrat (2006:27) menyebutkan bahwa fungsi utama pers yang bertanggung jawab adalah berfungsi informatif, yaitu memberikan informasi atau berita kepada khalayak ramai dengan cara yang teratur. Lembaga dakwah bisa memilah-milah pers yang secara pemberitaan harus objektif dan berimbang. Lembaga dakwah tidak harus membina hubungan kepada semua pers/media, cari lah pers/media yang relevan dengan aktivitas lembaga dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap nilai yang dibawa oleh lembaga dakwah.

Dalam buku Public Relations: Teori dan Praktek yang ditulis oleh Djanalis Djanaid (1993) disebutkan dua fungsi PR, yakni fungsi konstruktif dan fungsi korektif.

  1. Fungsi Konstruktif

Djanalis (1993) menganalogikan fungsi ini sebagai “perata jalan”. Jadi humas merupakan “garda” terdepan yang dibelakangnya terdiri dari “rombongan” tujuan-tujuan perusahaan. Fungsi konstruktif ini mendorong humas membuat aktivitas ataupun kegiatan-kegiatan yang terencana, berkesinambungan yang cenderung bersifat proaktif. Humas lembaga dakwah dengan jobdesc yang diberikan bisa proaktif membina hubungan dengan media/pers agar tujuan lembaga dakwah untuk bisa dikenal dan dicintai banyak orang, memiliki citra baik, dan kebaikan bisa tersebar luas pada skala nasional dan internasional.

  1. Fungsi Korektif

Fungsi korektif berperan sebagai “pemadam kebakaran” yakni apabila api sudah terlanjur menjalar dan membakar organisasi/lembaga, maka peranan yang dapat dimainkan oleh humas adalah memadamkan api tersebut (Djanalis, 1993). Artinya, apabila sebuah organisasi/lembaga terjadi masalah-masalah (krisis) dengan publik, maka humas harus berperan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Koreksi ini pernah terjadi ketika ada Lembaga Dakwah menggunakan ide Salam UI 17 Outstanding, entah menyamakan desain publikasi dan icon nya, entah nama acaranya. Salam UI  tidak memiliki hak cipta yang didaftarkan, tetapi alangkah baiknya penjiplak itu bisa meminta izin kepada Salam UI yang telah menginspirasi dirinya bahkan digunakan secara mentah-mentah. Mau tidak mau humas lembaga tersebut harus melakukan fungsi koreksi kepada kami agar tidak terjadi konflik yang sebenarnya bisa dihindari. Jangan sampai nilai-nilai Islam yang baik, dikotori oleh kelakuan aktivis dakwah seperti mengambil ide aktivis dakwah lainnya tanpa izin.

Upaya Membina Hubungan dengan Pers/Media

Banyak cara untuk membangun hubungan dengan pers/wartawan. Menurut Djatmika (2004:55) antara lain, mengunjungi kantor pers, membuat siaran pers (press release), mengadakan konferensi pers atau temu pers, wawancara khusus, perjalanan pers (press tour), sponsor lomba jurnalistik, dan karya latihan wartawan.

Mengunjungi kantor pers, ini bisa menjadi pintu gerbang lembaga membuka silaturahim awal agar bisa mengetahui aktivitas masing-masing dan hal-hal yang sekiranya bisa dibuat kerja sama. Ketika saya di Salam UI, beberapa institusi kami kunjungi, seperti Majalah Tarbawi, Dakwatuna, dan Republika, sekiranya media ini dekat dengan aktivitas lembaga dakwah. Salah satu efek saja pada Republika, setiap kegiatan Salam UI yang syiarnya massif pasti masuk koran cetak Republika. Hal yang terpenting adalah kita bisa minta kontak wartawan yang secara jobdesc topiknya sesuai dengan agenda lembaga kita. Salah satu tujuan adanya humas adalah terpelihara dan terbentuknya saling pengertian (aspek kognisi). Saling pengertian dimulai dari saling mengetahui atau mengenal. Tujuan humas pada akhirnya adalah membuat publik dan organisasi/lembaga saling mengenal. Baik mengenal kebutuhan, kepentingan, harapan, maupun budaya masing-masing. Dengan demikian, aktivitas kehumasan haruslah menunjukkan adanya usaha komunikasi untuk mencapai saling kenal dan mengerti. Maka dari itu, kunjungan ke berbagai media lintas pemikiran menjadi suatu hal yang wajib dilakukan sebagai langkah awal lembaga dakwah membina hubungan dengan pers/media.

Siaran Pers, hal ini bisa dilakukan LD pada setiap kegiatannya yang berskala lokal, nasional, dan internasional. Pengurus LD bisa membuat press release setiap kebaikan yang ingin atau sudah dilakukan. Biasanya media-media menyukai berita yang update, dalam artian pengurus LD jangan menunda-nunda dalam membuat siaran pers karena jika sudah lewat H+2 acara, media pun enggan untuk menerbitkan acara tersebut pada medianya. Hal tersebut juga bisa menjadi preseden buruk bagi mereka yang menunda-nunda berita acaranya. Contohnya, saya sering membuat siaran pers maksimal H+1 pada setiap kegiatan Salam UI kepada media Islam dan alhamdulillah selalu dimuat oleh tim redaksi media. Pernah suatu waktu, saya beberapa kali mengirimkan press release H+2 dan sempat ditegur oleh redaksi bahwa beritanya sudah ‘basi’. Lagi-lagi karena media membutuhkan berita yang cepat dan juga harapannya bermanfaaat bagi pembaca.

Siaran pers memiliki tujuan untuk menjaga dan membentuk saling percaya (aspek afeksi). Aspek afeksi pada job seorang humas lebih pada tujuan emosi, yakni pada sikap saling percaya (mutual confidence). Sikap saling percaya keberadaanya masih bersifat laten (tersembunyi), yakni ada pada keyakinan seorang (publik) akan “kebaikan/ketulusan” orang lain (organisasi/lembaga) dan juga pada keyakinan organisasi/lembaga akan “kebaikan/ketulusan” publiknya. Dengan pengurus lembaga dakwah melakukan hubungan yang intens secara personal ataupun dengan aktif memberikan siaran pers, sikap saling percaya akan terus berkembang pada kedua belah pihak, per/media.

Konferensi pers atau temu pers, hal ini juga sangat efektif untuk membina hubungan dengan pers/wartawan. Apalagi dalam kepengurusan lembaga sebelum-sebelumnya, lembaga sudah punya hubungan terhadap institusi, idealnya kita sudah punya kontak-kontak wartawan yang sekiranya sesuai dengan aktivitas lembaga kita. Konferensi pers bisa dilakukan pada isu-isu yang memang sedang hot atau menyangkut orang banyak. Selama di kampus, ada dua lembaga kemahasiswaan yang melakukan temu pers ini, yaitu BEM UI dan Salam UI. Kalau BEM UI mengundang pers untuk mendengarkan sikap BEM UI terhadap pemilihan presiden, sedangkan Salam UI mengundang wartawan untuk merekam sikap Salam UI terhadap isu Jilbab Polisi Wanita. Konferensi bisa dilakukan ketika sedang aksi di jalan atau di kampus pada spot-spot strategis.

Pelatihan dan sponsor lomba jurnalistik, ada suatu lembaga (maap lupa) yang mengadakan dua kegiatan secara bersamaan. Kompas sebagai sponsor utama dan wartawan seniornya memberikan mentoring kepada mahasiswa yang minat dengan jurnalistik. Saya rasa lembaga yang mengadakan kerja sama dengan kompas, memiliki kedekatan yang ia jalin tidak sekali dua kali, tetapi memang dimaintenance dengan baik, secara sekaliber kompas mau menjadi sponsor tunggal dan membina mahasiswa. Toh, bagi kita yang belum kenal dekat, menginisiasi kerja sama dengan media terkait kegiatan tersebut membuat kita makin dekat dengan mereka dan tidak sungkan untuk meliput kegiatan kita, memajang acara kita, dan meminta acara bermanfaat kita lainnya.

Upaya terakhir ini juga bertujuan dari peran humas, yaitu Memelihara dan Menciptakan Kerja Sama (Aspek Psikomotorik). Tujuan selanjutnya adalah dengan komunikasi diharapkan akan terbentuknya bantuan dan kerja sama yang konkrit. Pelatihan dan sponsor lomba jurnalistik merupakan bentuk konkrit dalam menciptakan kerja sama yang sinergis antar lembaga. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswa Sosiologi FISIP UI yang sedang aktif di SALAM UI sebagai Sekretaris Jenderal. Orang yang sederhana untuk terus menjadi pembelajar sampai akhir hayat.

Lihat Juga

Iran Disebut Masih Jadi Ancaman Utama Amerika Serikat