Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Kajian Core Competence Dakwah Kampus

Kajian Core Competence Dakwah Kampus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)
Ilustrasi – Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

dakwatuna.com – Nuansa Islami pada lingkungan kampus bisa dilihat dari hadinya kuantitas acara kajian Islam dan penikmat kajiannya. Bahkan jika melihat pada tataran kampus, misalnya saja di Masjid UI (MUI). MUI, Salam UI, dan FRM UI mengadakan kajian Islam setiap harinya dari senin-ahad, kegiatan mengkaji Islam tidak ada hentinya. Di mulai dari kajian bada dzuhur, dilanjutkan lagi kajian bada ashar. Salam UI biasa mengetag waktu jumat sore dengan I-Source (Islamic Short Course) mengambil kajian tematik tiap pekannya. Kajian yang cukup terkenal juga pada tataran nasional yang diadakan MUI adalah KAP (Kajian Ahad Pagi). Kajian-kajian tersebut yang dilakukan pada tingkat kampus, bagaimana dengan kajian lembaga dakwah fakultas?

Ramai nya kajian Islam pada kampus-kampus merujuk pada ciri-ciri masyarakat madani, yakni Terdidik (Intellectual). Civitas madani adalah masyarakat yang mencintai ‘ilmu dan cita peradaban. Masyarakat semacam ini memiliki sarana bagi warganya untuk meningkatkan kredibilitas profesional (core competence, management, and strategic thinking), kredibilitas moral (komitmen nilai), dan kredibilitas sosial (human relation) (MMS, 2008: 17). Dengan ilmu, masyarakat bisa meningkatkan kapasitas pribadi dan kelompoknya secara berkala, demi terciptanya kondisi masyarakat yang lebih baik.

Fikrah (Titik pandang keislaman) Salam UI Robithah ‘Ilmiyah Tsaqofiyah, Islam menjadikan aktivitas mencari ‘ilmu sebagai suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Corak gerakan SALAM UI adalah “gerakan intelektual”. Forum-forum yang SALAM UI selenggarakan selalu diorientasikan sebagai madrasah-madrasah ta’lim, peningkatan wawasan, serta sarana untuk membina akal, fikiran, dan ruhani (MMS, 2008: 12). Ketika kita bicara dakwah kampus, maka bicara civitas akademika atau bisa juga fokus terhadap mahasiswa nya. Kampus merupakan tempat yang kondusif untuk belajar mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Maka dari itu, salah satu gerakan LDK adalah gerakan intelektual, di samping objek dakwahnya memang kaum intelektual LDK memiliki tujuan dan harapan besar kepada kaum tersebut agar bisa berkontribusi kepada negara dan berafiliasi dengan Islam.

Visi umum Salam UI Islamisasi Ilmu, mungkin LDK senasional mempunya visi umum yang mungkin sama. Maksud dari Islamisasi ilmu adalah meningkatnya kesadaran intelektual mahasiswa muslim UI, disertai produk-produk intelektual yang menawarkan alternatif keilmuan yang islami, baik dalam orientasi, struktur berpikir, bangunan teori, etika dialog, serta berbagai pemanfaatan yang berdampak pada masyarakat dan peradaban (MMS, 2008: 12). Kita mengetahui bahwa apa yang kita pelajari di kampus adalah ilmu-ilmu dari barat, yang di mana tokoh ilmuwan muslim jarang disebut oleh dosen-dosen kita. Padahal ilmu-ilmu yang kita timba adalah sebagian dari cendekiawan muslim yang sekaligus ulama di zamannya, tetapi jarang kita mendengar di ruang belajar 5mx5m.

Maka dari itu, selain Salam UI membuat kajian Islam kekhasan nya, ia juga mensinergiskan kajian ldf seUI agar membiasakan nuansa Islam di UI dengan banyaknya forum-forum keilmuan Islam. Dengan banyaknya acara tersebut, bisa menjadi alternatif civitas akademika untuk menimba ilmu yang mereka inginkan dari yang sifatnya aqidah (pokok), fiqih, dan tematik sampai kepada kajian Islam kotemporer.

Kajian Core Competence Fakultas

Dalam membedakan LDK dan LDF, kita bisa melihat dari salah satu perbedaannya, yaitu peran dan fungsi lembaga dakwah yang terletak pada kajian keislamannya. LDK lebih kepada kajian khas sesuai dengan departemen yang ia miliki dan LDF menyelenggarakan kajian core competence sesuai ilmu fakultas masing-masing (MMS, 2008: 16). Maka nya kajian LDK lebih kepada kekhasan dan isu tematik nasional dan internasional yang bisa mengajak LDF untuk nantinya bisa bergerak bersama. Tugas LDK juga bisa mensinegiskan dan mempublikasikan kajian LDF se-universitas agar civitas akademika dan masyarakat umum bisa mengetahui dan mengikuti acara tersebut.

Setidaknya terdapat empat rumpun pada setiap universitas, yaitu rumpun MIPAKES (FMIPA, FIK, FKM, FK, FKG), rumpun SOSHUM (FISIP, FPSIKOLOGI, FIB, FH, FIA), TEKNO (FT, FASILKOM), dan Vokasi (D3). Dari pengamatan beberapa tahun terakhir, LDF kurang memfokuskan produk dan ciri khas kajian fakultasnya. Beberapa LDF sudah membuat kajian core  competence nya seperti FSI FISIP UI membuat KISPI (Kuliah Informal Sosial Politik Islam) atau kalau mau lebih keren lagi bisa kerja sama sekolah pemikiran Islam INSIST atau Indonesia Tanpa JIL (ITJ) dan dipenghujung kajian itu bisa menelurkan karya buku yang bisa dibaca oleh mahasiswa, nantinya sebagai alternatif utama pemikiran selain asupan di ruang-ruang kelas. Tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa FISIP saja, tetapi juga bisa diberikan pada pihak perpustakaan kampus atau institusi lain yang terkait, bahkan bisa diberikan kepada tokoh-tokoh politik.

Saya sangat ingat sekali pada tahun 2014 dan 2015, diundang untuk menjadi panelis beberapa fakultas di UI dalam suksesi pemilihan ketua LDF. Satu pertanyaan wajib saya kepada calon ketua-ketua LDF adalah bagaimana nasib kajian core competence (CC) fakultas ente dan siapkah ente membuat produk ilmiah berupa 1 buku saja dari kajian tersebut? Dari mereka ada yang bilang, “InsyaAllah siap bang.”, ada juga yang bilang, “Maaf ka melihat situasi organisasi.” Ketika saya bertanya kepada mereka, apakah mereka siap dengan membuat buku dari hasil kajian CC, saya sudah membuat hal konkrit bersama teman-teman di Salam UI, yakni membuat buku dengan mengumpulkan kajian mahasiswa sesuai core competence fakultasnya masing-masing. Buku yang kami buat melalui proses lomba ini, membuat para aktivis antusias mengikutinya. Dengan memohon bantuan para pakar dosen di bidangnya masing-masing, akhirnya terpilihlah tulisan-tulisan yang layak dibukukan dan kami pun memberikan apresiasi bagi pemenang terbaik satu sampai tiga. Terbitlah buku dari Salam Press yang sudah sekian lama Salam UI tidak menerbitkan buku lagi. Kami memberi judul “Sebuah Jendela untuk Muslim Cendekia” bagi mereka yang sudah bersusah payah menuliskan kajian CC dengan sebaik-baiknya.

Saatnya LDF Menelurkan Produk Kajian Core Competence

Ya, saatnya LDF bisa berani unjuk gigi dengan kajian CC di fakultasnya masing- masing. Kajian CC bukan untuk menegasikan kajian Islam, itu tetap dilakukan, tetapi jangan lupa juga bahwa objek dakwah kita juga kaum intelektual, di mana mahasiswa mengejar ilmu dan mencari alternatif ilmu yang bisa meyakinkan dirinya dalam menjalani kehidupan.

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa kampus memiliki 4 rumpun, yakni MIPAKES, TEKNO, SOSHUM, dan VOKASI. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum LD menjalani kajian CC sesuai fakultas masing-masing. Bagi mereka yang belum percaya diri, bisa membuat kajian CC berdasarkan rumpun, di mana LDF rumpun bisa menyelenggarakan kegiatan bersama dengan isu yang fundamental dan kekinian. Kegiatan ini juga bisa berdampak kepada kedekatan LDF dengan tokoh-tokoh yang ahli di bidangnya, alumni-alumni fakultas yang sudah bersinar, dan institusi terkait yang bisa mendongkrak nama LDF di mata publik. Memulai satu kebaikan akan memunculkan kebaikan lainnya. So, mulailah dengan perlahan tapi pasti.

Dalam menjalankan kajian CC, LD perlu mendesain tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang. Misal dalam jangka pendek, LD bisa rutin menjalankan kajian CC sebulan sekali dengan standar kegiatan yang tinggi. Kemudian, membuat produk sederhana berupa selembaran dan buku dari kajian bulanan selama satu tahun dan diberikan kepada birokrat kampus. Kalau percaya diri dengan tulisan di dalam bukunya, bisa saja dijual kepada publik. Dengan begini, Islam menjadi alternatif utama pemikiran-pemikiran di kampus yang beragam. Dengan begitu LD bisa mengambil peran terdepan dalam opini leader di fakultasnya masing-masing karena objek dakwah sesungguhnya di fakultas. Dalam jangka menengahnya, kajian CC bisa didukung oleh birokrat kampus dan menjamur di semua fakultas. Jangka panjangnya, mungkin bisa jadi mata kuliah atau bahkan prodi baru. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswa Sosiologi FISIP UI yang sedang aktif di SALAM UI sebagai Sekretaris Jenderal. Orang yang sederhana untuk terus menjadi pembelajar sampai akhir hayat.

Lihat Juga

Iran Disebut Masih Jadi Ancaman Utama Amerika Serikat