Home / Narasi Islam / Wanita / Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam

Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

RA Kartinidakwatuna.com – Wanita mempunyai ruang tersendiri dalam tahapan perjuangan setiap zamannya. Kehadirannya selalu memberi pengaruh terhadap yang ada di sekitarnya. Besar atau kecil, disadari atau tidak, terlihat ataupun tersamarkan, begitulah pengaruhnya. Hanya saja pengaruh yang dimilikinya ibarat dua sisi mata pisau yang berbeda. Ia mampu menyuluh pengaruh positif dan juga negatif. Ketika mampu mempengaruhi ke arah yang baik, maka sisi yang bekerja adalah pengaruh positifnya. Begitu pula sebaliknya. Al Qur’an sebagai referensi utama umat muslim menggambarkan lewat kisah-kisah yang termuat di dalamnya. Bemula dari sosok wanita pertama yang dicipta yakni Siti Hawa. Demikian Allah SWT firmankan dalam kitab suci-Nya berkaitan dengan penciptaannya. Penciptaannya pertama kali dituju sebagai penghibur hari-hari nabi Adam AS. Menemani dan mendampinginya bercengkrama di dalam syurga yang penuh kenikmatan. Namun, penciptaan itu kemudian berubah menjadi petaka saat Iblis berhasil menggoda keduanya. Menjadi sebab bagi Allah menjatuhkan hukuman kepada keduanya agar turun ke permukaan bumi. Hingga terbentuklah komunitas besar dengan segala macam karakteristiknya. Di sinilah awal mula terjadinya dinamika masyarakat yang beraneka ragam bentuk, rupa dan masalahnya.

Beralih dari sosok Siti Hawa yang kemunculannya berubah menjadi petaka, beberapa masa kemudian muncul pula sosok-sosok wanita lain yang Allah abadikan kisahnya dalam Al Qur’an. Dua orang wanita yang berada di bawah pengawasan seorang yang sholeh namun tetap membangkang dan mendustakan Allah SWT. Mereka adalah istri nabi Nuh As dan Luth AS. Sebagaimana Alah SWT gambarkan dalam firman-Nya, “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)” (QS. At Tahrim:10). Selanjutnya secara bergantian, sejarah menceritakan kisah-kisah tentang beberapa wanita berpengaruh lainnya

Kisah Siti Hawa yang berlanjut kepada Istri Nabi Nuh AS dan istri Nabi Luth AS menjadi pembuka kisah tentang wanita-wanita berpengaruh setelahnya. Di antara masa Nuh dan Luth ada Siti Hajar sebagai istri Nabi Ibrahim AS. Sosok Siti Hajar tergambar sebagai wanita yang memiliki kepribadian tangguh. Sikap tawakkalnya kepada Allah SWT yang tinggi, membuatnya rela menerima keputusan suaminya untuk ditinggalkan di tengah padang pasir yang panas bersama anaknya Ismail. Ketangguhannya digambarkan lewat usahanya yang kuat berlari kesana kemari antara bukit Shafa dan Marwah mencari sumber air untuk diberikannya kepada Ismail putranya. Hingga usahanya membuahkan hasil yang masih ada sampai saat ini. Dialah zam-zam sumber mata air yang penuh keberkahan. Setelah Siti Hajar dan Istri Nabi Luth AS, ada sosok Zulaikha istri seorang raja yang pengaruhnya menyebabkan Yusuf AS terjerumus ke dalam penjara. Kekagumannya kepada ketampanan nabi Yusuf AS menjadi penyebab ia menjerumuskan Yusuf ke dalam penjara. Sebab saat itu Yusuf AS lebih takut kepada Tuhannya dibanding mengikuti ajakan Zulaikha untuk bermaksiat. Selanjutnya ada sosok Asyiah yang memiliki pesona keimanan yang tinggi. Sebagai istri seorang raja yang mengaku sebagai Tuhan, ia mampu mempertahankan keimanannya. Bahkan Allah menjadikannya penjaga bagi seorang hamba yang kelak diangkat-Nya sebagai seorang nabi dan rasul. Dialah Nabi Musa AS. Berkali-kali ia membela dan meyakinkan Fir’aun agar Musa kecil, selamat dari murka suaminya yang saat itu sangat bernafsu untuk membunuh semua bayi laki-laki dari kaumnya. Orientasi Asyiah saat itu hanya satu, yaitu kampung akhirat sebagai tempat kembali yang kekal lagi abadi. Ia menjadi pelopor bagi kebaikan-kebaikan di masanya.

Secara bergantian sejarah mencatat sosok-sosok wanita lainya yang berpengaruh dan memesona di masanya. Dari mereka ada yang hingga saat ini pesonanya diabadikan oleh sejarah lewat kisah-kisah yang dibukukan, namun ada juga beberapa yang terkubur oleh pembelokan sejarah. Hanya saja tidak terulas secara rinci dalam tulisan ini. Pesona dan pengaruh wanita lainnya bergantian setiap kurun setelah Hawa, Istri Nuh, Siti Hajar, Istri Luth, Zulaikha dan Asyiah. Mereka adalah Maryam wanita yang suci sekaligus Ibu Nabi Isa AS, Siti Khadijah wanita pertama yang menerima ajaran Rasulullah SAW, Sumaiyah wanita pertama yang syahid dalam Islam dan sosok wanita-wanita lainnya yang secara bergantian mengisi ruang dalam sejarah perkembangan manusia di muka bumi. Mereka muncul dengan segala sumbangan kisah dan kebaikannya dalam rentetan sejarah yang panjang. Kisah yang penuh dengan aksi-aksi heroik, ataupun kemampuannya menyuluh perpecahan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sekaligus mereka menjadi pelopor bagi manusia di masanya. Kemunculan wanita-wanita tersebut secara bergantian memberi pengaruh positif ataupun negatif yang tergambar dalam segmen-segmen sejarah yang panjang. Kekuatan wanita dalam mempengaruhi tidak dinafikan oleh agama. Rasulullah SAW menegaskannya lewat sebuah hadits tentang niat, “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. Namun meskipun wanita dapat mempengaruhi niatan seseorang, ia tetaplah makhluk yang dispesialkan oleh Allah SWT. Hanya saja dia spesial karena amalnya bukan wujudnya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah”

Kini Indonesia tengah bereuforia dalam perayaan hari Kartini. Sebuah wujud penghargaan terhadap jasa-jasa RA. Kartini sebagai ikon pembela hak-hak wanita Indonesia di masanya. Hanya saja semakin ke sini perayaan tersebut semakin syarat dengan muatan-muatan liberalisasi. Sebagai sebuah perayaan untuk mengangkat isu emansipasi, feminisme dan semisalnya. Walaupun perayaan hari kartini sejak dulu telah menuai  pro dan kontra dari banyak pengamat. Banyak yang menggugat perayaan ini, karena menunjukan sikap diskriminasi terhadap pejuang-pejuang wanita lainnya. Sebut saja Cut Nyak Dien seorang pahlawan nasional dari  Aceh berstatus perempuan yang berjuang mengusir penjajah Belanda. Kesibukannya sebagai seorang pejuang tidak melupakan kodrat dan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anaknya. Bahkan ia juga menjadi pelopor pergerakan wanita-wanita di masanya yang bebas dari diskriminasi status sosial.

Lalu ada juga wanita-wanita yang hidup sezaman dengan Kartini. Mereka turut andil dalam bukti-bukti yang diajukan untuk menggugat perayaan hari Kartini. Sebab mereka adalah sosok wanita-wanita yang juga berpikiran maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang yang kemudian pindah ke Medan. Mereka adalah sosok wanita yang tidak hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita namun juga terimplementasi dalam aksi nyata. Dewi Sartika misalnya, sebagai wujud kepeduliannya terhadap kaum wanita berhasil mendirikan sekolah untuk kaum wanita. Sekolah yang belakangan dikenal dengan “Sakola Kautamaan Istri” yang berdiri di berbagai tempat di Bandung bahkan di luar Bandung. Sedangkan Rohana Kudus sebagai bentuk kepedulliannya kepada kaum wanita juga mendirikan “Sekolah Kerajinan Amal Setia” dan “Rohana School”. Rohana bahkan menjadi jurnalis wanita pertama yang sekaligus menyebarkan ide-idenya lewat koran-koran Koto Gadang, Cahaya Sumatera, hingga lewat radio padang. Secara posisi, fakta-fakta ini lebih kuat sebenarnya dibandingkan apa yang sudah diperjuangkan oleh Kartini. Karena Kartini hanya mampu menyampaikan ide-idenya dalam bentuk surat yang ia kirimkan ke teman-teman Belandanya. Surat yang kemudian dipublikasikan oleh teman-teman Belandanya dan diterjemahkan oleh Armijin Pane. Hanya saja kemungkinannya, wanita-wanita lainnya tidak seberuntung Kartini yang memang dekat dengan bangsa penjajah di masa itu.

Secara silsilah keturunan, Kartini merupakan anak seorang priyayi Jawa (Bupati). Ia selalu ditempatkan sebagai manusia kelas dua setelah saudara laki-lakinya. Sehingga Kartini hanya mampu mengenyam pendidikan sampai usia 12 tahun di ELS (Europese Lagere School). Selain itu kondisi ayahnya yang menikah secara poligami dan adat yang sangat ketat dalam keluarga membuatnya melakukan beberapa gebrakan sebagai reaksi terhadap sikap diskriminatif yang dirasakannya. Walaupun akhirnya ia harus menerima kenyataan sebagai istri keempat Bupati Rembang. Atas pengalaman yang dirasakan, Kartini sampai pada kesimpulan bahwa wanita Indonesia harus bangkit dari segala bentuk diskriminasi dan penindasan. Sehingga ia bercita-cita untuk memberikan bekal pendidikan terhadap anak-anak perempuan terutama budi pekerti, agar mampu menjadi istri dan ibu yang bertanggungjawab terhadap suami dan anak-anaknya. Selain itu, wanita juga harus mempunyai keterampilan agar bisa tampil untuk mengurusi dirinya sendiri. Ketidakberimbangan sejarah yang ditampakan adalah jarang mengungkap usaha Kartini untuk mempelajari Islam.

Terlepas dari segala cerita kontroversial perayaan hari Kartini, kita beralih ke isu emansipasi atau kesetaraan jender. Isu ini selalu mengemuka setiap kali perayaan hari Kartini. Banyak pihak-pihak yang memanfaatkannya untuk mendorong kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Menuntut dan mendorong wanita agar berani tampil menyaingi pria dalam segala bidang. Mengkampanyekan bolehnya seorang wanita bekerja siang malam untuk menanggung beban hidupnya, tidak tergantung bahkan cenderung menyepelekan usaha suami, bahkan membolehkan wanita agar tidak menikah, sampai terkoneksi dengan isu LGBT. Meskipun hal tersebut menyalahi fitrah ataupun kodrat pria dan wanita. Padahal Al Qur’an menegaskan bahwa posisi kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Sebagaimana firman Allah SWT, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. ……….” (QS. An Nisa: 34).

Emansipasi yang ditunggangi oleh para kaum liberalis dan feminisme semakin mengemuka akhir-akhir ini. Posisinya semakin kuat karena didukung oleh keawaman banyak masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, salah seorang ibu yang beranggapan bahwa hari Kartini merupakan hari kebebasan bagi mereka untuk mengerjakan tugas-tugasnya sebagai seorang wanita. Hal ini didapatkan secara nyata di salah satu daerah di Indonesia. Mungkin ini hanya salah satu contoh kecil mengenai isu emansipasi yang telah tertancap di masyarakat.  Padahal dari muatan-muatan perjuangan Kartini, hanya mengajarkan agar kaum wanita berpendidikan dan mampu mengetahui kodratnya sebagai wanita. Sebagaimana kumpulan tulisannya yang kemudian diterjemahkan dalam buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang”. Beberapa sejarawan menegaskan sebagai inspirasi Kartini dari ayat Al Qur’an “mina dzulumaati ila nuur”. Sehingga sudah sepantasnya masyarakat memahami bahwa wanita tidak akan pernah setara dengan laki-laki. Namun, tidak juga berada di bawah mereka. Karena keduanya merupakan pasangan yang saling melengkapi. Usaha mereka dalam menempuh pendidikan setinggi-tingginya tidak lain hanya untuk meningkatkan keterampilan dalam mendidik anak-anaknya kelak. Karena tidak bisa dinafikan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru Konsultan Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban