Figure Archives: Luth AS

Bekerjalah Demi Kehormatanmu

Ayolah, bekerja! Bekerja sekuat dan semampu kita. Tidak perlu malu dan gengsi, apapun jenis pekerjaan yang kita lakukan asalkan halal tidak akan menurunkan derajat seseorang di hadapan Allah. Bercocok tanam, menjadi kuli bangunan, penjual bakso, tukang tambal ban, tukang cukur, itu semua lebih baik dan mulia daripada pengangguran, hidup menjadi peminta minta atau belas kasihan orang lain. Jangan hanya melihat pekerjaan dari jenis pekerjaannya tapi yang utama lihatlah halal-haram nya. Pekerjaan yang di mata manusia nampak hina namun halal jauh lebih baik daripada nampak mulia di mata manusia namun hina di hadapan Allah.

Baca selengkapnya »

Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam

Emansipasi yang ditunggangi oleh para kaum liberalis dan feminisme semakin mengemuka akhir-akhir ini. Posisinya semakin kuat karena didukung oleh keawaman banyak masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, salah seorang ibu yang beranggapan bahwa hari Kartini merupakan hari kebebasan bagi mereka untuk mengerjakan tugas-tugasnya sebagai seorang wanita. Hal ini didapatkan secara nyata di salah satu daerah di Indonesia. Mungkin ini hanya salah satu contoh kecil mengenai isu emansipasi yang telah tertancap di masyarakat. Padahal dari muatan-muatan perjuangan Kartini, hanya mengajarkan agar kaum wanita berpendidikan dan mampu mengetahui kodratnya sebagai wanita. Sebagaimana kumpulan tulisannya yang kemudian diterjemahkan dalam buku “ Habis Gelap Terbitlah Terang”. Beberapa sejarawan menegaskan sebagai inspirasi Kartini dari ayat Al Qur’an “mina dzulumaati ila nuur”. Sehingga sudah sepantasnya masyarakat memahami bahwa wanita tidak akan pernah setara dengan laki-laki. Namun, tidak juga berada di bawah mereka. Karena keduanya merupakan pasangan yang saling melengkapi. Usaha mereka dalam menempuh pendidikan setinggi-tingginya tidak lain hanya untuk meningkatkan keterampilan dalam mendidik anak-anaknya kelak. Karena tidak bisa dinafikan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak.

Baca selengkapnya »

Rapuhnya Argumen Para Pendukung LGBT

Ada satu lagi alasan dari para pendukung LGBT untuk membenarkan pandangan mereka, yaitu bahwa kecenderungan homoseksual dan biseksual adalah orientasi seksual yang tidak dapat diubah. Menurut mereka, hal itu dikarenakan orientasi homoseksual dan biseksual itu adalah bawaan sejak lahir. Telah dijelaskan sebelumnya tentang lemahnya argumen bahwa homoseksual dan biseksual itu adalah bawaan sejak lahir. Namun jika ada yang tetap kukuh mempertahankan argumen bahwa homoseksual dan biseksual tidak dapat diubah, maka bagaimana mereka menjelaskan orang-orang yang menderita homoseksual dan biseksual di usia remaja atau dewasa ?

Baca selengkapnya »

Akankah Sejarah Kaum Luth Terulang Kembali?

dakwatuna.com – Orang-orang yang beriman dan berakal sehat pastilah akan selalu mengambil pelajaran dari sejarah masa lampau. Baik sejarah kegemilangan maupun sejarah kelam yang pernah dialami umat-umat terdahulu. Karena pada dasarnya sejarah dapat dijadikan sebagai barometer bagi kita untuk menatap masa depan sekaligus sebagai pelajaran berharga untuk tidak melakukan kesalahan …

Baca selengkapnya »

Bid’ah, Pengulangan Sejarah, dan Fitnah Zaman Ini

Sebenarnya, sebagian besar dari apa yang terjadi di zaman ini, baik itu yang terjadi di Timur Tengah, di Tanah Air, dan di belahan bumi lainnya, merupakan pengulangan-pengulangan. Rekam jejak sejarah peradaban manusia melalui kisah-kisah kaum terdahulu menuntut manusia untuk mengambil pelajaran sehingga dapat menimbang rentetan peristiwa masa lalu serta menimbang dengannya pada zaman ini. Dengan begitu, kita bukan saja tidak mudah kaget, namun juga memiliki salah satu karakteristik Ulul Albab, yakni mereka yang dapat mengambil pelajaran dari kisah umat terdahulu dan memikirkan sebab-akibat peristiwa-peristiwa tersebut serta dengan kebenaran yang didapatinya melalui proses tafakur menambah pengagungannya terhadap ayat-ayat Allah.

Baca selengkapnya »

Penanaman Nilai-Nilai Keislaman di Pesantren

Islam merupakan agama yang diridhoi Allah SWT. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari keislaman secara syaamil (menyeluruh), kamil (sempurna) dan mutakamil (penyempurna agama-agama samawi sebelumnya). Pesantren merupakan sarana pembelajaran Islam dalam memenuhi 3 unsur di atas. Nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren merupakan nilai-nilai keislaman yang kaffah. Di pesantren, yang diutamakan adalah keshahihan dan menyingkirkan unsur kekhilafiyyahan. Manusia diberikan dua sifat yang saling bertolak belakang, yaitu sifat ketaqwaan dan sifat kefujuran. Sesuai dengan firman-Nya dalam Q.S. Asy-Syams : 8 yang artinya,” maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”

Baca selengkapnya »
Organization