Home / Narasi Islam / Dakwah / Cita Cinta Dakwah, Cinta Cita Dakwah

Cita Cinta Dakwah, Cinta Cita Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

Refleksi Perjuangan Bersama Meski Sendiri pun Mampu Berjaya

dakwatuna.com – “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (Q.S Asy-Syu’ara: 180)

Para Rasul ulul azmi telah menunjukkan kepada kita tentang hakikat seorang muballigh mujahid yang senantiasa setia dengan komitmen dakwahnya, kesungguhan akan dakwahnya telah mampu melalui berbagai macam rintangan, cibiran sanjungan, celaan pujian, makian pujaan, janji kemegahan, dan ancaman ketakutan, semuanya hanyalah racun berbisa berwajah dera derita dan kemagahan dunia yang kerap kali menimpa manusia hingga tak berdaya.

Berbicara dakwah maka kita tengah diajak mendalami sifat kenabian, melihat lebih jauh akan sunnah kehidupan, serta menyusuri sepanjang apa perjalanan hidup rasulallah juga para nabi pemimpin umat. Mendalami sifat kenabian berarti pula mengilhami segenap tugas kenabian, tugas yang tumbuh dari dasar keyakinan iman akan agama yang benar, tugas yang berasal dari insprisari ilmu dan aspirasi ketaatan kepada sang Maha Kuasa, Allah ‘azza wa jalla, dan Rasul Matahari dunia, Muhammad SAW.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25).

“Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)

Melihat sunnah kehidupan berarti melihat bagaimana seharusnya dunia ini kita sikapi, mengakui hakikat keberadaan kita sebagai manusia, makhluk yang fana dan lemah, juga sadar bahwa dunia ini adalah penjara bagi mereka yang menganggap akhirat jelas lebih berharga. Sungguh para nabi tidak pernah mewariskan harta berlimpah nan megah, tidak pula menjanjikan kesenangan dan kemewahan yang gemerlap, hanya perjuangan yang bertumpah darah tanpa keluh kesah, hanya jalan yang penuh dera duri derita yang jelas orang biasa anggap itu bagaikan neraka.

“Jika bapak-bapak, anaka-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir akan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang fasiq.” (QS. Taubah/9 : 24).

Menelusuri perjalanan Rasulallah adalah menelusuri jauhnya jalanan sabar, menelusuri panjangnya kesyukuran, dan menelusuri luasnya kasing sayang dan suri tauladan, nabi SAW telah menjadi pembimbing, pemimpin, teladan, dan pedoman bagi mereka yang menegaskan cita dan cintanya untuk dakwah, dan semuanya terangkum dalam sebuah lautan tak terbatas, lautan yang dunia tak mampu untuk menampungnya meski tujuh dunia sekalipun, lautan hikmah dan ilmu yang telah menjadi jalannya.

Semuanya terangkum dalam sebuah nikmat karunia bernama jihad dan perjuangan, nikmat yang hanya akan dirasakan para mujahid, mujahid dakwah. Nikmat yang hanya akan dibuktikan oleh para pejuang illahi dalam setiap kata dan maknanya, nikmat yang hanya akan didapatkan melalui pengorbanan, ya, pengorbanan yang berakar dari keyakinan iman buah ketaatan berislam. Nikmat yang tumbuh atas dasar cinta dan berbuatkan cita, cinta akan Allah dan Rasulnya, cinta akan dakwah hingga hanya berbuah cita untuk kejayaan Islam.

Lihatlah siapa orang yang ada di belakang kita, hadir membantu semua yang kita cita-citakan, lihatlah siapa orang yang ada di depan kita, orang yang hadir mengarahkan perjuangan kita, lihatlah siapa mereka yang ada disamping kita, mereka yang senantiasa bahu membahu membangun cinta, bahu membahu menggapai cita. Kita sadar kita bukanlah para Nabi yang sanggup memikul segala bentuk kesusahan dunia, kita bukan Nabi yang mampu memikul bulan dan matahari di kedua pundaknya, kita hanyalah manusia lemah yang penuh dengan keluh kesah. Maka bersama-sama mengarungi hujan badai rintangan dalam dakwah adalah jalan kita bersama, bersama-sama mencurahkan tenaga dan pikiran adalah tugas kita semua, yang satu mengulurkan tangan dan yang satu mengobati dahaga saudaranya, yang satu menyingkirkan kerikil tajam dan yang satu menebas setiap dahan yang merintang, karena sungguh bahu-membahu dalam kesabaran dan ketakwaan adalah para manusia pilihan.

Maka membangun cinta untuk cita agung bernama dakwah, adalah hal mesti lakukan bersama-sama, dan menjaga cita kita agar selalu cint akan dakwah memerlukan rekan yang selalu siap sedia setia mengingatkan. Cita dan cinta itulah yang akan membuat kita setia dengan jalan dakwah ini, kehadiran kita akan berharga untuk kebertahanan saudara kita, kita bukan para anbiya, tapi kita harus percaya usaha kita dan mereka akan sama di mana sang Penguasa alam, tantangan kita sama, jalan penuh hina, papa, dan derita. Maka tatkala kita tak bisa untuk berdiri tegak sendiri, bukankah para Rasul pun punya sahabat dan hawari..? Maka jika kita tak mampu memanggul tugas ini layaknya para Nabi, tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat para malaikat Iri.

“Umur muda telah dipakainya untuk merampungkan tugas suci, meski tak ada dana pensiun untuk kelak hari tuanya yang menanti. Itulah jalan para juru dakwah, jalan para mujahid, jalan yang pebuh dengan cita dan cinta, cita akan dakwah, cinta akan dakwah.” (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswa sastra Arab Unpad 2011, Wakil Ketua BEM FIB Unpad dan aktif di Hima Persis Unpad.

Lihat Juga

Ketika Allah Menegur Seketika