Home / Narasi Islam / Sejarah / Perjalanan Para Pejuang Ketauhidan

Perjalanan Para Pejuang Ketauhidan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

Kisah Para Pemuda yang Bersembunyi dari Kejaran Penguasa Kafir dalam Gua

Tiga Pertanyaan dari Yastrib

dakwatuna.com – Rasulullah Muhammad Saw ketika mendakwahkan risalah Al-Quran kepada penduduk Makkah selalu saja mendapatkan rintangan. Baik rintangan dari kafir Quraisy sendiri maupun dari para penduduk badui pedalaman. Suatu ketika para pembesar Quraisy berkumpul di tempat perkumpulan mereka. Mereka merencanakan sebuah makar untuk menghinakan Nabi Saw. maka berdirilah salah seorang dari mereka dan mengusulkan untuk menemui para rabi Yahudi di Yatsrib. Kafir Quraisy ingin mendapatkan info lebih banyak tentang kenabian dari mereka. Pasalnya bangsa Yahudi adalah bangsa yang diturunkan kitab ke tengah-tengah mereka. Dan sudah menjadi pengetahuan bangsa arab, bahwa  bangsa Yahudi adalah bangsa yang selalu berbicara mengenai kenabian akhir zaman.

Orang Yahudi mengetahui persis kapan dan di mana Nabi terakhir itu diutus, bahkan di dalam Al-Quran Allah ,menyebutkan bahwa mereka mengenali sosok Nabi akhir zaman tersebut sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka. (Al-Baqarah: 146). maka dari itulah mereka berbondong-bondong pergi ke Yastrib dengan membawa serta perempuan-perempuan mereka yang sedang hamil. Dengan harapan, Nabi akhir zaman tersebut terlahir dari rahim wanita-wanita mereka. Namun tatkala mereka mengetahui bahwa Nabi tersebut bukan dari golongan mereka, mereka mala mendustai dan memusuhinya.

Maka berangkatlah utusan Quraisy untuk menemui para rabi Yastrib, dengan maksud menanyakan dan mengabarkan tentang seorang Quraisy yang mengaku-ngaku sebagai nabi. tatkala mereka sampai di Yatsrib, dan berjumpa dengan para rabi, mereka langsung mengabarkan ihwal seorang pemuda arab yang mengaku sebagai nabi tersebut. Maka para rabi Yastrib itupun memberikan nasihat kepada utusan Quraisy untuk menanyakan kepada Muhammad tentang tiga hal yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang Nabi. “  Tanyakan kepadanya tentang pemuda yang dikejar raja zhalim kemudian bersembunyi di dalam gua “ kata mereka. “ Tanyakan pula tentang seorang penguasa yang adil lagi bijaksana, yang berjalan menelusuri bumi dari bagian timur sampai bagian barat “ tambah mereka. “ Dan yang terakhir tanyakan kepadanya tentang Ruh”.

“ Pulanglah kalian ke Makkah dan tanyakan kepada pemuda yang mengaku sebagai nabi tersebut. Jika dia bisa menjawab dan benar, berarti dia memang seorang nabi. namun jika salah, maka dia adalah pendusta”. Maka bersiaplah utusan Quraisy tersebut untuk kembali ke Makkah. “ Jangan lupa kabarkan kepada kami tentang jawaban pemuda tersebut”. Kata seorang rabi sebelum utusan Quraisy itu benar-benar meninggalkan Yastrib.

Setelah tiba di Makkah. Mereka langsung mencari Muhammad dan menanyakan tiga pertanyaan tersebut. “ Aku akan mengabarkan kepada kalian besok” kata Muhammad Saw. namun setelah siang berganti malam, dan malam berganti siang, tidak juga Jibril datang membawa jawaban tersebut. Begitu seterusnya hingga lima belas hari. Maka mulailah Muhammad Saw gelisah dan putus asa. Maka tatkala keputusasaan memuncak, maka datanglah Jibril dengan membawa peringatan kepada Muhammad, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah“. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. (Al Kahf: 22-23).

Ya, sebab dari tidak turunnya jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut adalah karena Beliau lupa untuk mengucapkan  “Insya Allah”. Namun hal tersebut sebenarnya menjadi pematah argumen orang Quraisy yang beranggapan bahwa Al-Quran adalah syair ubahan Muhammad. jika Al-Quran adalah ubahan Muhammad, tentu beliau tidak perlu menunggu Jibril membawah ketiga jawaban tersebut selama lima belas hari. Dari kejadian tersebut, tak sedikit kalangan Quraisy yang akhirnya beriman walaupun secara sembunyi-sembunyi.[1]

Satu dari Tiga jawaban

Setelah Jibril kembali datang membawa wahyu untuk ketiga pertanyaan tersebut, Rasul Saw pun mengabarkan kepada khalayak Makkah.  Maka dengan membawa informasi dari Rasul Muhammad Saw. Tersebut, berangkatlah utusan Quraisy untuk mengabarkan kepada para rabi di Yastrib. Setibanya di Yastrib mereka langsung mengemukakan apa yang dikemukakan Muhammad Saw di Makkah. Mendengar jawaban yang dibawa oleh orang Quraisy tersebut. Orang-orang Yahudi hanya bisa bergeleng-geleng dengan jawaban yang sengat jelas. Bahkan melebihi dari apa yang termaktub di dalam kita suci mereka.

Salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut adalah ihwal sekelompok pemuda yang lari menyelamatkan aqidah mereka dari rongrongan seorang raja yang sangat bengis dan keji. Raja tersebut tidak segan untuk membunuh siapa saja yang memiliki keyakinan berbeda dengan keyakinannya apalagi keyakinan tauhid yang dimiliki oleh para pemuda tersebut.

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa dahulu ada seorang raja yang menyeru masyarakatnya untuk menyembah berhala dan berqurban untuk berhala-berhala tersebut. Ketika terjadi penyembahan berhala dan penyembelihan hewan untuk berhala-berhala tersebut,  para pemuda yang memiliki iman merasa risau terhadap amalan yang dikerjakan penduduk negeri tersebut. Maka salah seorang dari mereka menyepi duduk di bawah sebuah pohon. Selanjutnya datanglah para pemuda lainnya yang memiliki pikiran yang sama.

Pada awalnya, ketika mereka berdatangan ke pohon tersebut, tidak satupun dari mereka yang mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh masing-masing dari mereka. Hingga akhirnya seorang dari mereka buka mulut dan ternyata motif dari pengasingan diri tersebut adalah sama. Karena memiliki prinsip ketauhidan yang sama, akhirnya mereka bersepakat untuk membuat tempat ibadah di sana yang mereka gunakan untuk beribadah hanya kepada Allah dengan iman dan tauhid yang bersih dan jernih.

Siang berganti malam, angin berganti haluan, lama kelamaan masyarakat tahu tentang aktivitas peribadatan yang dilakukan oleh para pemuda tersebut. Masyarakat yang melihat aktivitas mereka langsung saja melaporkan apa yang mereka lihat kepada raja dan memerintahkan untuk menghadirkan mereka semua ke hadapannya. Maka hadirlah semua pemuda itu di istana raja yang mega. Selanjutnya, sang raja bertanya tentang apa yang mereka lakukan. Mereka menjawab dengan kebenaran dan keimanan serta mengajak sang raja untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan peribadatan musyrik yang selama ini mereka kerjakan dan mereka serukan ke semua orang.

Mendengar jawaban dari para pemuda tersebut, sang raja marah dan naik pitam. Sang raja memerintahkan untuk menghukum mereka dan memenjarakannya. Sadar keimanan mereka sedang dalam bahaya, mereka memutuskan untuk lari dan bersembunyi dari kekejaman yang akan dilakukan oleh sang raja dan memilih mempertahankan ketauhidannya meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Maka mereka bersepakat untuk segera melakukan pelarian. Kemudian Allah mewahyukan kepada mereka untuk lari dan bersembunyi di dalam sebuah gua, sedangkan orang-orang dibuat tidak tahu tentang pelarian mereka sebagaimana Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar pergi dari Makkah dan bersembunyi di gua Tsur tanpa ada satu Quraisy pun yang mengetahui kepergian Beliau berdua.[2]

Jumlah Pemudah Penghuni Gua

Perihal jumlah mereka, Al-Quran mengabarkan “Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka”. (Al Kahf 22).

Dalam Tafsir at-Thabari, pengarangnya, Imam Abu Ja’faf at-Thabari menukil sebuah riwayat dari Ibnu abbas. Ibnu Abbas berkata mengenai ayat yang artinya “ tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”, yang dimaksud dengan orang yang tidak mengetahui bilangan mereka adalah Ahlu Kitab dari kalangan Yahudi. Lebih lanjut Ibnu Abbas berkata: “ aku adalah orang yang dikecualikan oleh Allah mengenai hal itu” (artinya Ibnu Abbas mengetahui jumlah mereka), beliau berkata: “ Jumlah mereka adalah tujuh orang”.[3]

Sementara itu, Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya, Tafsir Al-Quran al-Adhim, menukil riwayat dari as-sudi. Bahwa kalangan yang mengatakan jumlah mereka tiga, empat bersama anjingnya adalah dari kalangan Yahudi. Sedangkan kalangan yang mengatakan lima, enam dengan anjingnya adalah golongan Nasrani.[4]

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul al-Bari, menukil riwayat dari Ibnu Abbas mengenai nama para pemuda tersebut. Disebutkan oleh Ibnu Abbas, bahwa nama raja zhalim saat itu adalah raja Diqyanus, sedangkan nama-nama para pemuda tersebut adalah ; Maksilimyana, Makhsyi Lisya, Tamlikha, Martunas, Kansyutunas, Birunas, dan Diinamus.[5]

Masa dan letak Geografis al-Kahf

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan peristiwa ashabul kahfi tersebut terjadi.  Pendapat mereka terbagi menjadi dua pendapat. Pendapat pertama, sebagian dari mereka berpendapat bahwa kejadian tersebut terjadi pada masa setelah Isa As diutus. Pendapat kedua berpendapat peristiwa tersebut terjadi sebelum diutusnya Isa As.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya lebih memilih pendapat kedua. Yakni pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada zaman sebelum diutusnya Isa As. Beliau berargumen, jika peristiwa tersebut terjadi setelah Isa As, yang secara otomatis mereka adalah penganut Isa As. Tentunya orang Yahudi akan menyembunyikan berita tersebut dan menyimpannya rapat-rapat. Karena kaum Yahudi adalah kaum yang tidak mengakui Isa As sebagai rasul, bahkan mereka berusaha untuk membunuh Isa As. Namun nyatanya tidak, mereka mewariskan berita tersebut dari generasi ke generasi sebagai motivasi keagamaan mereka untuk generasi sesudahnya.

Sedangkan untuk letak geografis sendiri, para ulama tafsir dan sirah berbeda-beda pendapat mengenai letak geografisnya. Hal tersebut karena penentuan letak geografis tersebut hanya didukung oleh takwil-takwil yang bisa saja benar dan bisa saja salah.  Pada umumnya, penakwilan hal semacan ini adalah karena tidak termaktub jelas dalam Al-Quran dan juga tidak ada penjelasan konkret dari Nabi Muhammad Saw sendiri.

Dalam menafsirkan ayat “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”. (Al-Kahf: 9). Ibnu Katsir mengatakan bahwa al-kahf adalah sebuah gua yang berada di sebuah gunung. Untuk letak geografis pastinya masih belum bisa dipastikan melalui kitab-kitab tafsir klasik. Sebab belum ada penelitian dan penggalian arkeolog dalam masalah ini.

Penemuan Gua di Atas Gunung

Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai letak dan kondisi gua tersebut, perlu kiranya kita mencarinya dari referensi-referensi modern yang didukung oleh data penelitian yang ilmiah.

Pada tahun 1963, seorang Arkeolog berkebangsaan Yordan, Rafiq Wafa ad-Dijani, menemukan sebuah gua yang diperkirakan adalah gua tempat ke tujuh pemuda tersebut tertidur selama 300 tahun Syamsiyah atau 309 Qomariyah. Lokasinya berada di daerah Yordan. Di tempat tersebut, terdapat tujuh makam. Persis dengan penafsiran ibnu abbas mengenai ayat ke 22 Surat al-kahf. Sedangkan di bagian luar terdapat sebuah makam anjing penjaga mereka.

Berbedanya letak makam antara makam ketujuh pemuda – ada yang mengatakan enam pemuda ditambah satu penggembala/penunjuk jalan) dengan makam anjing tersebut, ternyata juga sama dengan apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan surat al-kahfi. Beliau mengatakan bahwa anjing tersebut berada di mulut gua dan bertugas sebagai anjing jaga. Beliau juga mengatakan bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing. Jika kita cermati, peristiwa yang menimpa ketujuh pemuda tersebut merupakan sebuah pertolongan yang Allah berikan kepada mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengirim malaikat untuk misi tersebut. Jika anjing tersebut berada di dalam gua, pastilah berdasarkan hadits Nabi Saw. malaikat tidak akan masuk ke dalam  rumah (gua diqiyaskan sebagai rumah) yang terdapat anjingnya. Maka dari itulah anjing tersebut berdiri di luar menjaga ketujuh pemudah tersebut hingga akhirnya mati dan ditemukan rahang bagian atasnya di pintu masuk gua yang ditemukan di Yordan tersebut.

Di samping itu, yang menjadi fokus penelitian Arkeolog berkebangsaan Yordan tersebut adalah ayat ke tujuh belas dari surat al-kahf. Allah Swt berfirman yang artinya “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (Al-Kahf 17).

Berdasarkan ayat ini, Rofi Wafa mengemukakan bahwa pintu gua sebelah selatan menghadap ke arah barat daya. Jika seorang berdiri di dalam gua pada pagi hari, sinar matahari masuk ke dalam gua bagian kanan. Sinar matahari akan semakin kuat di depan orang yang berdiri yang memantulkan sinar ke dalam gua. Pada siang hari tidak ada sinar yang masuk. Jika matahari sudah mulai condong  ke arah barat, sebagian sinar matahari masuk ke dalam gua.

Sebenarnya, jauh sebelum ditemukannya gua tersebut tepatnya pada abad ke delapan, Ibnu Katsir sudah  menafsirkan ayat ke 17 dari surat al-Kahf tersebut sama persis dengan penemuan Rofi Wafa di tahun 1963 Masehi tersebut. Untuk lebih jelasnya pembaca bisa melihat langsung Tafsir Al-Quran al-Adhim karya Imam Abu Fida’ Ibnu Katsir Rahimahullah.

Selanjutnya, tidak hanya penemuan makam, rahang anjing, dan jalan masuk sinar matahari, ditemukan juga sebuah prasasti di dinding gua yang menggunakan bahasa “kuna” yang berisi tentang keesaan Allah Swt. Dan fakta yang lebih mencengangkan lagi adalah, prasasti yang ditemukan oleh Rofi Wafa tersebut sudah disebutkan oleh Ibnu Abbas 14 Abad yang lalu. Hal ini bisa dilihat dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihaya karya Ibnu Katsir jilid 2 halaman 563.

Beliau (Ibnu Abbas) dalam menafsirkan ayat ke 9 dari surat al-kahf “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?.” Berpendapat kata “ raqim” adalah sebuah tulisan tentang nama-nama mereka atau tulisan yang menggambarkan kejadian yang menimpa mereka.[6]

 Kebenaran informasi Al-Quran tentang al-kahf

Ternyata pertanyaan yang diajukan oleh orang Yahudi melalu orang kafir Quraisy Makkah malah menjadi bumerang bagi mereka. Akibat dari pertanyaan mereka, setidaknya Allah telah menunjukkan kebenaran kitab sucinya dan kebenaran risalah yang dibawa oleh Muhammad Saw 14 abad yang lalu.

Kebenaran yang terjadi mengenai informasi al-kahf ini bukanlah sebuah kebetulan. Sebab kebetulan itu hanya sekali saja terjadi. Namun pada kenyataannya, informasi yang Al-Quran berikan seratus persen sesuai dengan penemuan modern dan tidak hanya terjadi sekali dua kali.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah “ Dari mana Muhammad 14 abad yang lalu bisa memberikan informasi sedetail ini ?” jikalau bukan dari wahyu langit, pastilah apa yang disampaikan Beliau 14 abad yang lalu akan bertolak belakang dengan fakta modern. Dan tidak ada alasan bagi kita untuk ragu dalam keimanan kita terhadap Al-Quran. Wallahu ‘alam. (dakwatuna.com/hdn)

[1] Muhammad, Martin Lings (Abu Bakar Siraj al-Din), hlm. 143

[2] Ibnu katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim

[3] Abu Ja’fat at-Thobari, Jami’ul Bayan Fi Tafsiri al-Qur’an, jil. 17, hal. 642

[4] Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, Jil. 7, hal. 2354

[5] Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Bari, Jil.7, hal. 505

[6] al-Bidayah wa an-Nihaya karya Ibnu Katsir jilid 2 halaman 563

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alumni Ponpes Maskumambang Gresik, Jatim. Kader Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jakarta.

Lihat Juga

Laporan PBB: Putra Mahkota Saudi Bertanggung Jawab Atas Kematian Jurnalis Jamal Khashoggi