Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Serpihan Berdebu

Serpihan Berdebu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)
Ilustrasi. (Foto: bernaaltay.com)

dakwatuna.com – Mana mungkin, kamu bangun istana megah dengan sisa serpihan semangat itu? Sementara debu kegundahan bertebaran menutupi cahaya asamu. Bukankah serpihan itu semakin lama semakin lapuk termakan usia? Dirongrong kesengsaran hati, digerogoti kejamnya perjalanan hidup. Jika kau berharap mengumpulkannya di antara debu, maka tak ada bangunan cinta yang kau impikan selama duniamu. Tak ada istana cinta untuk akheratmu.

Serpihan itu, singkirkanlah ia. Bukankah pondasi nan bertabur emas itu lebih kokoh dan berharga untuk kamu dirikan dahulu? Terkadang, hati yang terlanjur pilu menutup rapat mata hati.

Hai anak muda, bersihkan debu dan bangunlah istanamu. Pilunya hati yang patah, masih layak untuk disambungkan lagi. Bisa jadi ia pondasi pertama untuk istanamu. Hati yang berdebu tidak dengannya, ia tetaplah sepihan-serpihan kecil yang melenakan. Atau tunggu saja ia menenggelamkanmu.

Bersihkan debu, campakkan serpihan semangat. Bangunlah pondasi emas nan kokoh. Bangunan itu engkau mulai dari pondasinya , bukankah begitu? Hendak kamu bangun istana megah pun, susunlah pondasi, kuatkanlah ia hingga tak tergoyahkan . Sampai kapan pun istanamu tak akan berdiri megah, toh kamu masih meratap dan berharap dengan serpihan semangat berlapiskan debu.

Bangunlah, terlalu larut kamu dalam tidurmu. Maukah kutunjukkan caranya membangun pondasi istana itu? Berdirilah, singsingkan lengan bajumu, basuh wajah tidurmu dengan air wudhu’ yang menyejukkan. Tak jugakah engkau rasakan ada asa di dalamnya? Mungkin engkau perlu bersimpuh, merendahkan kepala, tenggelam dalam kerendahan hati. Buang jauh-jauh keangkuhan dirimu, bersujudlah, menangis, kabarkan semua isi hati yang terpilukan itu. Jangan angkat kepalamu hingga hati pilumu terkikis habis. Tengadahkan tangan, berharap kepada-Nya. Menghiba pada-Nya tak ada salahnya, takkan menyisakan hati nan pilu, takkan sepahit berharap kepada manusia.

Hai anak muda, sekarang bolehkah aku bertanya? Manakah yang lebih ber-asa? Serpihan semangat nan berdebu atau pondasi emas nan kokoh? (dakwatuna.com/hdn)

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, tahun 2014. Dulu aktif di organisasi kampus, BEM KM FK Unand sebagai Ketua Umum dan saat ini aktif sebagai Relawan Bulan Sabit Merah Indonesia Cabang Padang. Saat ini sedang mengikuti Program Dokter Intersip Indonesia di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Dan ditempatkan di RSUD Sijunjung dan Puskesmas Gambok Muaro Sijunjung.

Lihat Juga

Bayang-Bayang Cermin yang Berdebu

Figure
Organization