Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Meniti Masa Meraih Asa

Meniti Masa Meraih Asa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (presbydestrian.wordpress.com)
Ilustrasi. (presbydestrian.wordpress.com)

dakwatuna.com – Inilah hakekat dari perjalanan hidup. Waktu adalah bagian dari proses pembelajaran yang akan memberi banyak hal, bisa jadi mendewasakan kita atau malah meninabobokan lantaran kita kurang bisa mengambil pelajaran berharga dari waktu.

Terkadang kita lupa bahwa waktu tidak akan pernah kompromi, ia akan terus berjalan namun selalu menyapa disetiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun. Ia tersenyum kala kita kembali menyapa dan mengisinya dengan segudang aktivitas yang bermanfaat. Iapun bahagia saat ia selalu disanding dengan sejuta asa dan optimisme tuk meraih mimpi, bahkan ia begitu bahagia karena merasa dihargai dan bermanfaat bagi manusia. Sebaliknya ia akan bersedih disaat orang sudah tidak lagi mempedulikannya, bahkan menyia-nyiakannya seolah kehadirannya tidak berarti apa-apa bagi manusia, padahal kehadirannya begitu penting sampai-sampai Allah bersumpah demi dia.

Membuka memori masa lalu dengan cerita indah dan membahagiakan adalah cara untuk membangkitkan semangat akan terwujudnya mimpi indah di masa yang akan datang. Memori tentang kesedihan masa lalupun akan menjadi pelajaran penting bahwa Allah masih memberi peluang agar kita men-setting ulang agar tidak jatuh kedua kali. Waktu mengajarkan kepada kita bagaimana hidup dengan misi yang akan memupuk keyakinan dan meraih asa.

Begitulah Alquran mengajarkan pada kita hingga seperenam dari keseluruhan ayat bercerita tentang sejarah masa lalu dari perjalanan anak manusia dari generasi ke generasi. Waktu mengingatkan kita pada visi hidup dan cara menjalaninya. Waktu juga membuka cakrawala berpikir kita bahwa setiap yang berawal akan berakhir. Sejarah mencatat kehidupan orang sukses dengan mampu memahami bagaimana mengawali hidup dan mengakhirinya.

Nabi Ibrahim AS menjalani waktu hidupnya dengan tetap menjaga misi hidupnya, dari situlah muncul keyakinan sehingga api menjadi dingin, atau nabi Yunus AS yang tetap hidup dalam ikan paus, atau Nabi Sulaiman yang tetap pada pendiriannya untuk menjadi hamba yang bersyukur di saat kekayaannya tidak ada yang dapat menimpalinya. Semua berawal dari memahami waktu sebagai given untuk bisa menjadi hamba terbaik.

Pepatah arab mengatakan “engkau dilahirkan dalam keadaan menangis, sementara orang di sekitarmu tersenyum gembira, maka laluilah hidupmu dan akhiri hidupmu dengan senyuman, sementara orang di sekitarmu menangis sedih karena merasa kehilangan karya-karya besarmu”

Tataplah masa depan dengan senyuman yang menyertai keyakinan, dan jangan pernah kehilangan asa karena hidup tanpa asa tidak akan bertahan lama. Lakukan yang terbaik dan bermanfaat untuk makhluk karena memang itulah tugas kita yang sesungguhnya.

 

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Manager SMPIT Thariq Bin Ziyad Boarding School Kabupaten Bekasi Sejak Tahun 2011. Menamatkan gelar S2 di Universitas Islam Umdurman, Sudan. Pernah menjabat sebagai Dosen di STAI Bani Saleh bahkan juga sebagai Narasumber radio Gema Annisa 12.8 FM dan acara solusi islam di Badar TV Bekasi. Berbagai Pengalaman Organisasi yang pernah diikuti antara lain, sebagai Pimpinan redaksi majalah Fajar, Cairo Mesir dan Sekretaris Forum Mahasiswa Mesir Indonesia. Selain itu berbagai Training atau pelatihan yang pernah diikuti beberapa diantaranya Pelatihan zakat oleh PCNU Mesir, Penulisan Karya Ilmiah oleh IIIT Mesir, Training Heart Interlegence oleh lembaga SINERGI.

Lihat Juga

Jangan Ragu Menggambarkan Cita-Cita