Home / Narasi Islam / Ekonomi / Bekerja Keras Dalam Iman

Bekerja Keras Dalam Iman

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi, bekerja  kitabngeri.blogspot.com)(
ilustrasi, bekerja kitabngeri.blogspot.com)(

dakwatuna.com – Sebagian besar waktu manusia dihabiskan dalam bekerja mencari uang. Hal ini dijalani hampir seluruh manusia di dunia. Kita mengisi waktu sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi dengan kegiatan-kegiatan yang tujuannya sama, yaitu mencari uang. Hampir semua pertemuan-pertemuan di hotel, warung kopi, restoran, dan tempat lainnya adalah dalam rangka bisnis mencari uang.

Aktivitas mencari uang, terkadang tidak hanya menghabiskan banyak waktu, tapi juga banyak melalaikan manusia dari kewajibannya kepada Allah SWT. Banyak manusia yang menunda shalat karena alasan bekerja, bahkan banyak yang tidak mampu menjaga shalat lima waktunya. Fenomena shalat bolong-bolong seolah-olah merupakan hal yang umum dan wajar.

Shalat wajib hanya membutuhkan sekitar lima menit saja. Namun, banyak yang merasa tidak sempat. Mereka menganggap bekerja lebih penting daripada yang lain, termasuk shalat. Seolah-olah, mereka lebih takut MISKIN daripada takut NERAKA. Meninggalkan shalat karena sibuk bekerja sama saja memilih kenikmatan dunia dan tidak takut siksa neraka.

Mengabaikan shalat karena alasan sibuk bekerja sepertinya hal yang bisa dimaklumi, mereka menganggap hal itu wajar saja. Inilah bukti, bahwa setan memang ada di antara kita. Dia menyesatkan manusia dengan membuat terlihat baik perbuatan yang sebenarnya buruk itu. Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :

Artinya: Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. Faathir : 8)

Bekerja keras mencari uang tapi bermalas-malasan dalam memenuhi kewajiban kepada Allah SWT bukanlah hal yang benar. Hal ini terlihat benar karena ulah setan, sesuai ayat di atas. Ingatlah, setan hanya mengajak kepada keburukan. Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :

Artinya: Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah : 268)

Dari ayat di atas, Allah SWT menjelaskan bahwa ketakutan manusia terhadap kemiskinan sehingga bekerja keras sampai-sampai mengabaikan kewajibannya kepada Allah adalah hasil ulah setan. Allah SWT memberikan petunjuk di dalam Alquran bagaimana bekerja yang benar dan mendapat ridha di sisi Allah SWT, perhatikan ayat berikut ini :

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al Munaafiquun : 9)

Berdasarkan ayat di atas, Allah SWT memberitahukan kepada kita sebagai manusia bahwa boleh saja bekerja, namun jangan sampai harta benda membuat kita melalaikan dari mengingat Allah. Melalaikan dari mengingat kewajiban kita kepada Allah SWT, sehingga membuat kita termasuk orang-orang yang MERUGI. Bekerjalah saudaraku, namun jangan lupa penuhi kewajiban kita kepada Allah SWT supaya kita BERUNTUNG.

Ada yang menarik dalam kata BERUNTUNG di atas. Orang bijak ada yang mengatakan, orang yang bekerja keras sekeras apa pun bisa kalah dengan satu jenis orang, yaitu orang yang BERUNTUNG. Benar bukan? Dan yang bisa membuat manusia beruntung hanya Allah SWT. Itulah sebabnya, ada manusia yang bekerja biasa saja tapi rezekinya lebih baik daripada yang bekerja hampir sepanjang hari. Sungguh Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu, Dialah Allah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki siapapun yang dikehendaki-Nya. Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :

Artinya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (QS. Ar Ruum : 37)

Berdasarkan ayat di atas, Allah SWT menjelaskan bahwa hanya Allah SWT saja yang dapat melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang, tidak peduli berapa banyak waktu yang anda gunakan untuk bekerja, tidak peduli berapa banyak karyawan anda, tidak peduli siapa bos anda, dan tidak peduli meskipun anda mengurangi waktu bekerja demi memenuhi kewajiban anda kepada Allah SWT. Tetaplah Allah akan melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai kehendak-Nya, maka berusahalah untuk menjadi manusia yang BERUNTUNG di sisi Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Anak kedua dari tujuh bersaudara. Lulus dari jurusan Akuntansi Universitas Islam Malang pada tahun 2005. Menjadi santri di beberapa pondok pesantren di Jawa Tengah sejak tahun 1994 sampai tahun 2000. Bekerja di beberapa perusahaan swasta sejak tahun 2005. Memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai General Manager pada tahun 2012 dan berwiraswasta sampai sekarang.

Lihat Juga

Dakwah, Belajar, Bekerja : Berusaha Menjadi Umat Terbaik