Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sebelum Merasakan Nikmatnya Ibadah

Sebelum Merasakan Nikmatnya Ibadah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Mendatangi masjid untuk shalat Zhuhur, saya terlambat shalat berjamaah rombongan pertama. Keperluan di kantor yang dilanjut makan siang membuat saya hanya bisa mengikuti rombongan shalat jamaah berikutnya.

Lalu sempat terpikir untuk memperbaiki semangat beribadah. Saya harus membaca lagi artikel-artikel fadhilah amal, atau kalau perlu membaca khusyuknya ibadah para sufi yang lurus.

Di dalam masjid, beberapa jamaah ada yang sudah beranjak meninggalkan tempat shalatnya, dan sebagian masih duduk meneruskan dzikir. Ada ruang kosong di tengah yang dapatshaf

diisi untuk shalat jamaah gelombang berikutnya. Kami yang belum menunaikan kewajiban segera menuju ke sana berkumpul membentuk shaf.

Di dekat shaf pertama, ada seorang yang terlihat begitu asyik berdzikir. Menundukkan kepala, memejamkan mata, dan memutar tasbih dengan mulut komat-kamit. Entah ia mendengar iqamat yang dikumandangkan di dekatnya, atau tidak.

Orang-orang makin berdatangan untuk bergabung. Sementara shaf pertama mentok oleh orang yang duduk itu. Ditunggu-tunggu, orang itu tak jua beranjak. Akhirnya dibuatlah shaf kedua.

Peristiwa tadi menyentuh saya. Ada yang lebih penting dari merasakan nikmatnya beribadah, yaitu peduli dengan sesama.

Teringat kisah Rasulullah saw mempercepat shalatnya saat ia sedang mengimami umat muslim, karena terdengar suara anak kecil menangis. Agar sang ibu yang ikut serta berjamaah bisa segera mengurusi anaknya. (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim)

Yusuf Qaradhawi dalam Fiqh Aulawiyat pun menjelaskan bahwa hak hamba lebih prioritas atas hak Allah semata-mata. (Untuk mengerti duduk perkaranya dan menghindari salah paham, silakan langsung merujuk ke buku tersebut)

Orang yang asyik duduk berdzikir tadi menyentil saya untuk introspeksi adakah perilaku saya yang kurang peduli dengan sekitar? Ya, saya tetap harus mencoba memperbaiki kualitas ibadah saya yang kurang ini, tapi yang utama adalah jangan sampai ibadah saya baik namun hubungan pada sesama manusia buruk. Atau malah ibadah saya membuat orang lain kesusahan. Allahu a’lam (zico/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Ayah dari 2 anak yang tinggal di Depok. Minat dengan diskusi keilmuan soal keislaman. Menumpahkan pikirannya pada blog: http://zicoofficial.wordpress.com serta http://muslimpolitan.com

Lihat Juga

Launcing Rumah Quran Nusantara di Kotawaringin Barat

Figure
Organization