Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Wajah, Dagu, Serta Sujudmu

Wajah, Dagu, Serta Sujudmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: kanald.ro)
Ilustrasi. (Foto: kanald.ro)

dakwatuna.com – Jangan mendongak ke atas seperti ketinggian langit, sebab ketinggian langit takkan mampu kau ukur sekalipun disiplin ilmu yang sedang atau telah kau tekuni adalah bidang astronomi atau bidang fisika. Tersebab langit yang engkau pahami selama ini mungkin hanya bermodalkan pemahaman berdasarkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang kau dapatkan di sekolah. Tak pernah kah kau membuka Alquran, membaca tafsir, atau membaca dan mendengarkan kajian para ‘ulama tentang pengertian langit yang sebenarnya berdasarkan Alquran? Tetapi pada kesempatan kali ini penulis tak ingin memperuncing perdebatan tentang definisi langit yang sesungguhnya. Hanya ingin sedikit menggugahmu betapa perilakumu yang sering mengangkat wajah dan dagu seakan-akan ingin menyaingi ketinggian langit dan terlupa akan sejatinya pijakan tanah. Tanah yang kelak akan bersaksi tentang apa saja yang pernah engkau lakukan saat menginjaknya, dengan jelas dan terang tanah akan menceritakan beritanya, dengan tegas dan lugas tanah akan menceritakan kejadian baik dan buruk yang pernah terjadi di atasnya, dengan segala kejujuran dan keterbukaan tanpa ada sesuatu pun yang ditutup-tutupi.

Tulisan ini adalah tulisan pertama yang ingin penulis goreskan ketika untuk kesekian kalinya memijakkan kaki di Kota Daeng, begitu orang-orang menyebutnya. Pusat peradaban Indonesia bagian Timur ini bernama Kota Makassar, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kota yang menyimpan begitu banyak sejarah tentang perjuangan dakwah Islam, sebut saja kisah perjuangan La Ma’daremmeng Sultan Muhammad Saleh, Karaeng Patingalloang, dan Tuanta Salamaka. Semoga goresan ide dari seorang hamba hina yang bersal dari Sulawesi Tengah ini mampu untuk sedikit menundukkan kepala congkak yang terlalu sering melihat ke atas, tak ada habis-habisnya ingin meraup harta dan kesenangan dunia, tak pernah terpuaskan oleh kesenangan yang bersifat material, seakan-akan ia hidup selamanya. Goresan ide ini juga ingin mengingatkan kepada diri penulis pribadi dan kepada para pembaca Dakwatuna sekalian tentang pentingnya untuk menjadikan hanya Allah saja sebagai tujuan hidup, bukan bermaksud menihilkan kebahagiaan, tetapi seperti itulah hakikat kehidupan ini.

Ketika ingin memahami apa sebenarnya tujuan hidup ini, tidak lain dan tidak bukan adalah beribadah kepada Allah SWT, hanya kepada Allah saja. Maka tidak pantas engkau mengangkat wajah dan dagumu setinggi langit dan ingin menunjukkan bahwa engkau menjadi mulia dengan kemolekan rupamu. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan penampilanmu, tetapi Allah melihat hatimu.

Tersebab ada nilai yang lebih mulia daripada sekadar mengandalkan keindahan fisik semata, sebab Allah tak akan melihat itu. Coba engkau sandarkan kembali segala sesuatunya kepada Allah, betapa wajahmu beserta pori-pori dan lekuk-lekuknya begitu sempurna, begitu proporsional dalam bentuk dan rupanya. Setiap organ saraf di wajah yang begitu sempurna ciptaan Allah SWT, sehingga apabila engkau hiasi setiap organ wajahmu dengan tasbih dan tahmid serta sujud, jangan heran apabila ia tampak bercahaya. Bukan sekadar cahaya dalam artian fisik, tetapi cahaya yang memancarkan aura keshalehan, setiap yang memandang dengan penuh ketundukkan, setiap yang memandang dengan pandangan iman, akan larut hatinya, akan luluh perasaannya, dengan segera akan mengingat Allah SWT. Sekarang begitu banyak orang-orang yang melupakan pengaruh itu, betapa mulia dan utamanya mengakrabkan diri dengan orang-orang yang shaleh. Selain menjadi obat hati, berkumpul dengan orang-orang shaleh juga akan membuatmu cenderung menetapi ketaatan dan menjauhi segala kemaksiatan.

Hari ini, karena engkau masih sering mendongakkan kepala dan dagumu ke atas dengan congkak, engkau lebih sering merasa segala sesuatu bisa diukur dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan seringkali diukur dengan kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan. Setelah mengkaji berbagai dorongan kejiwaan yang dapat menyelewengkan seseorang dari keikhlasan, Hasan Al-Banna sampai berkesimpulan bahwa yang paling dominan di antaranya adalah kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan. Betapa sering menjadikan kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan sebagai orientasi utama. Padahal letak kemuliaan seseorang adalah tingkat ketakwaannya.

Betapa congkaknya dirimu berjalan di muka bumi ini dengan wajah dan dagu yang terangkat, menganggap rendah semua orang, merasa dirimu paling hebat, merasa dirimu paling kuat, merasa dirimu paling cerdas. Bukalah sejenak smartphone atau android phone milikmu, bukalah aplikasi google map atau google earth. Sekarang lihat, betapa kecilnya dirimu bukan? Betapa dirimu ini tak terlihat dalam sebuah peta? Lantas dirimu merasa besar? Merasa congkak? Merasa hebat? Tunduk dan sujudlah sebagai tanda pengakuanmu atas betapa tak ada apa-apanya dirimu. Tunduklah dan beribadahlah kepada Allah SWT. Beribadah dengan cara yang diRidhai Allah SWT, cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Betapa Rasulullah SAW memberi contoh penghambaan terbaik kepada Allah SWT adalah dengan menyelamatkan umat manusia dari jilatan api neraka. Api yang akan membakarmu hingga seluruh tubuhmu, baik organ dalam maupun organ luar akan terbakar, mendidih, dan meleleh. Betapa tak ada apa-apanya penderitaanmu di dunia bila dibandingkan dengan panasnya api neraka. Begitupun sebaliknya, betapa tak ada apa-apanya kesenangan yang engkau kejar di dunia dibandingkan dengan indah dan gemerlapnya surga bagi orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mengikuti jejak para Nabi dan Rasul, orang-orang yang menepati janjinya kepada Allah, orang-orang yang syahid dalam perjuangannya di jalan Allah SWT, serta orang-orang yang shaleh.

Tundukkan kepalamu, bersujudlah, tersungkurlah sembari mengingat kesalahan yang pernah engkau lakukan. Mantapkan iman dalam dirimu, keyakinan yang mendalam, dan bukalah hati dan pikiranmu untuk mengikuti majelis Tarbiyah, majelis Halaqah, atau majelis-majelis ilmu lainnya. Sebab dengan berkumpul bersama-sama orang-orang shaleh, yang cinta dan peluh hanya kepada Rabbnya. Sebab seperti itulah cara yang diajarkan oleh para ‘ulama serta para salafunashaleh, tentang keistimewaan kewajiban dakwah. Berdakwahlah, sebab dakwah ini akan terus berjalan, dakwah ini akan terus menyeruak menggenapkan kegelapan-kegelapan zaman. Melalui dakwah, cahaya Allah akan terus menyebar, Allah akan terus menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.

Sekarang, tundukkan secara perlahan wajah dan dagumu ke bumi, sadari bahwa engkau tak ada apa-apanya di bumi Allah yang terlalu luas ini, tumbuhkanlah keinginan belajar dan mulailah tarbiyah, mulailah menghadiri majelis-majelis halaqah serta majelis-majelis ilmu yang akan menyelamatkan hidupmu. Dakwah sejatinya adalah seruan dan ajakan terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, satu saja yang terenyuh hatinya untuk tersadar, satu saja orang yang mendapat hidayah melalui perantaramu, satu saja orang yang ter-rekrut untuk bergabung menjadi pejuang dakwah bersamamu dan barisan dakwah ini, maka itu lebih baik dari onta merah, lebih baik dari seluruh penjuru dunia, lebih baik dan segala apa yang ada di langit dan di bumi ini. Sambutlah seruan ini, tinggalkan egomu, tanggalkan pakaian kebesaranmu, pakaian yang terbuat dari kesombongan, pakaian yang tercipta dari kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, serta kepentingan.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Wajah Sekularisme