Home / Muhamad Fauzi

Muhamad Fauzi

Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Memanggil Peran Para Perantau Dakwah

Ketika benih-benih dakwah sulit untuk tumbuh di belantara ini, mungkin ia perlu disemai pada tempat dimana suasana dan kondisinya kondusif bagi tumbuhnya benih-benih dakwah itu. Persemaian itu bisa berupa tempat yang telah kondusif atau suasana yang relatif mendukung bagi tumbuhnya benih-benih itu, seperti kampus atau lingkungan perantauan. Setelah cukup memadai, barulah bibit-bibit itu ditanam sebagai pohon dakwah di belantara ini. Tapi begitulah, begitu banyak mereka yang telah berinteraksi dengan dakwah ini di perantauan, ketika kembali ke kampung halamannya ini, futur itu akhirnya melanda mereka dengan berbagai sebab.

Baca selengkapnya »

Dunia Islam Perlu Mendukung AS

Pelajar muslim

Di antara inferioritas yang dialami umat ini, keyakinan kita akan superioritas dinul Islam ini tetap harus menumbuhkan komitmen untuk menjadi solusi bagi permasalahan dunia. Islam pernah mentransfer pengetahuan kepada Barat yang mengeluarkan mereka dari masa kegelapan, dan sekarang kembali tugas berat menghadang umat Islam pasca terpilihnya Trump sebagai presiden AS, pada saat Barat sedang menghadapi ekspansi Timur, krisis demografi dan krisis moral.

Baca selengkapnya »

Wahai Umat Akhir Zaman, Timur Bukan Barat!

Perang melawan terorisme yang menjadi salah satu puncak konflik Barat dan Islam bisa jadi merupakan permainan dari pihak ketiga untuk mengadu domba Barat dan Islam itu sendiri, dan ditujukan untuk melemahkan keduanya. Terbukti, sumber daya sangat besar dikeluarkan AS dalam perang melawan terorisme ini, tapi AS tidak mendapatkan hasil apa-apa dari perang ini, termasuk invasinya ke Afghanistan, Irak, dan sebagainya. Justru sebaliknya, dampak dari perang ini justru adalah menguatnya peran Tiongkok dan Syiah yang mulai menggeser supremasi AS.

Baca selengkapnya »

Maaf untuk 16 Tahun yang Lalu

Saya membawa batu bata, melewati lapangan kemudian ditaruh di belakang sekolah. Saya kembali sambil terus menghitung batu bata yang dibawa teman-teman. Namun di sinilah kecerobohan saya. Selama saya tinggalkan, sementara teman-teman terus berputar mengambil batu bata, jumlahnya melebihi dari yang telah ditentukan. Sebisa mungkin saya hentikan, tapi sudah terlambat. Batu bata terlanjur diambil. Untuk lapor kepada guru yang memberi perintah, saya tidak berani. Akhirnya saya diamkan begitu saja kejadian tersebut.

Baca selengkapnya »

Hampir Kusesali yang Telah Kuberikan Itu

Agamaku, memang berada dalam kondisi kekurangan dan keterbatasan. Namun, kondisi itu diperparah oleh perilaku umatnya sendiri, tentang rasa dan kepedulian. Kebetulan, lebaran baru saja berlalu, betapa kebanyakan umat ini terjebak dalam rutinitas yang cenderung foya-foya, seperti menyalakan petasan dan kembang api secara berlebihan. Begitu banyak sumber daya umat ini yang digunakan untuk hal-hal yang bersifat hura-hura, konsumtif, bahkan mubazir, yang semestinya diminimalisir. Kita lebih banyak mencari kesenangan sesaat daripada kebahagiaan yang sesungguhnya. Sementara di antara kita ada orang yang kesusahan, orang sakit yang tak mampu berobat, atau anak yang tak punya biaya untuk sekolah, namun yang lebih peduli pada mereka justru datang dari agama lain.

Baca selengkapnya »

Hudzaifah Sang Paradoks Akhir Zaman

Tapi mungkin belum, dan aku harus masih harus melewati tipu daya-tipu daya yang lebih dahsyat lagi. Dan aku hanya memiliki seuntai doa, Ya Allah, jadikan tipu daya dan kezhaliman yang menimpa kami, tambahan pertolongan bagi kami, menjadi wasilah yang mendekatkan kami kepada apa yang Engkau janjikan kepada kami dan senantiasa menjadi pelipur di antara kepedihan kami, tegaknya agama Islam ini pada semua tempat yang ada timur dan baratnya, pada semua tempat yang dicapai oleh siang dan malamnya.

Baca selengkapnya »

Inefisiensi Anggaran Konsumsi

Anggaran konsumsi pada suatu acara biasanya memakan porsi yang cukup besar. Padahal keberadaan konsumsi tersebut sebenarnya hanya merupakan pelengkap, belum tentu ada urgensinya dengan substansi acaranya sendiri. Seandainya tanpa ada konsumsi pun, acara tetap bisa berlangsung dengan baik. Bisa dikatakan hanya memenuhi aspek kebiasaan dan kepatutan saja.

Baca selengkapnya »

Betapa Ramadhan Adalah Keajaiban

Ramadhan, aku tak mengerti. Puasa ini kita jalani, sedang kita tetap bisa beraktifitas seperti biasa. Ada rasa lelah, lapar dan ngantuk, tetapi ada sisi-sisi di mana produktifitas meningkat. Puasa ini tak membuat kita sakit atau kekurangan gizi, tak pula membuat kita lemah dan bodoh. Bukan hanya menguatkan kita secara rohani, tetapi banyak yang mendapatkan keajaiban secara jasmani. Dengan menjalani puasa, membuat tekanan darah mereka membaik, kadar gula lebih normal, asam lambung mereka menurun.

Baca selengkapnya »
Organization