Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Inefisiensi Anggaran Konsumsi

Inefisiensi Anggaran Konsumsi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pola makan sehat (inet)
Pola makan sehat (inet)

dakwatuna.com – Sudah menjadi pemandangan yang lazim, dalam suatu acara, sisa-sisa snack yang tidak termakan berserakan di sana-sini. Apalagi ketika banyak ketidakhadiran undangan atau peserta acara, sisa snack atau jatah makan yang tidak terbagi bisa banyak sekali, bahkan sampai bertumpuk-tumpuk. Seperti itulah yang biasa terjadi, baik pada acara-acara kekeluargaan hingga acara sosial keagamaan. Bagi kebanyakan institusi dakwah yang masih berkutat pada problematika keterbatasan sumber daya, seharusnya lebih berkepentingan untuk mencari solusi atas problem semacam ini.

Meski tidak penuhnya tingkat kehadiran pada suatu acara sudah biasa terjadi, tak mungkin panitia berani berspekulasi memangkas jumlah persediaan konsumsinya, justru biasanya malah menyiapkan dengan dilebihkan sebagai cadangan. Memakai prinsip lebih baik lebih daripada kurang. Ketika pada suatu acara yang hadir hanya separuh dari undangan, atau bahkan kurang, hal seperti ini menjadi makin memperparah inefisiensi tersebut.

Anggaran konsumsi pada suatu acara biasanya memakan porsi yang cukup besar. Padahal keberadaan konsumsi tersebut sebenarnya hanya merupakan pelengkap, belum tentu ada urgensinya dengan substansi acaranya sendiri. Seandainya tanpa ada konsumsi pun, acara tetap bisa berlangsung dengan baik. Bisa dikatakan hanya memenuhi aspek kebiasaan dan kepatutan saja.

Meski bisa dikatakan agak ‘tega’, tapi ada banyak sisi positif yang didapat, ada sebuah PCM yang anggotanya hanya berkisar tiga puluhan keluarga, tapi mampu mengelola dua panti asuhan sekaligus, belum lagi amal usaha yang lain seperti sekolahan serta kegiatan-kegiatan yang sudah rutin seperti pengajian. Bahkan untuk ukuran orang Muhammadiyah yang cenderung lebih sederhana untuk urusan konsumsi dan seremonial, ada juga yang menilai agak miring. PCM tersebut pernah mengadakan acara yang cukup besar di Bulan Ramadhan. Ketua PDMnya sempat marah, mengadakan acara di waktu puasa itu dianggap ingin irit dengan tanpa menyediakan konsumsi.

Hemat itu konotasinya beda dengan pelit, meski kadang orang banyak berbeda-beda dalam menilai. Suatu ketika mereka mengadakan halal bi halal, tetapi yang hadir hanya dikasih satu bungkus roti, padahal umumnya halal bi halal identik dengan makan-makan. Kalau hanya pengajian, paling hanya disediakan minuman. Kalau untuk rapat-rapat, malah sudah terbiasa tanpa konsumsi sama sekali. Toh nyatanya semua kegiatan itu bisa berjalan tanpa terganggu, juga tidak mengurangi antusiasme atas kegiatan-kegiatan tersebut.

Dalam konteks kebanyakan kita, urusan makanan ini lebih banyak berlebihnya. Tak heran jika membuang-buang makanan sudah menjadi pemandangan biasa. Kebanyakan orang sekarang menderita penyakit kelebihan makanan, bukan kekurangan makanan. Maka perlu bagi kita merubah mindset yang selama ini tertanam, seolah-olah tanpa adanya konsumsi suatu acara menjadi kurang lengkap. Kita perlu menanamkan mindset baru bahwa sumber daya yang dipakai untuk konsumsi tersebut sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih membutuhkan.

Kearifan orang-orang tua kita dalam memberi nasihat tentang makanan, mereka mengajarkan jangan sampai menyisakan makanan, dikatakan makanan yang terbuang itu akan menangis. Islam sendiri melarang sesuatu yang mengarah pada tindakan mubazir. Begitu pula Rasulullah sangat menekankan tentang efisiensi terkait makanan, jangan sampai ada makanan yang terbuang, menakar makanan agar tidak berlebih dalam menyiapkannya, dan jika ada makanan yang terjatuh pun sedapat mungkin dibersihkan. Bahkan sampai ada anjuran untuk menjilati jari-jari tangan sesudah makan, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang manakah yang ada berkahnya.” Begitulah salah satu aspek zuhud yang kian tersisihkan oleh hedonisme zaman kita. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

2 Tahun Jokowi-JK, Anggaran Infrastruktur Tinggi Tapi Daya Saing Global Menurun

Figure
Organization