Home / Pemuda / Essay / Saksikan Bahwa Aku Seorang Jomblo

Saksikan Bahwa Aku Seorang Jomblo

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (wallpaperpanda.com)
Ilustrasi. (wallpaperpanda.com)

dakwatuna.com Sebelum menelusuri artikel ini, mohon pastikan anda jauh dari benda tajam dan pecah belah. Hey Mblo, kita sepakati bahwa setelah tulisan ini berakhir dibaca, tidak ada lagi keperihan dan kepedihan ungkapan berlebih dari banyak orang. Hapus sikap yang mendramatisir keadaan, karena Allah SWT sudah menuliskan skenario yang maha baik untuk jalan hidup kita. Mari minimalisir sindiran dan bully yang secara langsung ataupun kurang langsung mengintimidasi kita, dengan cara yang baik, mengkonversinya menjadi motivasi dan bersikap yang elegan. Jomblo bersatu!

Menjelang datangnya bulan Ramadhan, kita temukan di media sosial bermacam ilmu, gambar penyemangat dan nasihat insan yang ihsan, mulai dari list amalan di bulan suci, doa nan harapan, sampai ungkapan rindu pada bulan suci, “Hayuk, lekas lah tiba wahai bulan penuh maghfirah”. Celakanya, ada yang versi jomblo broh, dengan kalimat yang tak kalah heboh, dengan sindiran halus yang menohok, “Ntar, yang bangunin sahur petasan lagi? Tukang ronda lagi? Ibu bapak lagi?”, dan masih banyak lagi yang terlalu berisiko kalau dituliskan di sini.

Kita tahu semua itu adalah canda dan motivasi, kepada yang terkasihi bujang dan bujangwati. Dan elok kita menyikapinya dengan tenang dan akhlak yang baik. Karena tidak dianjurkan untuk mencak dan marah, sebab sekali lagi itu adalah motivasi berbungkus canda yang sedikit beraroma sindiran (yang sangat halus). Kadang ada yang menyelipkan subliminal message motivasi tadi ke status Facebook dan tweet-nya. Dan jomblo yang baik akan menjadikan itu satu sisi renungan.

Motivasi untuk menyempurnakan separuh agama baiknya tidak datang dari hal hal seperti itu. Sisi renungan yang lebih dominan baiknya hadir dalam upaya mengerjakan sunnah Rasulullah, membangun sebuah keluarga berjuta inspirasi, melahirkan anak anak yang qurota a’yuun, demi keberlangsungan peradaban yang lebih baik, dan keseluruhan sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT. Untuknya diperlukan luasnya persiapan menyangkut ruhiyah atau persiapan jiwa, jasadiyah atau persiapan raga, maaliyah atau persiapan finansial, dan terakhir ijtima’iyah atau persiapan di ranah sosial.

Bujanghidin dan bujanghidah kompak menempah diri masing masing. Karena mereka sadar akan perbaikan diri adalah proses yang seumur hidup sampai ajal menjemput. Sebelum menuju kepada hal yang lebih kompleks, lagi lagi dua kubu jomblo raya bertikai satu sama lain. Bahwa para bujanghidah terganggu dengan interaksi yang terlalu sering dengan kaum lelaki. Dan di satu sisi, sebagian lelaki juga tidak bermaksud begitu. Sindiran kaum di seberangnya mengungkapkan, say no to ikhwan modus. Sementara sebagian bujanghidin terlambat sadar untuk menyadari, apakah yang dilakukannya itu adalah modus atau tidak.

Lalu melalui proses renungan yang agak panjang, mereka menarik kesimpulan dan pelajaran, bahwa segala sesuatu yang rasanya wajar di pihaknya, menjadi kurang wajar di pihak yang lain. Sungguh dari sindiran itu mereka banyak belajar, tapi bagi sebahagian ikhwan yang memang “bermodus operandi” penggoda mereka tak akan terganggu sedikitpun, mereka menikmati sindiran, dengarlah mereka menikmatinya. Mereka yang tak sengaja justru belajar untuk menghormati, sebab niatnya memang untuk berkomunikasi.

Sekarang saatnya khidmat menikmati bulan suci dengan keluarga dan saudara. Menuangkan teh untuk sang ayah, atau menyuapkan butiran kurma untuk sang ibunda. Kesendirian bukan untuk dikutuki, sebab karunia-Nya yang maha luas adalah alasan kenapa kita harusnya bersyukur dan punya arti diri. Kesendirian adalah saat keemasan untuk memperbaiki diri, berusaha jadi yang luar biasa, karena siapa jodoh kita adalah cerminan siapa diri kita sekarang dan nanti. Perbaikan dimulai detik ini dan detik detik berikutnya, dan semoga kesalahan kita di masa lalu oleh Allah SWT diampuni, dimaafkan.

Ba’da tahmid, syahadat dan shalawat. Izinkan penulis merenungi sendiri segala sendi dan ruang diri, bermuhasabah, memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala jenis fakir ilmu dan amal. Moga dapat menjadikan artikel ini sebagian dari syahdunya pengantar kepada bulan yang suci. Marhaban Yaa Ramadhan, Marhaban Yaa Syahrul Mubarak. Maka sebelum semuanya serba terlambat, mari mengenali diri, siapa kita sebenarnya. Mari berbagi nasihat, berbagi tepukan punggung jika saudara kita khianat. Semoga kita penuh taqwa,  iman, Islam dan hamba-Nya yang selalu berbenah, dalam rangka memupuk kualitas diri hanya semata mata untuk keridhaan-Nya. Lalu, beranilah berkata pada dunia, minimal tetangga sebelah, Saksikan bahwa aku seorang jomblo.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 6,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nanda Koswara
Pendiri #MakingPeopleSmileProject wadah kreatif untuk berekspresi di bidang sosial.
  • roesli

    Stuju kadang “segala sesuatu yang rasanya wajar di pihaknya, menjadi kurang wajar di pihak yang lain”

Lihat Juga

Ilustrasi. (fanpop.com)

Renungan di Akhir Ramadhan