Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tak Menghiraukan Panggilan Allah

Tak Menghiraukan Panggilan Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Muadzin sedang mengumandangkan adzan (inet)
Muadzin sedang mengumandangkan adzan (inet)

dakwatuna.com – Apakah yang diinginkan setiap orang ketika sedang antre? Pada saat antri di bank untuk menabung atau mengambil uang, pada saat di SPBU untuk mengisi bahan bakar ataupun mengantre yang lainnya. Tentu, setiap orang ketika mengantre sesuatu ia menginginkan agar bisa berada di posisi yang paling depan agar tak lama menunggu berjam-jam.

Posisi terdepan itulah yang diinginkan sebagian orang pada saat mengantre berbagai urusan dunia. Namun, mengapa tidak banyak orang yang mendambakan dirinya berada di posisi shaf terdepan pada saat shalat berjamaah didirikan?

Bukankah untuk urusan dunia kita menginginkan posisi terdepan? Mengapa pada saat urusan akhirat kita tak menginginkan posisi terdepan? Malah sebaliknya, diri ini sering mengulur-ulurkan waktu pada saat adzan berkumandang kita masih melakukan berbagai aktivitas dunia.

Di dalam hati berkata, “masih belum iqamah”. Sungguh, begitukah gambaran diri ini ketika dipanggil untuk beribadah kepada-Nya? Padahal, itu adalah panggilan Sang Pencipta yang memiliki seisi bumi, langit dan di antara keduanya. Mengapa ketika sesama manusia yang kedudukkannya lebih tinggi memanggil diri ini segera bergegas menghadap kepadanya? Misalnya, ketika seorang warga dipanggil oleh Walikota atau Gubernur, dia akan bergegas menuju panggilan tersebut.

Hanya segelintir orang yang memiliki semangat menyala-nyala tatkala adzan berkumandang, dia bergegas mengambil air wudhu dan bersegera menuju rumah-Nya untuk bisa mendirikan shalat pada posisi terdepan (shaf pertama).

Segelintir yang lainnya, ketika adzan berkumandang masih menjalankan aktivitas dunia tanpa menghiraukan sedikit pun panggilan-Nya. Hatinya seperti terkunci, sehingga tak mampu bergetar ketika asma-Nya disebut lewat lantunan kalimat-kalimat adzan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah keimanannya dan hanya kepada Rabb mereka sajalah  mereka bertawakal.” (Qs.al-Anfal : 2)

Kemanakah hati ini? Jika tak mampu lagi bergetar dan tersentuh ketika nama-Nya digaungkan? Apakah sudah mati ataukah memang sudah terkunci rapat oleh lumuran dosa-dosa?

Berbeda dengan para sahabat Nabi, mereka berlomba-lomba ketika tiba waktu shalat untuk menuju masjid dan menempatkan diri pada posisi shaf terdepan. Sebab mereka yakin akan besarnya pahala yang diperoleh bagi seorang muslim yang melaksanakan shalat di shaf terdepan yang memiliki keistimewaan tersendiri daripada shaf-shaf di belakangnya.

Pada saat mengantre, kita mampu menunggu beberapa saat agar bisa menuju ke depan. Mengapa pada saat shalat berjamaah tanpa harus mengantre kita tak mampu dan tak ingin berada di depan?

Inilah gambaran umat manusia zaman sekarang ini. Semakin hari semakin terlena akan urusan dunia. Sehingga mereka mengalahkan urusan akhirat yang akan menjadi bekal pada saat jatah hidup di dunia ini telah habis masanya.

Kita rela berjam-jam waktu terhabiskan untuk urusan dunia. Tetapi, kita akan merasa berat pada saat urusan akhirat dilakukan berjam-jam. Padahal telah jelas di dalam al-Qur’an dikatakan bahwa akhirat itu lebih utama daripada dunia yang tercantum di dalam surah al-An’am ayat 32

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?”

Ayat di atas menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Kehidupan yang sesungguhnya kelak di akhirat. Sehingga, kita dianjurkan untuk mendahulukan kepentingan akhirat daripada kepentingan dunia. Pada saat tiba waktunya kepentingan akhirat, maka kita tinggalkan semua aktivitas dunia. Berfokus pada ibadah menuju keridhaan-Nya. Seusainya, kita kembali menjalankan aktivitas duniawi agar dikerjakan secara seimbang antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.

Di dalam shalat berjamaah tidak ada istilah antre dalam shaf. Bagi yang datang terlebih dahulu, dia dianjurkan untuk berada di shaf yang terdepan agar memudahkan yang terlambat untuk memasuki masjid. Tapi, realitanya, ada yang datang lebih awal tetapi tetap berada di shaf paling belakang. Tak tahukah dia tentang keistimewaan shaf terdepan?

Sama halnya pada saat kuliah atau berbagai acara seperti seminar, talkshow, training, kebanyakan dari peserta lebih memilih posisi duduk di belakang. Jarang ada orang yang setelah masuk langsung mengambil posisi duduk yang paling depan. Padahal, hak mereka sama. Setelah membayar biaya pendaftaran, mereka bebas duduk di mana saja. Tetapi, mengapa lebih memilih duduk di belakang? Padahal, itu semua beraromakan kebaikan, yakni untuk menuntut ilmu yang akan menjadi pegangan hidup untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

“Barangsiapa yang ingin bahagia hidup di dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin bahagia hidup di akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin bahagia hidup di kedua-duanya maka dengan ilmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mari kita biasakan diri ini berada di posisi terdepan dalam kebaikan dalam berbagai hal terutama ketika mendirikan shalat. Seperti halnya, kita menginginkan posisi terdepan pada saat mengantre urusan dunia. Sehingga, kita tidak hanya menginginkan terdepan untuk urusan dunia tetapi untuk urusan akhirat pun juga yang terdepan.

Berada pada barisan terdepan guna memberikan teladan bagi setiap insan agar mampu diikuti dengan keikhlasan tanpa harus menunggu antrean jikalau semua itu bernuasakan kebaikan.

“Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (adzan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat Isya dan Subuh, maka  pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November