Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Biarkan Aku Mengadu

Biarkan Aku Mengadu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

berdoa_webdakwatuna.com

Wahai engkau sang penguasa
Yang memiliki harta dan kuasa
Bukanlah takdir yang memilihmu
Menjadikan raja di kalanganmu

Bukan aku mendendam padamu
Bukan pula aku benci padamu
Tapi kini aku sadar
Akan penat dan lelah yang bersandar

Wahai malam yang penuh duka
Hari ini aku tatap luka
Yang dulu pernah menganga
Bukan karena sakit, melainkan karena senja

Kini aku tak pernah melangkah
Karena prahara menerpa langkah
Yang telah tersemat dalam darah
Karena luka itu kian parah

Duhai, Sang Penguasa siang dan malam
Aku bersujud padaMu
Dalam setiap rona wajah kekelaman
Yang menjadikan aku renta dan penuh amarah

Keputihan hati telah lama sirna
Hilang entah lama tak kembali
Menjadikan aku terkadang lupa
Bahwa kehidupan akan berakhir pada mati

Langkah demi langkah aku telah tempuh
Menjadikan setiap harapan dan asa dalam peluh
Berjalan bersama perahu bambu
Mengukir angan dalam kelamnya kelabu

Telah lama bahagia dinanti
Telah dekat kemenangan menanti
Telah berlalu masa lalu
Dan telah sirna jiwa-jiwa pembaharu

Bukan seperti ini
Cara yang dipilih untuk bersatu
Dan bukan seperti ini
Cara yang dipilih untuk berpadu

Kalaulah hati terikat
Maka semua akan saling merasa
Untuk mulai beri’tikat
Dalam kebaikan menjaga masa

Duhai, Engkau sang penguasa kalbu
Tak pernah aku merasa seperti ini
Tak berisi
dan menjadi remang dalam abu-abu

Duhai Pemilik Langit dan Bumi
Dalam penantian ini
aku berpadu menunggu
titik terang dalam kecintaan padaMu

Ya, Tuhanku
Mungkinkah aku keliru dalam berucap?
Mungkinkah aku salah dalam bersikap?
Entahlah, hanya Kau yang Maha Tahu

Aku,
Hanya ingin menelaah setiap kehidupan
Untuk tak berhimpit pada kesesatan
Dan tak berhimpit pada kesedihan mendalam

Ya, Tuhanku
aku terkadang lupa akan syariat
Yang menyebabkan aku jatuh pada maksiat
Dan tenggelam pada nista yang berat

Maka hari ini,
Jangan Kau hukum aku dengan hampa setelahnya
Karena rasanya aku tak ingin bertemu dengannya
Meski hanya untuk sebulan saja
Karena aku, ingin melupakan segalanya

“Jika bukan karena jalan dari Engkau, aku lebih memilih untuk pergi,
Namun, aku mengerti, inilah bentuk Rahmat dan RahimMu,
Luka dengan sendirinya, namun semoga Engkaulah yang akan menjadi obatnya
Karena aku mencintaiMu, dan agamaMu, tiada kecintaan lainnya…
Al-Islam…”

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 3,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Abrory Agus Cahya Pramana
Mahasiswa S1 Fakultas Biologi, Ketua Kelompok Studi Herpetologi Fak. Biologi UGM, Santri PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Yogyakarta, Anggota Jamaah Mahasiswa Muslim Biologi. Tertarik dengan dakwah dan penyebaran Islam melalui spreading knowledge.

Lihat Juga

Ilustrasi. (jalbot.blogspot.co.id)

Mari Sadari dan Luruskan Persepsi, Skizofrenia Itu Penyakit Medis, Bukan Mistis