Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Penjaga Ayat-Ayat Cinta-Nya

Penjaga Ayat-Ayat Cinta-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Saya masih ingat betul pertemuan pertama dengannya di sebuah literasi pena berkumpulnya para sahabat pena. Persaudaraan kami berlanjut, bahkan bukan sekadar pertemanan lebih dari itu persaudaraan yang berubah kasih sayang dan kedekatan. Saya sudah menganggapnya seperti mbak, karena memang saya tidak punya mbak “kakak” sekandung. Kalau kakak tak sekandung banyak.

Jakarta, tepatnya Jatipadang city saat ia menyapa seluruh tubuh masih dibalut selimut tebal meringsut di kamar. Pagi ini terasa dingin sekali setelah semalaman suntuk mengerjakan tugas-tugas yang belum rampung. Mata terasa kantuk berat.

“Pagi cinta, bagaimana kabar imanmu hari ini? Sehatkah ia? Bagaimana kabar hafalanmu hari ini? Bertambahkah ia?

Glek! Saya terdiam cukup lama antara sadar dan remang-remang menatap. Kata-katanya memang biasa tapi penuh makna. Selalu bersahabat, sapaannya terasa begitu dekat padahal kami sudah jarang bertemu dan bertegur sapa hampir setengah tahun lamanya. Tiba-tiba ia menyapa kembali memberi motivasi yang sangat berarti.

Saya masih teringat jelas saat kami pernah membicarakan tentang mimpi dan harapan kami tahun-tahun ke depan. Ya, impian yang ingin sekali saya wujudkan bersama mereka “Penjaga Ayat-Ayat CintaNya”. Entah sejak kapan saya ingin sekali merasakan menjadi bagian dari orang-orang yang Allah pilihkan untuk menjaga ayat-ayat cintaNya. Yang pasti saya selalu merindukan saat-saat itu tiba.

“Cinta…”katanya. Sudah sebulan ini aku di Jogja, rasanya kangen denganmu lama tak bersua. Aku di Jogja menggapai mimpi yang dulu sempat tertunda. Kau masih ingat itu, cinta? Mimpi kita bersama…”.

“Menggapai mimpi di Jogja? Melanjutkan studi S2 kah? Tanya saya

“Bukan. Berada di taman penjaga ayat-ayat cintaNya. Mondok di sana.”

“Hah?! Trus kerja dan kuliah S2 nya bagaimana? Tanya saya semakin penasaran

“Ya, begitu deh adanya. Tak apa. Cinta ada yang membuatku selalu cemburu padamu. Kau tau apa? Karena dalam banyak hal dirimu selalu lebih baik dariku. Maka, ingin kutanya sudah berapa juz hafalanmu yang bertambah? Ungkapnya

Lagi-lagi terdiam tanpa kata. Merenungi waktu yang sudah terlewati. Ya Allah kenapa lambat sekali perkembangannya, sedang di luar sana mereka pun berlomba-lomba dalam menjagaNya.

“Belum banyak dan tidak cukup baik perkembangannya.”

“Alhamdulillah masih Allah jaga semangatnya. Sama juga aku hanya setoran saja. Kadang malah tidak setoran karena banyakan muraja’ahnya untuk hafalannya jadi ndak nambah-nambah”

Saya masih penasaran dengan keputusannya fokus menjadi bagian penjaga ayat-ayat cintaNya. Yang saya tahu posisi karier di kantornya cukup baik bahkan ia sedang menempuh master di Universitas bergengsi. Lantas kenapa ia tinggalkan semua itu begitu saja? Apakah hanya sekadar menggapai mimpi yang tertunda, mimpi menjadi para penghafal Qur’an semua hal yang ia telah raih selama ini hilang begitu saja? Aahhh! Rasanya mustahil ada muslimah yang ikhlas mengambil pilihan seperti itu.

Ia melanjutkan pembicaraan. Di sini ada target yang harus dicapai, kami diberi waktu 2-3 hari untuk menambah hafalan minimal 1 Juz. Awalnya bisa tapi lama-lama keteteran juga. Kewalahan. Alhamdulillah ada keringanan dari ustadzah kami diberi waktu satu pekan per juz. Benar saja katamu cinta… tidak pernah kurasakan kenikmatan melebihi kenikmatan menghafal Qur’an.

Berkali-kali saya berucap syukur atas kenikmatan yang Allah berikan dengan dipertemukannya saudari yang shalih yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, memberi motivasi, saling menguatkan dalam ketaatan. Begitu juga ketika jalan takdir membawa saya tentu atas izin Allah disatukan kembali bersama mereka “para penjaga ayat-ayat cintaNya” itu adalah karunia nikmat yang mahalnya tiada terkira.

Kenikmatan tatkala ruh dalam jasad ini semakin hidup karena Al-Quran. Lafaz-lafaz dahsyat itulah yang mampu melampaui amukan gelombang tsunami, lafazh dahsyat itulah yang kelembutannya melebihi jiwa yang senantiasa bertaut dengan akhirat. Mengkajinya lebih segar dan lebih lezat dibandingkan semangkuk es buah segar bagi orang yang sangat kehausan, bahkan lebih lembut dari angin yang bertiup sepoi-sepoi. Ia adalah cahaya yang bersinar di jalan kehidupan orang-orang mukmin agar mereka sampai pada hamparan ketenangan.

Dulu saya tak yakin dengan mimpi yang ingin saya wujudkan bersamanya. Tapi kini saya semakin mantap meneruskannya. Walau banyak yang bilang menghafal Al-Quran itu susah dan berat. Ya, memang betul terutama berat dan susah untuk istiqamah menjaganya. Apalagi bagi mereka yang belum pernah menghafalnya kemudian nekat menghafal tanpa terlebih dahulu melihat kemampuan bacaan Al-Qurannya. Meski mereka memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Semua itu benar. Itupun yang saya rasakan di awal-awal kenekadan saya memilih meraih mimpi-mimpi ini bersamanya walau ditempat yang berbeda.

Di sudut-sudut masjid sehamparan mata memandang mereka para huffaz melantunkan hafalannya dengan nada dan irama yang begitu indah nan mempesona. Di setiap tiang-tiang masjid bahkan selalu saja ada hafizh yang sedang mengulang hafalannya. Tidak siang dan malam. Ada di antara mereka da yang sedang muraja’ah hafalannya mereka mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari keramaian orang lain atau jamaah lainnya. Demi merasakan kenikmatan dan berkonsentrasi membaca dan menghafal Qur’an. Ada cinta di sana… ada rasa yang lain dari biasanya… di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi terlebih kesibukan dan padatnya aktivitas anak Jakarta. Kini masjid itu jadi saksi keseriusan dan tekad mereka yang tengah merengkuk menjadi para penghafal ayat-ayat cintaNya.

Hari demi hari silih berganti. Waktu pun mengiringi setiap detik. Tak terasa sebulan lebih sudah halaman demi halaman semakin bertambah. Walau ada saja hambatan dan ujian yang menghadang tidak menjadi penghalang yang berarti bagi mereka yang sudah mantap dan menancap kuat dalam hatinya. Siapa sangka bila kemudian justru itu bagian dari skenario kemudahan yang Allah karuniakan jika pada akhirnya segala kesulitan, kegagalan, hambatan akan menjadi bumbu-bumbu indah cerita para penjaga ayat-ayat cintaNya. Ia bisa menempuhnya di tengah kepadatan jadwalnya

Satu atap dengan para huffaz adalah karunia dan rizki yang tak terhingga. Membuat hati semakin rindu berjumpa pada malam-malam yang syahdu untuk sekadar melantunkan ayat-ayat cintaNya. Semoga kita pun menjadi bagian dari mereka PARA PENJAGA AYAT-AYAT CINTANYA…

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shita Ismaida

Istri dari Iwan Solahuddin muslimah kelahiran Jakarta ini masih menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Ia juga aktif menulis, tulisannya pernah dimuat di websitus islami.

Meski latar belakang pendidikannya Ekonomi, anak sulung ini justru sangat menyukai sastra. Saat ini ia lebih suka menulis. Penggemar aktivitas petualang dan menantang ini punya hobbi hikking, rafting, traveling.

 

situs web penulis : www.ismaidha.blogspot.com ; www.oasepena.wordpress.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: Achmad Firdaus)

We Are Friend Forever