19:21 - Selasa, 23 September 2014

Menunggu Itu Nikmat

Rubrik: Essay | Oleh: Qitbiya Ilhami - 11/02/13 | 13:30 | 29 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sudah jam 08.00 pagi. Kuliah sudah dimulai. Tapi angkot yang kunaiki saat itu belum juga “move on”. Apa coba yang dirasakan kalian kalau dua jam di angkot yang ga bergerak?? Gelisah karena ini dipastikan telaaaaat..! Ternyata di depan ada kecelakaan truk. Siap-siap gempuran sms ke teman-teman dan sms dosen. Kalau mau alibi seharusnya kami tidak telat. Karena sudah berangkat jam setengah enam. Tapi sesuatu yang biasanya kini tidak biasa.  Pernah mengalami??

Terkadang orang lain menganggap kita yang malas, yah itu kan di mata manusia. Manusia memang terbatas pengetahuannya, wajar suatu peristiwa tidak akan dimaklumi ketika kita berada pada situasi yang berbeda. Semoga bisa dipahami. Namun, ini tetap sebuah kesalahan kalau telat.

Tapi bukan itu fokusnya, di Jakarta dan sekitarnya kemacetan menjadikan kita sebagai “penunggu” jalan. Dan menunggu itu identik dengan membuang-buang waktu.

Beberapa kali dan seringnya menjadi penunggu membuat diri ini berpikir bahwa “menunggu itu nikmat”. Karena saya seorang muslim saya berpikir bahwa Allah menakdirkan kita menunggu karena Allah sangat rindu. Rindu karena kita terlalu sibuk dengan urusan dan aktivitas kita yang padat. Bahkan pada sepertiga malam pun sulit bercengkerama dalam doa, karena kelelahan kita.

Allah Swt membuat kita menunggu karena mungkin “rindu dzikir kita”, rindu tilawah kita, rindu saat kita meluangkan waktu untuk sekadar membaca. Suatu ketika berpikir seperti ini, saat itu pula jadi bersyukur karena diberi waktu menunggu. Jadi bisa berpikir, atau membaca, tilawah pun dzikir. Di perjalanan saja bisa menghabiskan waktu sampai dua jam. Kalau sambil al ma’tsuratan (dzikir pagi petangnya Rasulullah), ga akan sia-sia waktu. Pas sampai di rumah bisa mengerjakan yang lain.

Terkadang justru waktu luang yang mencelakakan. Mari bertanya pada diri sendiri, kalau di rumah karena sudah nyaman dengan keluarga, tempat, nonton TV, dsb. Al ma’tsurat bisa saja “bye bye” alias ga dibaca. Pun sama Al Quran juga, kalau di rumah godaan semakin berat, pun dijalan kita pasti bosan menunggu maka melakukan sesuatu akan sangat membantu. Memang sms juga salah satunya, atau Facebook-an dijalan. Tapi semoga tidak selalu. Sekarang sudah ada aplikasi al Quran digital. Jadi kalau yang belum ‘PeDe’ buka al Quran di jalan/angkot. Bisa gunakan aplikasi tsb.

Ini bukan sok gaya-gayaan atau sok shalih/shalihah. Banyak yang bilang terlalu islami. Jangan salah, kalau dicermati seberapa sering kita melakukan hal-hal yang syar’i? Wajar saja, kalau menyempatkan buat hal-hal yang Allah sangat anjurkan (ibadah sunnah, dsb). Lagian, memang kita muslim/muslimah, masa ga mau dibilang islami? Hati-hati dengan istilah terlalu islami atau agamis kalau merasa tersindir, iman bisa dipertanyakan. Kalau ga mau dibilang islami. Emangnya mau dibilang syait*ni. (woaaa… sorry la yaw). Masya Allah.

Kalau yang ngaku anak gaul harusnya senang dan bangga dibilang islami, karena sungguh baik prasangka mereka. (Dalam hati kan bandel banget, ga tau aja tuh orang riwayat keislamian ini).

Jadi menunggu itu nikmat…!

(Allah lagi kangen sama kamu, kalau dikasih waktu nunggu, pengen kamu inget Allah swt,

Jadi coba bales rasa kangen Allah dengan mengingatNya)

Semoga waktu menunggumu berkah dan waktu kita tidak sia-sia, kalau memang sudah telat, ya sudahlah (seperti Bondan n fade too black). Hindari mengkhawatirkan yang belum terjadi. Contoh: khawatir dimarahin dosen, disuruh keluar kelas, dsb pas telat.

Ya terima aja, tapi saat kamu menunggu, kamu belum dimarahin kan?! Ga ada dosen di situ. Jadi tenang aja. Coba pahami dan rasakan sendiri. Kalimat ini tidak cukup untuk memberikan sensasi menunggu yang nikmat dan tenang serta bermanfaat sebelum dirasakan sendiri.

Selamat menunggu.

Tentang Qitbiya Ilhami

Mahasiswi dan Pengajar. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (10 orang menilai, rata-rata: 8,40 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
61 queries in 1,646 seconds.