Home / Pemuda / Cerpen / Putus Yuuuk!

Putus Yuuuk!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Beberapa hari belakangan ini aku melihat dia murung. Temanku satu itu tak seperti biasanya. Namanya vita, gadis berjilbab modis itu teman sebangkuku. Dia orang yang periang, suka usil, dan selalu membuat orang tertawa, tapi kali ini tingkahnya berbeda 180 derajat dari aslinya. Ada apakah gerangan?

Lama kuperhatikan dirinya yang sedang melamun. Pandangannya jauh keluar jendela kelas.

“Hei, Vit… kamu ga lagi sakit kan?”

Vita menggeleng.

So… what’s going on? Ga biasanya kamu lunglai gini. Ada masalah ya, Vit?”

Vita mengangguk pelan.

Waduh… masalahnya berat banget ya… sampe kamu ga ada semangat gini, emang masalahnya apa? Cerita dong ke aku, siapa tau aku bisa bantu.” Aku membujuk Vita.

“Aku putus sama Rio, Ra.”

“Hah? Berarti lagi patah hati?”

Vita lagi-lagi mengangguk. Aku tersenyum. Vita melirikku lalu berujar,

“Jahat banget, kelihatannya kamu seneng kalo aku putus.”

Hehe... emang seneng.”

“Lho kok?”

“Alhamdulillah… Allah udah kasih jalan yang bener buat kamu, Vit.”

“Aku beneran ga ngerti maksud kamu, Ra… sumpah!”

“Dengerin ya… aku yakin kamu udah tau kan pacaran itu aktivitas yang dilarang oleh agama kita. Sepertinya ini momen yang tepat buat ngasih tau ke kamu, mengapa aku ga suka kamu pacaran, bukan hanya dengan Rio tapi dengan yang lain juga. Dalam hadits dijelaskan, Janganlah salah seorang di antara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin. (HR. Ahmad)

Dalam sejarah, nggak pernah kita dengar bahwa setan menggoda manusia untuk berbuat baik. Yang ada, pekerjaan utama setan adalah untuk menjerumuskan manusia agar berbuat dosa dan kemaksiatan. Hampir mustahil perempuan dan lelaki yang tengah memendam cinta bisa terbebas dari ‘keinginan tertentu’ ketika berinteraksi, berdekatan, apalagi bersentuhan. Hingga akhirnya, terjadilah zina.

Padahal dalam Al-Quran, Allah berkata, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32).

“Tapi, aku cuma pacaran bukan berzina, Ra.”

“Perlu digaris bawahi janganlah kamu mendekati zina, mendekatinya saja ga boleh, Vit. Coba pikirkan, Apalagi yang dapat mendekatkan kita pada zina kalau bukan dengan aktivitas pacaran. Coba Vit, Aku mau tahu alasan kamu pacaran itu apa, ayo sebutin semuanya.”

“Biar ada yang perhatian ke aku, Ra.”

“Orangtua di rumahmu kamu anggap apa Vit? Kasih sayang mereka ga akan tergantikan walau apapun keadaan kamu. Perhatian mereka ke kamu begitu besar, apa masih kurang?”

Vita menyela, “Tapi aku juga pengen ada yang nganter jemput aku.”

“Vit, sepertinya kamu butuh tukang ojek deh, bukan pacar!”

“Terus… kalo aku belanja di mall, ada yang bawain belanjaan aku.”

“Ga usah lebay, Vit. Sewa aja kuli panggul.”

“Tiara, Kalo punya pacar itu buat aku semangat belajar, ini positif lho, Ra.”

“Kamu tega, Vit. Berapa lama sih kenal pacar? Apa aja yang sudah diberikan dia? Bandingkan dengan kebersamaan dan apa yang sudah diberikan keluargamu. Kebersamaan dengan orangtua dan begitu banyak yang sudah mereka berikan. Kenapa orangtua nggak cukup menjadi motivasi belajar?”

Vita kali ini terdiam. Dia menunduk.

“Vita… kamu sahabat aku. Aku cuma berharap yang datang pada diri kamu itu kebaikan, bukan keburukan. Ingatlah bahwa dalam diri pemuda seperti kita tersimpan banyak sekali potensi. Manfaatkanlah waktu muda kita untuk berperan serta dalam berbagai kegiatan positif. Insya Allah, jika kita menghabiskan seluruh waktu kita untuk beramal shalih, maka tak ada ruang bagi setan untuk membisikkan godaannya demi menjerumuskan kita dalam kemaksiatan bagaimana pun bentuknya, termasuk salah satunya: PACARAN. Mulai sekarang, katakan pada dunia: Say No to Pacaran!”

Vita mengangkat wajahnya, dia tersenyum.

“Kamu bener, aku bangga punya temen sepertimu. Bantu aku ya, Ra…”

Mata vita mengeluarkan setetes bening yang jatuh di pelupuk matanya. Vita lalu memelukku.

Alhamdulillah, semua berakhir indah. Hari ini Allah telah memberi hidayah padanya.

“Vit…”

“Ya?”

“Putus yuk..!”

“Ihh… jahat.”

Vita mencubit pipiku seraya tersenyum lebar. Aku meringis menahan sakit, tapi aku tetap tersenyum, senyum bahagia atas nikmat persahabatan indah yang dikaruniai Allah untuk kami berdua…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,69 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang Penulis asal Palembang, pernah menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya.
  • Boyon

    saya bapak 3 anak..sebelum nikah belum pernah pacaran…kata orang emang tampang gak laku… kata orang sih…tapi kata Allah SWT tentu lain… di umur yg ke 28 tiba2 saja (catat..tiba2 saja) ada seseorang yang datang yang sekarang jadi istri saya dengan cara yang tidak disangka2… hanya karena e-mail (lotus notes) nyasar…kami berbalas pantun sehingga memutuskan kecocokan untuk nikah tanpa ada proses pacaran (secara fisik) karena dia di Pekanbaru..saya di Jakarta…kebetulan kami satu suku juga .Minang… Alhamdulillah..saya yg tidak laku menurut kadar manusia ini… ternyata di-LAKU-kan oleh perantara kasih sayang Allah Rahman Rahiim…Allahu Akbar…. artinya… Minta saja ke Allah..gawsa Pacar2an yang jelas di Haram kan… itu pendapat pribadi saya yang bodoh ini..maaf…

Lihat Juga

Ilustrasi. (wikimedia.org)

Hari Terakhir Bersama Ayah

Organization