Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Amal Spesial, Manajemen Hati

Amal Spesial, Manajemen Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Suatu ketika, Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang duduk-duduk di masjid setelah melaksanakan shalat. Tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda,

“Sebentar lagi akan ada seseorang yang akan dijamin masuk surga oleh Allah SWT.”

Para sahabat penasaran dan menanti, siapakah yang Rasulullah SAW maksudkan. Tak berapa lama kemudian, masuklah seorang arab badui ke dalam masjid (berikutnya disebut si fulan). Fulan langsung melaksanakan shalat, kemudian berlalu setelah melakukannya.

Keesokan harinya, Rasulullah bersabda hal yang sama pada kesempatan yang sama. Kemudian, terlihatlah si fulan kembali untuk melaksanakan shalat, kemudian ia berlalu setelah melakukannya. Kejadian ini berlangsung selama 3 hari berturut-turut sehingga membuat salah satu sahabat nabi yang bernama Abdullah ibn Amr penasaran. Apa kira-kira amal yang ia perbuat sehingga ia bisa dijamin Allah masuk surga? Akhirnya ia memutuskan untuk mengikutinya hingga ke rumahnya. Setelah ia mengetahui rumahnya, maka Abdullah ibn Amr memutuskan untuk menginap selama 3 hari ke depan untuk dapat mengetahui amalan apa yang fulan lakukan.

Keesokan harinya, Abdullah bin Amr mengunjungi fulan di rumahnya. Ia berkata bahwa ia meminta kesediaan fulan untuk mengizinkan ia menginap dengan alasan bahwa ia sedang ada masalah dengan ayahnya dan tidak ingin menemuinya selama 3 hari ke depan. Fulan kemudian mengizinkan Abdullah bin Amr untuk menginap.

Selama 3 hari, segala perbuatan fulan ia perhatikan tanpa terlewat. Abdullah bin Amr tidak menemukan satu pun amalan yang istimewa. Tahajud pun jarang fulan lakukan, meskipun si fulan selalu berzikir ketika tidurnya terganggu di tengah malam dan ketika bangun tidur. Akhirnya sebelum berpamitan pada hari ketiga, Abdullah bin Amr berkata kepada fulan tadi.

“Wahai fulan, sesungguhnya aku tidak ada masalah dengan ayahku. Aku melakukan ini (menginap) karena ingin tahu ibadah khusus yang engkau lakukan, karena Rasulullah SAW berulang kali mengatakan bahwa Allah menjaminmu surga.”

Maka si fulan tadi menjawab,

“Aku memang tidak memiliki amalan atau ibadah yang istimewa, hanya saja aku tidak memiliki rasa benci, iri, dengki terhadap semua orang.”

***

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT, si fulan tadi tidak memiliki amalan mahdhah yang spesial. Si fulan juga jarang melaksanakan tahajud. Akan tetapi, Allah SWT melalui Rasulullah SAW menjamin fulan masuk ke dalam surga, dikarenakan kemampuan manajemen hatinya yang baik. Allah Maha Besar, Allah Maha Pemurah. Manajemen hati atau yang biasa disebut oleh Ustadz Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai Manajemen Qolbu, adalah perkara yang besar. Sebagaimana Aa Gym pernah sampaikan dalam ceramahnya dan dikutipnya menjadi sebuah lagu,

“Bila hati kian bersih, pikiran pun akan jernih
Semangat hidup nan gigih, prestasi mudah di raih
Namun bila hati busuk, pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk, jadi makhluk terkutuk.”

Kita sering melihat dalam fenomena sehari-hari atau bahkan dari kisah-kisah, bahwa seseorang yang memiliki penyakit hati di antara 3 hal tadi, pasti tidak akan menjalani kehidupan sehari-hari dengan nyaman. Hatinya akan gundah karena iri kala temannya lebih dahulu menyelesaikan pendidikannya. Hatinya akan gelisah karena dengki kala tetangganya membeli mobil atau berwisata ke luar negeri. Kemudian akan timbul rasa benci karena dirinya tidak mendapati hal yang sama pada dirinya. Kebencian yang timbul dapat membesar dan menjadi amal buruk seperti ghibah, fitnah, dan tindakan kriminal. Akhirnya akhlak yang seharusnya baik mulai ternodai, pikiran-pikiran penuh dengan pikiran negatif tentang orang lain, dan kehidupan akan terasa sempit.

Namun kita bandingkan dengan kehidupan orang-orang yang tidak memiliki 3 hal tadi. Hatinya akan tetap tenang ketika orang lain menerima nikmat Allah SWT. Hatinya akan tetap sabar, bahkan berdoa agar Allah karuniakan qana’ah kepada kehidupannya. Maka betapa indah hidupnya orang yang seperti ini. Tidak pernah pusing karena kehidupan orang lain, dan tidak pernah merasa kecil karena kehidupan orang lain pula. Hatinya tetap akan lapang dengan semua ketentuan Allah kepada diri dan keluarganya.

Maka inilah yang disebut dengan amal spesial. Sebuah amal yang dapat menjadi “andalan” bagi seorang hamba dalam mengais pahala di kehidupan dunia ini. Sebuah amal spesial yang tidak seorang pun menyadari dan lakukan. Amal spesial ini jugalah yang dapat kita jadikan tawasul kepada Allah SWT ketika kita memiliki hajat atau meminta sesuatu kepada Allah SWT. Sebagaimana kisah yang terkenal, ketika 3 orang sahabat terjebak dalam sebuah gua. Maka ke 3 sahabat tadi ber-tawasul kepada Allah SWT atas amal-amal yang sudah mereka lakukan agar Allah selamatkan mereka dari terjebak dalam gua.

Insya Allah, sudah banyak berita-berita dan kisah para ulama yang mereka memiliki amal spesial, entah itu dalam bentuk infaq/shadaqah, shalat sunnah, zikir tertentu, adab dan akhlak tertentu, hingga hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan sama sekali, tapi insya Allah bernilai kebaikan dan pahala disisi Allah SWT.

Maka tugas kita adalah, mari kita coba lakukan sebuah amal spesial. Mari kita tiru bahkan kita improve amal tersebut, sehingga kita dapat bersaksi di hadapan Allah dengan amal spesial kita, dan mudah-mudahan Allah balas dengan kenikmatan berupa surga yang tiada terbayangkan oleh jangkauan pikiran dan imajinasi manusia.

Sumber: taujih murabbi dalam liqa pribadi.

(dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Imam Agung Setiawan
Mahasiswa S1 Fakultas Teknik UI, pegiat ilmu keislaman dan sejarah islam, dan seorang yang mencoba peduli terhadap sekitar

Lihat Juga

Manajemen Pelayanan Publik

Figure
Organization