Home / Esa Wandira

Esa Wandira

Pelajar SMAN 1 Bandar yang kini aktif menulis di sejumlah media masa dan situs web, beberapa karyanya termasuk artikel dan puisi pernah muncul di tabloid pendidikan. Siswi kelas tiga ini juga gemar menebar kebajikan melalui film pendek, menulis skenario dan terlibat dalam pembuatan perfilman di sekolahnya.

Ihwal Syair

Dengan demikian mendengarkan, membaca atau menulis syair itu boleh-boleh saja, selama syair itu sarat akan kebaikan dan hikmah yang bisa kita serap darinya sebagaimana syair yang mendzikir-dzikirkan asma Agung Allah swt, syair yang memuat puji-pujian dan sanjungan terhadap Baginda Nabi, syair yang mengajarkan nilai moral seperti menolong sesama, berbakti pada orang tua dan sebagainya. Jadi bagi anda yang senang dengan syair tak perlu cemas ataupun dilema lagi.

Baca selengkapnya »

Bila Esok Meninggal

Kematian tidak pernah memandang status sosial, tidak pernah memandang umur, tidak akan memandang ras atau apapun. Kematian hakikatnya dapat mengenai siapa saja yang telah Allah tetapkan, bagi yang kaya raya atau yang jelata, pengemis hingga orang-orang terhormat, laki-laki maupun perempuan semua jiwa pasti dekat dengan kematian. Allah telah memberi masing-masing dari kita jatah waktu untuk mengumpulkan perbekalan, sedangkan jatah umur itu tiap hari terus-menerus berkurang, lalu apa saja yang telah kita lakukan selama ini? Sudahkah kita lakukan sesuatu yang berguna, yang paling tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri?

Baca selengkapnya »

Ayah Sang Kesatria Hati

Untuk menyambung hidup anak-anak dan istrinya ia bekerja keras siang malam, melimpahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk mereguk secuil nafkah. Moral dan lelaku anak-anaknya adalah berkat didikannya, juga tiap deras peluhnya yang berjuang menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang tertinggi.

Baca selengkapnya »

Berteduh di Awan Metropolitan

Sungguh... Kikuk saat menyaksikan sendiri para wanita dan balita itu menghadapi realistis peliknya hidup di ibu kota, layaknya para perantau pada umumnya... Mereka adalah beberapa dari sekian ratus ribu orang yang gagal mengadu nasib di perantauan. Lalu? Yang perlu di sayangkan adalah kelancangan dan kenekatan mereka, barangkali mereka hidup miskin, kekurangan dan jauh dari perhatian pemerintah di kampung halaman,, namun tidak seharusnya mereka jadikan itu sejumlah alasan dan argumentasi untuk meninggalkan kampung halaman mereka tanpa bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Baca selengkapnya »

Belajar Kokoh dari Nabi Ayyub AS

Begitulah seharusnya seorang muslim yang sejati, ujian dan cobaan itu pasti dan sesuatu yang haq menimpa setiap muslim, karena hakikatnya dunia adalah ranah kefanaan, ranah kenelangsaan dan penuh dengan cambukan yang menyakitkan. Namun kalau kita kokoh seperti Nabi Ayyub AS, memiliki kepercayaan yang tegak dan ajeg mengenai adanya sang Tuhan yang Maha Mengatur semuanya, di atasnya kita malah menjadi tahu dan dapat menuai ibrah berupa hikmah di baliknya. Seorang muslim yang sadar akan keberadaan Tuhannya ibaratnya seperti pohon yang berakar kuat, mau diguncang dan ditiup badai sedahsyat apapun masih tegak berdiri, bahkan semakin tinggi menjulang seiring jalannya masa kehidupan yang perlahan di jejakinya dari waktu ke waktu.

Baca selengkapnya »

Belajar Memaafkan

Begitulah, sikap kebesaran hati dan memaafkan yang dapat membopong kita pada kemenangan dan cukup sebagai pelajaran, segala perlakuan yang pernah seseorang lakukan kepada kita, supaya kita tahu rasanya sakit sehingga membuat kita lebih tahu-menahu dan menyadari betapa jangan sampai orang lain mengalami hal yang sama menyakitkannya seperti kita. "Namun kita mudah memaafkan jika kita sadar bahwa memaafkan jauh memberikan manfaat daripada dendam. Ketenangan diraih bukan dengan balas dendam tetapi memaafkan"-Rahmat Mr. Power.

Baca selengkapnya »

Man Jadda Wajada

Bila dilihat dari masing-masing suku kata, kata Man berarti siapa, Jadda berarti bersungguh-sungguh, sementara Wajada berarti berhasil, maka bila di artikan secara keseluruhan, kata Man Jadda Wajada memiliki makna "barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil". Dari pepatah ini kesungguhan menjadi kata kuncinya atau aspek pokok dalam meraih hajat atau impian seseorang, tanpa kesungguhan ini tentu harapan dan impian itu hanyalah bak kelebat angin yang lewat saja.

Baca selengkapnya »

Tafakur “Apa Tujuan Kita Ada”?

Taukah kita selama ini berlomba - lomba mengejar duniawi, sementara duniawi itu macam bayangan yang bila saja teraih akan tidak ada artinya sama sekali, sangat menipu. Manusia yang mengejar duniawi mati - matian laksana dungunya kucing yang mengejar bayangan tubuhnya sendiri. Semua itu mengajari saya cara bermuhasabah, belajar mencintai sesuatu yang lebih menjanjikan, yang dapat menuntun kita untuk dapat meraih kebahagiaan yang hakiki kelak, menuntun kita untuk kebal akan magnit - magnit setan yang menarik kita terperosok dalam tebing yang penuh api dan batu yang membakar, hingga menciptakan sengsara yang abadi.

Baca selengkapnya »

Shalahuddin Al-Ayyubi, Panglima yang Agung

Sepanjang hidupnya, beliau acapkali menyandang sebuah peti yang ditutup rapat. Orang-orang menyangka peti itu berisi permata atau benda berharga lain. Namun, kala Shalahuddin telah wafat petinya dibuka dan ternyata hanya berisi helaian kain kafan, segumpal darah dan secarik surat wasiat. Dalam suratnya Shalahuddin berpesan, “Kafankanlah aku dengan kain kafan yang pernah dibasahi air zam-zam ini, yang pernah mengunjungi Ka'bah yang mulia dan makam Rasulullah. Tanah ini adalah sisa-sisa perang. Buatlah kepalan untuk alas kepalaku di dalam kubur.”

Baca selengkapnya »