Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Man Jadda Wajada

Man Jadda Wajada

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (majix1.deviantart.com)
Ilustrasi (majix1.deviantart.com)

dakwatuna.com – Man Jadda Wajada sebuah pepatah Arab yang menjadi kompas perjalanan dalam mencapai impian, angan, dan cita-cita. Sebuah pepatah yang memiliki kekuatan yang sedemikian takjubnya hingga banyak orang-orang muslim percaya dan memegangnya sebagai prinsip dan pedoman, namun bila seseorang teguh benar menelaah secara mendalam pepatah ini. Maka tidaklah jadi prinsip dan pedoman saja, melainkan akan mendarah daging pada hati dan jiwa seseorang itu.

Pepatah ini begitu menjamur di berbagai lembaga keislaman terutama di kalangan pondok-pondok pesantren dan modern, hampir seluruh santri-santrinya di ajarkan untuk selalu berpedoman pada pepatah ini dalam meraih keberhasilan dan kesuksesan, insya Allah kesuksesan yang di maksud bukan kesuksesan dalam hal keduniawian saja, melainkan juga kesuksesan ukhrawi asalkan pepatah ini benar-benar di terapkan sesuai dengan yang di syariatkan. Pepatah ini menjadi kondang sejak munculnya sebuah novel bertajuk religi karya Ahmad Fuadi dengan judul Negeri Lima Menara, yang mana novel itu benar-benar membumikan pepatah ini sepanjang jalan ceritanya.

Bila dilihat dari masing-masing suku kata, kata Man berarti siapa, Jadda berarti bersungguh-sungguh, sementara Wajada berarti berhasil, maka bila di artikan secara keseluruhan, kata Man Jadda Wajada memiliki makna “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil”. Dari pepatah ini kesungguhan menjadi kata kuncinya atau aspek pokok dalam meraih hajat atau impian seseorang, tanpa kesungguhan ini tentu harapan dan impian itu hanyalah bak kelebat angin yang lewat saja.

Nah, bagi sahabat yang menyimpan angan-angan, harapan dan mempunyai cita-cita setinggi langit namun tidak memiliki sesuatu yang mendukung untuk bisa meraihnya maka janganlah bersedih, jangan jadikan halangan-halangan itu sebagai alasan bagi sahabat untuk mengandalkan pesimis “ah nggak bakalan mungkin bisa”, “sainganku banyak yang lebih mampu dari aku, lebih pintar dari aku” buang jauh-jauh perasaan itu, karena sesungguhnya manusia tidak pernah tahu kepada siapa kelak keberhasilan itu akan memihak, bukankah keberhasilan dan kesuksesan tidak selalu jatuh kepada yang paling pintar dan mampu saja? Banyak kok orang-orang yang berpendidikan tinggi, bergelar sarjana, namun tidak bisa di katakan berhasil dalam hidupnya, karena dia tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang di dapatnya, tidak bisa mengaplikasikan gelar dan pendidikannya, bukan tidak mungkin karena tidak ada sedikitpun kesungguhan dari dalam hati seseorang itu.

Bilamana sahabat mempunyai cita-cita kuliah keluar negeri, ingin jadi dokter, dan sebagainya namun tidak cukup mampu dalam hal biaya dan materi, otak pas-pasan, itu bukanlah masalah karena setiap manusia di bekali dengan potensi yang bisa di kembangkan, selain itu setiap manusia juga di bekali akal yang mana akal itu kita gunakan untuk menerapkan kesungguhan dan keteguhan kita dalam mengembangkan potensi yang kita miliki itu. Namun dalam hal ini tergantung dari sahabat sendiri yang sanggup menjalankannya secara istiqamah ataukah tidak. Karena kesungguhan itu sendiri juga tidak akan berarti apa-apa jika tidak di sertai dengan keajegan atau konsisten dengan tujuannya.

Kesungguhan merupakan fondasi pokok dalam sebuah bangunan kuat nan kokoh, yang mana bangunan itu menggambarkan jalan atau jalur yang menuntun kita ke arah keberhasilan yang kita mau. Sampai atau tidaknya kita pada arah yang kita mau melalui jalan itu tergantung dari kuat atau tidaknya fondasi yang menopang jalan itu. Bila fondasinya saja setengah-setengah, tidak ada kemantapan atau keajegan maka jalan roboh, jatuhlah kita sewaktu perjalanan. Nah jatuhnya kita itulah yang menggambarkan sikap mudah menyerah, pesimis, dan putus asa kita.

Kesungguhan dalam hal ini juga tidak hanya di praktikkan dengan keuletan, ketekunan dan kerja keras saja melainkan juga doa. Berdoa dan yakinlah bahwasanya Allah sangatlah sanggup mengabulkan doa setiap hamba-hamba-Nya yang mau terus berdoa-dan berikhtiar. Nah coba tengok sabda Rasulullah berikut ini “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu, dan Maha Murah Hati, Allah malu bila ada hamba-Nya yang menengadahkan tangan (memohon) lalu di biarkannya kosong dan kecewa” (H.R. Al Hakim). Namun janganlah tergesa-gesa, bersabar sembari tetap jalankan kesungguhan itu secara istiqamah. Tidak akan ada hal menyenangkan yang bisa di raih seseorang dengan mudahnya tanpa proses dan halangan tertentu, melainkan pasti butuh usaha keras dan juga kesabaran. Dalam Shahih Muslim No. 4016, Abu Hurairah RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “Akan di kabulkan doa seseorang di antara kamu sekalian selama dia tidak terburu-buru berkata aku sudah berdoa, tetapi aku tidak atau belum di kabulkan”.

Saya menyimpan sebuah kisah yang mana kisah itu di alami sendiri oleh sepupu saya. Dia seorang pelajar SMA yang teguh benar memegang prinsip Man Jadda Wajada,  dia memiliki sebuah impian besar untuk bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi impiannya, namun apa daya, dia lahir dalam keluarga tak berpunya, tidak bisa di katakan pas-pasan karena bahkan untuk makan sehari-harinya saja masih kurang, dia adalah satu-satunya anak dari keluarganya yang beruntung karena kakak-kakaknya yang tidak bisa merasakan bangku sekolah sampai SMA seperti dirinya, ia bisa sekolah sampai SMA berkat beasiswa tidak mampu. Melihat keadaan orang tua akhirnya mendorongnya untuk belajar lebih giat lagi karena satu-satunya peluang atau jalan yang memungkinkannya untuk bisa masuk perguruan tinggi itu adalah beasiswa prestasi. Hal itu membuatnya sering belajar sampai larut malam, tidak seperti teman-temannya pada umumnya, dia jadi sering  menolak ajakan teman untuk keluar rumah.

Selain itu ia juga aktif berorganisasi dan mengikuti  berbagai lomba hingga memungkinkannya mengoleksi banyak piagam dan penghargaan, barangkali dapat membantunya lolos masuk perguruan tinggi  impiannya nanti. Tidak lupa juga doa restu ibu karena bukan tidak mungkin doa yang paling mujarab adalah doanya. Tiap malam sudah ia sempatkan tahajud, puasa Senin kamis dan amalan-amalan lain. Tak henti-hentinya ia berdoa hingga membuatnya menjadi anak yang jauh lebih berprestasi dari sebelumnya. Pada akhirnya dia mampu masuk perguruan tinggi impiannya itu dengan beasiswa prestasi total  melalui jalur bidik misi. Tentu orang-orang yang dahulu meremehkannya, menanggapi  impiannya dengan senyum ejekan jadi tercengang.

Nah mampu atau tidaknya sahabat, berhasil  atau tidaknya sahabat bukan di lihat dari sisi kemampuan materi orang tua kita, bukan di lihat dari terbatasnya kemampuan kita, melainkan dari kesungguhan kita itu sendiri, melainkan  dari keteguhan hati kita itu sendiri, dan melainkan dari doa kita itu sendiri. Selain itu satu hal yang perlu sahabat garis bawahi, jangan niatkan kesungguhan sahabat itu demi urusan keduniawian saja, melainkan  niatkan segalanya semata-mata karena Allah. Karena barang siapa yang menghendaki ukhrawi,  maka dapatlah pula duniawinya. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Tentang

Pelajar SMAN 1 Bandar yang kini aktif menulis di sejumlah media masa dan situs web, beberapa karyanya termasuk artikel dan puisi pernah muncul di tabloid pendidikan. Siswi kelas tiga ini juga gemar menebar kebajikan melalui film pendek, menulis skenario dan terlibat dalam pembuatan perfilman di sekolahnya.

Lihat Juga

Islam, Antara Impian dan Harapan