Home / Narasi Islam / Politik / Belajar Memaafkan

Belajar Memaafkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (fbexternal-a.akamaihd.net)
Ilustrasi (fbexternal-a.akamaihd.net)

dakwatuna.com – “MAAF” begitu sederhana diucapkan namun berat lagi memberatkan. Begitu mudahnya dibayangkan namun sangatlah sulit dilakukan, terlebih kepada para sukma yang telah terinfeksi baksil-baksil dendam. Betapa kita tahu keberagaman hati manusia berkaitan dengan aktivitas maaf-memaafkan ini, apakah kita termasuk dari orang yang tulus memberi maaf tanpa harus menunggu penyesalan dan permintaan maaf dari seseorang yang berbuat salah itu? Atau hati kita baru akan luluh setelah seseorang itu mengajukan sebuah kalimat “Maukah kamu memaafkan kesalahanku?” atau barangkali sampai seseorang itu menangis-nangis darahpun hati kita mengeras tidak akan sedikitpun memaafkan?

“Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”(QS Asy Syura 42:43)

Hakikatnya memaafkan itu memanglah sulit, terlebih kepada orang yang telah menyakiti, berbuat tidak adil, melecehkan, merobohkan kepercayaan, berbuat kekerasan dan pelbagai perlakuan keji lain yang menyebabkan meranggasnya luka di sekujur jiwa dan raga kita. Apalagi jikalau kesalahan itu dilakukan kepada kita secara sengaja dalam jangka waktu yang lama sampai berdampak buruk terhadap perkembangan mental, jiwa dan masa depan kita. Namun ketahuilah, rupanya malah jauh menyulitkan bila kita termasuk orang-orang yang pelit memberi maaf, jauh menyakitkan bila kita lebih memilih menghabiskan sisa hidup dengan terus-terusan meratapi perlakuan orang lain terhadap kita itu, tanpa sedikitpun berusaha untuk ikhlas, melupakan semuanya dan memulai untuk membuka lembaran baru, walaupun harus penulis sendiri akui bahwa mudah atau sulitnya memaafkan itu tergantung dari besar atau kecilnya kesalahan yang telah seseorang itu perbuat sendiri kepada kita.

Namun resapilah saudaraku, betapa merugi orang-orang yang gemar memelihara dendam, mereka umumnya justru menuai dampaknya sendiri, betapa tidak? Bukankan balas dendam hanya akan meneruskan rantai-rantai permusuhan? Balas dendam bisa jadi malah membuat kita menuai balas dendam darinya kembali, balas dendam lagi juga menuai balas dendam darinya lagi, begitu seterusnya. Dendam itu tidak akan berakhir tidak terkecuali salah satu dari kedua belah pihaknya sudi mengakhirinya dengan mengalah dan ikhlas memaafkan. Alangkah lebih baiknya bila kita serahkan semuanya pada sang Rahman, bukankah kita masih mempunyai MahaKasih? Bukankah selama kita masih memilikiNya sepatutnya kita harus tenang? La Takhof La Tahzan Innallaha Ma’ana, kita serahkan semua beban ini padaNya, jikalau Allah SWT mau dan sudi, pastilah suatu saat nanti Ia tak segan memberi ganjaran, atau lebih patutnya ganjaran yang membuat seseorang itu memperoleh Hidayah dan segera menyesali perbuatannya. Perbanyak istighfar dan tak letih komat-kamit berdoa menjadi salah satu jalan terapi bagi orang-orang yang terjangkit penyakit dendam.

Allah swt berfirman, “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. ” QS an-Nisaa’ [4]:149

Belajar dari Hamka dan Mandela

Kita dapat menilik betapa kebesaran hati sang Hamka yang patut kita jadikan teladan. Dua tahun empat bulan lamanya rezim Soekarno mendekamkannya di penjara atas tuduhan yang sangat mustahil bagi Hamka untuk dilakukan yaitu terkait pelanggaran Undang-Undang Anti Subversif Pempres No. 11 tepatnya tuduhan perencanaan pembunuhan terhadap Presiden RI pertama Soekarno. Hal ini membuat keluarga Hamka terkatung, buku-buku karangan Hamka dilarang beredar hingga membuat pemasukan rumah tangganya mogok. Istri Hamka kemudian tertatih banting tulang demi menghidupi anak-anaknya. Semua perhiasan yang tersisa habis di jual untuk menjajakan seonggok beras. Hamka baru bebas dari belenggu jeruji besi pasca jatuhnya rezim Soekarno. Namun hal itu tidak sedikitpun menyulutkan api dendam di hati Hamka, kebesaran hati dan sikap pemaaf beliau membuatnya dengan senang hati dan tulus memenuhi amanat Soekarno sebelum meninggal untuk mengimami shalat jenazahnya.

Tatkala itu, rekan sejawatnya mempertanyakan sikap yang ditunjukkan Hamka, mengapa beliau mau mengimami sholat jenazah untuk Soekarno, padahal karenanya beliau beberapa tahun silam harus menikmati udara pengap penjara selama beberapa tahun lamanya, terlebih mengenai adanya asumsi sejumlah orang bahwa Soekarno itu komunis dan jenazahnya tidak perlu disholatkan, namun Hamka tetap lurus dan kokoh mengemban amanat itu, apalagi di mata Hamka, Soekarno adalah seorang muslim sejati. Hamka malah justru berterima kasih kepada rezim yang telah menjebloskannya ke penjara, berkatnya selama di penjara beliau dapat merampungkan sebuah karya besar berupa kitab yang kemudian menjadi sangat legendaris sampai ke negeri jiran yaitu Tafsir Al Azhar.

Lain lagi dengan kisah kebesaran hati Mandela, sang presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan. Dunia memujinya dengan deretan pertanyaan “Terbuat dari apakah hati sang Mandela?”

Pada awal abad 21, bangsa kulit hitam Afrika Selatan yang tidak kuasa lagi menerima segala bentuk perlakuan deskriminatif dan realizme dari bangsa kulit putih mulai berani menentang keras sistem apartheid. Mereka mengadakan pemberontakan, demonstrasi secara besar-besaran hingga boikot mogok kerja. Rupanya dalam peristiwa yang mengguncang Afrika Selatan beberapa tahun silam ini, Mandela muncul sebagai tokoh utamanya. Mandela yang kala itu menjadi aktifis utama penentang sistem apartheid lantang menyerukan kemanusiaan dan menuntut perlakuan yang sama adilnya antara bangsa kulit hitam dan bangsa kulit putih. Hal ini berakhir dengan rentetan tragedi yang menelan korban jiwa, beberapa oknum di tangkap dan dijatuhi hukuman seumur hidup tidak terkecuali di antaranya Mandela.

Selama di tahanan, tepatnya di Robben Island Afrika selama 27 tahun lamanya Mandela diperlakukan secara keji dan tak manusiawi oleh sipir penjara, Mandela acapkala dilecehkan, digantung dengan posisi kepala di bawah kemudian kencingi kepalanya, bahkan Mandela disuruh meminum air seninya. Namun beruntungnya siksaan yang melelahkan jiwa dan raga Mandela itu berakhir, hal ini juga tak lepas dari peran seluruh dunia, seiring berjalannya sistem apartheid yang menindas kaum bangsa hitam umumnya, Afrika Selatan semakin terisolasi dari pergaulan dan hubungan internasional. Hal inilah kemudian yang melatar belakangi berakhirnya masa apartheid di Afrika Selatan. Mandela akhirnya lepas dari penjara dan turut dalam pemilihan presiden pertama yang digelar secara adil dan bebas. Mandela berhasil terpilih sebagai presiden Afrika Selatan pertama yang berkulit hitam pada tahun 1994. Tak hanya itu, Mandela berbesar hati merangkul semua lawan politiknya, beliau mengajak seluruh warga Afrika Selatan untuk Forgive but not to forget atau istilahnya memaafkan dengan tidak melupakan segalanya yang telah berlalu. Mandela bahkan menyesal ketika meninggalkan penjara tidak dahulu berpamitan kepada sipir yang menyiksanya sepanjang beliau mendekam di sel.

Hal inilah yang membuat Mandela mengundang sang sipir pada saat pelantikan dirinya sebagai presiden. Mandela menyambutnya layaknya tamu yang terhormat dan menyalaminya dengan santun sembari berkata, “Terima kasih perlakuan anda beberapa tahun silam telah menguatkan saya untuk memenangkan perjuangan ini”. Duhai, berasal dari manakah hati Mandela? Rupanya Mandela menjadikan itu semua sebagai ibrah bagi dirinya supaya lebih kuat, kokoh dan tak mudah roboh. Semua yang dialaminya benar-benar telah mencambuk keras mentalnya, dan memukul keras hatinya sehingga Mandela sadar, kesakitan yang beliau alami memang begitu sakitnya, perihnya, menyiksanya lahir batin, hingga darinya ia sadar seseorang tidak boleh merasakan hal yang sama seperti dirinya, akan tetapi cukup dirinya saja. Inilah mengapa Mandela memilih merangkuli mereka yang pernah dzalim, mengapa Mandela mengajak untuk memaafkan walaupun saat itu bangsa kulit hitam sudah memiliki derajat yang sama tingginya seperti bangsa kulit putih.

“Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta dan tidaklah seseorang yang memaafkan kedzaliman orang lain kecuali Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan ia tidak akan di rugikan”(HR Ahmad No-6908)

Begitulah, sikap kebesaran hati dan memaafkan yang dapat membopong kita pada kemenangan dan cukup sebagai pelajaran, segala perlakuan yang pernah seseorang lakukan kepada kita, supaya kita tahu rasanya sakit sehingga membuat kita lebih tahu-menahu dan menyadari betapa jangan sampai orang lain mengalami hal yang sama menyakitkannya seperti kita.

“Namun kita mudah memaafkan jika kita sadar bahwa memaafkan jauh memberikan manfaat daripada dendam. Ketenangan diraih bukan dengan balas dendam tetapi memaafkan”-Rahmat Mr. Power.

Semoga kita dapat mengambil banyak ibrah dari kisah di atas. (dakwatuna. com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Pelajar SMAN 1 Bandar yang kini aktif menulis di sejumlah media masa dan situs web, beberapa karyanya termasuk artikel dan puisi pernah muncul di tabloid pendidikan. Siswi kelas tiga ini juga gemar menebar kebajikan melalui film pendek, menulis skenario dan terlibat dalam pembuatan perfilman di sekolahnya.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Organization