Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berteduh di Awan Metropolitan

Berteduh di Awan Metropolitan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Saat sudah melaju beberapa ratus kilometer dari rumah. Dan saat sudah berjam – jam sekujur tubuhku kaku mematung di dalam persinggahan bis yang kenyamanannya tidak bisa dikatakan telah cukup memenuhi kepuasan penumpang ini, tidak ada sedikitpun aktifitas yang penting untuk dilakukan selain menikmati tiupan asap sejumlah perokok, sementara di atas ubun – ubunku AC tak kunjung letih menghembuskan suhu dinginnya. Hingga seakan-akan para penumpang merasakan kikuknya bahtera salju di antara kepengapan transportasi para musafir ini. Mataku menyapu seantero gedung – gedung pencakar langit yang yang berkilauan memantulkan berkas – berkas cahaya ke sudut kota. Saat berada di dalam bis ini aku menggigil meski sudah berlapis – lapis menggunakan kaos, jaket, dan sarung namun entah saat membayangkan kengerian polusi dan terik matahari di luar ruangan badanku seakan berpeluh gerah. Belum lagi suara memekak klakson para pengemudi yang meneriaki hal lumrah yang sepertinya sudah menjadi makanan sehari – hari mereka saat berpergian ke luar rumah, baik itu ke kampus, ke tempat kerja dan ke tempat – tempat lain yang mengharuskan mereka semua merasakan ini, hal yang paling dekat adalah kemacetan.

Lantas mataku mengintai wanita – wanita tangguh pedagang asongan yang nyeker tanpa alas kaki menyeruak masuk di antara jajaran kendaraan yang nyaris tak bergerak sama sekali dalam aba – aba polisi elektronik, sembari meneriakkan barang dagangannya, salah satu di antara mereka yang menarik perhatianku mengenakan topi lusuh, berjalan agak pincang, tersaruk beberapa kali, pakaiannya compang – camping sementara wajahnya kumal, ku amati perutnya melambai pedih minta diganjal.

Sungguh… Kikuk saat menyaksikan sendiri para wanita dan balita itu menghadapi realistis peliknya hidup di ibu kota, layaknya para perantau pada umumnya… Mereka adalah beberapa dari sekian ratus ribu orang yang gagal mengadu nasib di perantauan. Lalu? Yang perlu di sayangkan adalah kelancangan dan kenekatan mereka, barangkali mereka hidup miskin, kekurangan dan jauh dari perhatian pemerintah di kampung halaman,, namun tidak seharusnya mereka jadikan itu sejumlah alasan dan argumentasi untuk meninggalkan kampung halaman mereka tanpa bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Tidak difikirkan dulu matang – matang segala konsekuensi dan resikonya nanti saat mereka di haruskan berhadapan langsung dengan kerasnya persaingan di sini, akibatnya gelandangan, perkampungan kumuh, dan para pengemis makin menjamur kemana – mana. Bukankah itu hanya akan menambah beban pemerintah? Tiba – tiba adzan dzuhur berkumandang, bis kembali melaju di bawah aba – aba lampu hijau yang tegak berdiri di sekitar pertepian jalan. Saat tubuhku berlalu, mataku masih pekat memandang mereka, para wanita dan balita itu.

Aku terjaga dalam perjalanan ini sampai menjelang sore, sementara orang – orang di sekitarku terlelap, kecuali seorang lelaki paruh baya dengan jenggot awut – awutan yang mengisi keluangan waktunya dengan melantunkan isi Kitab suci pegangannya Al Quran. Tak henti – hentinya orang itu membuat hatiku berdecak kagum, bukan pada kealimannya saat dalam kondisi yang seperti ini masih sempat – sempatnya membuka Al Quran tapi perhatianku cenderung terletak pada kefasihan dan pelafalannya yang tidak bisa diragukan lagi terutama pada kemerduan suaranya, Subhanallah…

Bis kemudian berhenti dan kembali melaju dengan penumpang baru, o’ow… Sepertinya bukan penumpang, anak kecil enam sampai tujuh tahunan yang lagi – lagi berpenampilan kumal menggeteng gitar dan bernyanyi sengau menyaingi lantunan ayat suci Al Qur an oleh lelaki paruh baya di belakangku, lelaki itupun lantas menghentikan sejenak kekhusyu’annya entah apa maksudnya, anak kecil itu menyanyikan sebuah syair yang liriknya mengandung banyak sindiran – sindiran perlakuan diskriminatif preman – preman liar terhadap anak – anak jalanan tiap malam, kemudian tidur tanpa alas bersama udara dingin dan gema kendaraan di kolong jembatan.

Lagu yang anak itu bawakan juga menyinggung soal ketidak-tanggungjawaban orang tua mereka terhadap anak yang telah mereka lahirkan sendiri. Hingga mereka harus kecil dan tumbuh di lingkungan yang keras, nelangsa, dan penuh dengan problematis yang seharusnya belum bisa mereka hadapi, mereka terlalu lugu untuk menentang arus dan segala godaan yang membuat mereka semakin terperosok dalam lingkungan orang – orang yang sebetulnya kurang baik untuk mereka pergauli.

Aku termenung amat dalam mencerna petuah lelaki jenggot di belakangku yang kini telah kembali larut dalam firman – firman Allah itu. Semenjak lahir sampai sekarang, Allah menaruhku dalam belaian dan kasih sayang keluarga yang lengkap, kebutuhan yang bisa terus terpenuhi dengan pekerjaan orang tuaku yang bisa dikatakan sangat layak, tanpa harus meminta belas kasih orang – orang asing melalui senandung – senandung pahit seperti yang anak itu alunkan dengan gema sengaunya tadi, aku menggeteng tas dan menyandang uang saku yang terselisip aman dalam dompet tanpa ada yang berani merampas atas nama pajak seperti halnya apa yang dialami mereka. Aku sampai selamat ke sekolah dengan waktu yang lebih singkat karena kemampuan orang tuaku membeli kendaraan, hingga aku tidak perlu merasakan sengatan matahari, tidak perlu berjalan jauh berkilo – kilo meter sampai telapak melepuh terseok – seok seperti yang harus dialami oleh para wanita tangguh itu berkeliling mengais segelintir riski yang hanya cukup untuk mereka makan sehari bahkan hanya sekali. Namun sepertinya tidak ada sedikitpun kesadaran dariku tatkala hatiku terkunci melihat pernak duniawi yang melenakan, kemewahan orang lain, keglamoran, fasilitas modern yang berlimpah – limpah. Aku masih terus saja menginginkan hal – hal lain yang tidak penting, yang sesungguhnya bukan kebutuhanku pokokku. Ternyata aku tidaklah lebih baik dari bocah dekil tadi, aku terlalu menutup telingaku rapat – rapat hingga tidak bisa mendengarkan rintihan pilu dan suara menggingil anak – anak yang tidur beralaskan koran di kolong jembatan dan orang – orang lain yang tidak seberuntung diriku, apa yang aku lakukan? Bukankah kesenangan duniawi yang selama ini ku kejar mati – matian ternyata hanyalah tidak lebih dari tipuan iblis? Yang telah nyaris membuatku terjerembab dalam gilanya keduniaan, kemewahan, yang bahkan tiada mengandung arti sama sekali. Ha ha ha hatiku tertawa gelak – gelak! Sungguh dungunya aku selama ini mengeluhkan, memprotes dan berdemo bersama ribuan orang bodoh yang bernasib sejawat lain ke diriNya tatkala aku tidak bisa meraih ambisi keduniaan yang aku kejar itu, ah! Aku memukul keras dahiku. Ternyata sesuatu yang menjanjikan, kebahagian yang haqiqi kelak telah aku nomor sekiankan hingga aku melupakannya secara cuma – cuma. Aku kemudian terlelap sangat malu, hatiku geli sekaligus kikuk melihat keberhasilan setan merangkuliku selama ini, bukan suatu kebetulan kalimat tadi terlontar dari pria jenggot yang berada persis di belakangku, inikah cara Tuhan mengingatkanku? Ya Tuhan… Ampuni kebodohanku.. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Pelajar SMAN 1 Bandar yang kini aktif menulis di sejumlah media masa dan situs web, beberapa karyanya termasuk artikel dan puisi pernah muncul di tabloid pendidikan. Siswi kelas tiga ini juga gemar menebar kebajikan melalui film pendek, menulis skenario dan terlibat dalam pembuatan perfilman di sekolahnya.

Lihat Juga

Tak Ada Uang yang Jatuh Dari Awan

Organization