Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar Kokoh dari Nabi Ayyub AS

Belajar Kokoh dari Nabi Ayyub AS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (air-sunyi.tumblr.com)
Ilustrasi. (air-sunyi.tumblr.com)

dakwatuna.com – Ketika kebahagian turut dalam deru nafas kita, harta benda, anak – anak yang bakti, tahta dan kedudukan, siapa yang tahu menahu bahwa dalam sekejap saja semuanya dapat lenyap tak terjejak?

Seperti kisah Nabi Ayub AS yang konon harta bendanya melimpah ruah, gedung – gedung, ladang gandum hingga peternakan seakan takkan habis dimakan tujuh turunan sekalipun. Nabi Ayyub As bahkan dikaruniai sebuah ranah keluarga yang damai, anak – anak yang berbakti hingga istri sholehah yang patuh dan setia mendampingi. Kebahagiaan melengkapi hidupnya, tangannya tidak kikir menjajakan banyak hartanya untuk infaq dan sedekah, badan sehatnya untuk bersujud siang malam, ia sumbangkan senggal nafasnya untuk dzikir komat – kamit menyeru asma sang kuasa, serta begitu khusyu’ dan larut dalam setiap peribadatan pada Allah, kekasihnya.

Namun barangkali memang sudah qodratnya, sifat alamiah yang membelenggu diri syaithan, begitu tidak suka dan merasa terganggu dengan desas – desus perbincangan para malaikat di langit ihwal adanya seorang hamba yang agung menyandang kebahagian duniawi namun tidak abai terhadap mutlaknya kehidupan ukhrawi, seorang hamba itu bukan lain ialah Nabi Ayyub AS, hingga para syaithan dan sekutunya dengan bekal otak licik dan kejinya menyusun siasat untuk menggulingkan posisi Nabi Ayyub AS agar berpaling dari padangan Allah terkasihnya.

Atas izin Allah, syaithan dan sekutu menjalankan siasat pertamanya, mereka memusnahkan semua harta benda Nabi Ayyub AS hingga habis tak tersisa, dalam sekejab Nabi Ayub AS yang semula kaya raya dan terpandang di lingkungan tempat tinggalnya jatuh miskin, orang – orang di sekitarnya mulai abai terhadapnya, meninggalkannya, dan mengucilkannya. Padahal dahulunya mereka juga makan dari kedermawanan dan kemurahan hati Nabi Ayyub AS.

Lantas syaithan datang menyamar sebagai kakek renta, dan menghasut Nabi Ayyub AS ihwal lenyapnya semua harta bendanya. Namun Nabi Ayyub As kokoh, hasutan syaithan tak sedikitpun sanggup mendobrak dinding aqidah dan keimanan yang dimilikinya hingga syaithan dengan gontai dan rasa kecewa segera angkat kaki dari hadapan Nabi Ayyub AS.

Lagi, syaithan yang licik tak segera kehabisan akal. Mereka menyusun siasat keduanya. Syaithan dan sekutu mencelakai putra – putra Nabi Ayyub AS. Tempat tinggal putra – putra Nabi Ayyub AS digoncang – goncang oleh para syaithan hingga roboh dan luluh lantah, putra – putra nabi Ayyub AS seketika musnah di antara reruntuhan yang porak poranda.

Syaithan menunggu tanggapan Nabi Ayyub AS mengenai musibah yang menimpanya kini, namun lagi – lagi syaithan dan sekutu harus menanggung malu, karena keimanan dan ketaqwaan Nabi Ayyub AS tak sedikitpun dapat tergoyahkan. Nabi Ayyub AS yang sembab menangis tetap berkhusnudzon dan bersujud pada Allah mengakui keagungan dan kekuasaannya atas musibah berat yang mencambuk jiwanya.

Di penghujung keputus-asaan, syaithan akhirnya kembali menemukan langkah baru untuk menjebak Ayyub dalam kubangan.

Syaitan dan sekutu menabur bibit – bibit penyakit pada sekujur tubuh Nabi Ayyub AS hingga tubuhnya lunglai, ringkih, kurus seperti tulang dibalut kulit. Kulit Ayyub AS ditumbuhi bintik – bintik luka yang menjijikkan dan menimbulkan bau menyengat. Hingga membuat orang – orang di sekitarnya menjauh dan mengasingkan dirinya. Namun dalam kekalutan akibat penyakit yang menggerogoti sekujur tubuhnya, dari ujung kaki hingga pangkal ubun – ubun, Nabi Ayyub AS masih tinggal, masih setia, masih diam di posisinya sebagai seorang hamba yang tegar dan gemar memuji Tuhannya, meski kini posisinya berada di puncak kefakiran, puncak kehancuran, dan puncak kerapuhan sekalipun, Nabi Ayyub AS masih kokoh dan syahdu berdzikir, mengucap syukur pada sang Rahim. Syaithan dan sekutu benar – benar dilanda putus asa.

Namun masih ada satu jalan lagi, raga Ayyub yang berada di antara garis hidup dan mati masih kuat berdiri karena kesetian sang istri yang dengan penuh kesabaran dan kelembutan merawat dan mendampingi dirinya, hingga syaithan datang menyamar menemui istri Nabi Ayyub AS yang bernama Rahmah dan membumbui hatinya dengan benih – benih racun. Hal itu membuat keyakinan Rahmah akan suaminya sempat tergoncang. Hal ini menyebabkan Rahmah harus menuai kemarahan dari suaminya, ia bahkan diusir dari rumah. Nabi Ayyub AS bahkan sampai bersumpah jikalau sembuh ia akan memukul istrinya seratus kali.

Kini tak satupun yang tinggal di sisi Nabi Ayyub AS kecuali Rabbnya, putra – putranya telah mati, harta bendanya tak tersisa, kesehatannya merapuh, hingga istri yang angkat kaki dari rumahnya. Namun sekali lagi, dahsyatnya kekuatan iman Nabi Ayyub AS membuatnya tetap kokoh dan lantang memuji kekuasaan Allah, rentetan nestapa yang meradang mencekiknya merupakan sebuah ujian dan cobaan, sampai kepada manakah kekuatan iman dan ketaqwaan dirinya kepada Tuhannya? Syaithan hancur luar biasa menghadapi keikhlasan hati Nabi Ayyub AS, putus asa.

Tak ada lagi yang dapat syaithan lakukan karena tak sedikitpun nikmat Allah SWT yang tersisa dalam diri Nabi Ayyub AS. Hingga nampaklah kemurahan sang Rabb mendatangkan bantuan bagi Nabi Ayyub AS yang telah berhasil melalui sejumlah ujian. Kaki Nabi Ayyub AS di perintahkan untuk menghantam tanah sampai mengeluarkan percik – percik air yang menyegarkan, dari air ajaib itulah Nabi Ayyub AS akhirnya sembuh dari penyakitnya, tubuhnya kembali sehat bugar bahkan lebih segar dan tampan dari sebelumnya. Rahmah sang istri yang rupanya tak enak hati dan khawatir setelah sekian lama meninggalkan suaminya yang terpuruk akhirnya kembali untuk menunjukkan kembali kesetiaannya, namun alangkah terkejutnya ia mendapati Nabi Ayyub AS yang sehat bugar dan tampak lebih muda dari sebelumnya, sampai hampir ia tak bisa mengenali apakah itu suaminya atau bukan.

Alangkah gembira hati Nabi Ayyub AS mendapati kedatangan istrinya kembali, namun dalam kegembiraan itu masih ada sesuatu yang begitu mengganjal nuraninya, yaitu ihwal sumpah yang pernah diucapkannya kala sang istri meninggalkannya pergi. Bagaimanapun Nabi Ayyub AS tidak dapat melanggar ketentuan Allah SWT oleh karenanya ia harus segera melaksanakan sumpah itu, namun Nabi Ayyub AS tak sanggup hati berbuat demikian terhadap istrinya karena bagaimanapun dahulu istrinya sudah cukup menderita mendampingi masa – masa ke terpurukannya selama tujuh tahun lamanya. Akhirnya datang wahyu Allah SWT meringankan tanggungan sumpah yang pernah diajukan Nabi Ayyub AS, Allah menyerukan agar Nabi Ayyub AS hanya perlu memukul istrinya menggunakan batang lidi yang jumlah nya seratus batang sebanyak satu kali saja.

Setelah menjalankan sumpah, Nabi Ayyub AS dan istrinya akhirnya berkumpul kembali, mereka berjuang bersama membangun kembali semua yang hancur mulai dari awal. Kemudian mereka juga dikaruniai putra yang bernama Basyar yang juga turut menjadi hamba terpilih seperti dirinya ia adalah Nabi Dzulkifli yang juga mewarisi sifat sabar ayahnya.

Begitulah seharusnya seorang muslim yang sejati, ujian dan cobaan itu pasti dan sesuatu yang haq menimpa setiap muslim, karena hakikatnya dunia adalah ranah kefanaan, ranah kenelangsaan dan penuh dengan cambukan yang menyakitkan. Namun kalau kita kokoh seperti Nabi Ayyub AS, memiliki kepercayaan yang tegak dan ajeg mengenai adanya sang Tuhan yang Maha Mengatur semuanya, di atasnya kita malah menjadi tahu dan dapat menuai ibrah berupa hikmah di baliknya. Seorang muslim yang sadar akan keberadaan Tuhannya ibaratnya seperti pohon yang berakar kuat, mau diguncang dan ditiup badai sedahsyat apapun masih tegak berdiri, bahkan semakin tinggi menjulang seiring jalannya masa kehidupan yang perlahan di jejakinya dari waktu ke waktu.

Sama halnya dengan seorang muslim yang memiliki iman dan aqidah yang kuat, mau ditimpa musibah seberat apapun, mereka ikhlas, mereka tegar, mereka tetap bersyukur, bahkan masih lantang dan gencar memuji asma Tuhannya yang Agung. (dakwatuna.com/hdn)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Pelajar SMAN 1 Bandar yang kini aktif menulis di sejumlah media masa dan situs web, beberapa karyanya termasuk artikel dan puisi pernah muncul di tabloid pendidikan. Siswi kelas tiga ini juga gemar menebar kebajikan melalui film pendek, menulis skenario dan terlibat dalam pembuatan perfilman di sekolahnya.

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK