Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Meneguhkan Pesantren Tanpa Rokok

Meneguhkan Pesantren Tanpa Rokok

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Tolak Rokok – ilustrasi (Foto: liputan6.com)

dakwatuna.com – Di balik meriahnya perayaan hari santri nasional kita punya satu hal yang perlu diperhatikan bersama yakni tingginya budaya merokok di kalangan santri. Memang belum ada data pasti berapa persen santri yang merokok di Indonesia namun dari pengamatan penulis angka ini cukup tinggi. Hal ini kita buktikan bila kita sering bergaul dengan mereka terutama santri di kalangan pesantren tradisional.

Budaya merokok santri ini sangat mengkhawatirkan bagi kualitas generasi yang akan datang hal ini berkenaan dengan dampak asap rokok yang mulai memapar sejak santri remaja dan akan berlanjut sampai usia tua. Namun sayang banyak kalangan pesantren yang menafikan dampak tersebut bahkan berusaha merasionalisasi kebiasaan merokok santri dengan pendekatan ilmu lain seperti ilmu tentang qadha dan qadar bahkan ilmu tasawuf.

Menurut beberapa pendapat mereka bahwa merokok lebih bisa mengakrabkan teman atau bisa memuliakan tamu yang merupakan kewajiban agama bahkan merokok bisa membuat hati tenang saat akan berdzikir atau bermunajat. Pendekatan neurosains menerangkan akan terbentuk reseptor nikotin di area otak yang akan menstimulus disekresinya neurotransmiter yang menenangkan terutama endorfin-dopamin saat merokok. Namun saat kadar nikotin di otak turun maka reseptor tersebut “berontak” dan menyuruh otak untuk mencari nikotin (ingin merokok lagi) sehingga mereka menjadi candu rokok.

Yang menyedihkan banyak santri yang menjadi perokok pemula saat mulai tinggal di pesantren bahkan banyak kegiatan pesantren yang sponsor utamanya rokok serta memvisualisasi nama dan gambar rokok secara vulgar. Selain itu bergaul dengan kyai-ustadz dan teman yang terbiasa merokok (apalagi mereka dianggap role model) maka para santri akan terpapar kebiasaan jelek ini.

Maka di hari santri nasional ini kita berharap semua pihak untuk aktif mengampanyekan Stop Rokok di kalangan santri. Pesantren adalah lingkungan pendidikan yang menurut peraturan pemerintah (PP) adalah kawasan bebas asap rokok. Jadi diperlukan kearifan para pengelola pesantren untuk memahami ini. Salah satu cara dengan tidak merokok di depan santri atau saat proses pengajaran berlangsung agar mereka tidak meniru kebiasaan merokok tersebut.

Ke depan kita berharap santri Indonesia menjadi santri berkualitas bukan hanya hebat di bidang agama seperti selama ini namun saat lulus akan menjadi generasi yang sehat tanpa menderita penyakit akibat rokok seperti jantung, stroke, kanker bahkan impoten. (dakwatuna/hdn)

Note: Penulis adalah Neurologist alumnus Pesantren.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Dokter spesialis saraf RSUD Saiful Anwar Malang. Dosen ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Univ Brawijaya Malang. Penulis buku "Puasa dan Otak Manusia" penerbit UB media Malang 2014.

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi