Home / Berita / Internasional / Asia / Membaca Arah Hubungan Rusia dan Israel

Membaca Arah Hubungan Rusia dan Israel

Presiden Rusia (kiri) dan Perdana Menteri Israel. (Al Jazeera)
dakwatuna.com – Doha. Hubungan Rusia dan Israel berada dalam kondisi terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pada 17 September lalu, insiden yang melibatkan jet F-16 Israel mengakibatkan jatuhnya pesawat pengintai Rusia, semua awak pesawat yang berjumlah 15 orang tewas seketika.

Kementerian pertahanan Rusia menuduh Israel bertanggung jawab atas insiden tragis itu. Dikatakannya, jet tempur Israel menggunakan pesawat Rusia sebagai perisai ketika sistem pertahanan udara Suriah mulai menembaki mereka.

Dalam klaim terbaru, Moskow juga menyebut Israel hanya memberi peringatan satu menit saja sebelum melancarkan operasi. Bahkan peringatan tidak serta menyebut bahwa operasi dilakukan terhadap target di provinsi Latakia, tempat pangkalan udara Hmeimim Rusia berada.

Israel menolak tuduhan itu dan bahkan mengirim delegasi pertahanan ke Rusia untuk memberikan klarifikasi. Namun, upaya-upaya mereka tampaknya belum menenteramkan kementerian pertahanan Rusia, yang pada 24 September mengumumkan akan menerapkan sistem S-300 modern ke Suriah.

Pembekalan S-300 dapat mengekang kemampuan Israel untuk meluncurkan operasi udara di Suriah. Bahkan juga disebut akan semakin memperburuk hubungan Rusia-Israel yang sudah tegang.

Masalah Teheran

Ketika Rusia meluncurkan intervensi militer langsung di Suriah pada bulan September 2015, Israel menyambutnya karena melihatnya sebagai cara untuk menahan Iran.

Kedua negara mencapai saling pengertian untuk tidak saling silang merah. Sementara Moskow mengakui bahwa kedekatan Iran dengan perbatasan Israel mungkin tidak diinginkan karena dapat menyeret Israel ke dalam perang Suriah. Sementara Tel Aviv mengakui keamanan rezim Assad tidak boleh dikompromikan.

Karena hubungan dekat mereka, Israel mentoleransi perluasan pasukan Iran ke perbatasannya dalam mendukung operasi Rusia di Suriah mengamankan keberhasilan serangan balasan terhadap oposisi bersenjata Suriah.

Pada saat yang sama, Rusia memberi Israel kebebasan operasional yang cukup besar ketika menyangkut kepentingan keamanan nasionalnya di Suriah. Untuk memastikan bahwa tidak ada masalah dengan operasi angkatan udara Israel, sejak awal intervensi militer langsungnya di Suriah, Rusia mendirikan sebuah hotline dengan Israel.

Bahkan menurut mantan Menteri Pertahanan Israel Moshe Ya’alon, Tel Aviv tidak perlu menginformasikan Moskow mengenai operasinya. Sebab militer Rusia mampu mengidentifikasi jet Israel dan tidak ikut campur dalam operasi mereka.

Sejak awal 2018, Israel telah mengintensifkan serangannya terhadap basis Iran dan Hizbullah di Suriah dengan persetujuan diam-diam dari Rusia. Namun Israel ternyata salah menganggap Rusia setuju dengan setiap operasinya karena adanya kebijakan tidak campur tangan.

Rusia juga tak kunjung melakukan langkah besar untuk menahan Iran. Faktanya, selama tiga tahun terakhir, keberhasilan Rusia justru memungkinkan Iran untuk mempertahankan keberadaannya di Suriah. Tentu ini menghancurkan harapan Israel dan menegangkan hubungan antara Tel Aviv – Moskow.

Para pejabat Rusia, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, secara konsisten menjelaskan pada Israel bahwa mereka tidak melihat kehadiran Iran di Suriah sebagai ancaman bagi eksistensi Israel.

Selama setahun terakhir, kehadiran Iran di Suriah semakin menjadi titik ketegangan antara Moskow dan Tel Aviv.

Peningkatan Ketegangan

Kejatuhan diplomatik dari insiden 17 September membuktikan betapa rapuhnya kemitraan Rusia-Israel sebenarnya.

Nada tajam dari kementerian pertahanan Rusia, yang biasanya berhati-hati ketika mengomentari kegiatan Israel di Suriah, cukup mengejutkan. Pernyataan yang dirilis itu dilaporkan pertama kali disetujui oleh Presiden Putin, yang mempertahankan kontrol pribadi atas file diplomatik Israel.

Rusia maju dan mundur untuk memasok sistem pertahanan S-300 ke Damaskus selama beberapa bulan, takut akan reaksi Israel. Para pejabat Israel menegaskan beberapa kali bahwa mereka tidak menyetujui langkah semacam itu.

Dengan demikian, keputusan Rusia untuk maju dengan memasok S-300 adalah pesan terkuat hingga saat ini yang telah dikirim ke Tel Aviv. Langkah ini sangat sedikit untuk membatasi operasi Israel di Suriah, tetapi untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Israel, Moskow menempatkan kata-katanya ke dalam tindakan. (whc/dakwatuna)

Diadaptasi dari “What next to Russian-Israeli relations?”
Oleh Yuri Barmin,
Ahli di ‘Russian International Affairs Council covering the Middle East and North Africa’

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Netanyahu: Saya Ingin Ada Hubungan Baik antara Israel dan Indonesia