Home / Berita / Internasional / Asia / Di KTT Teheran, Erdogan: Jangan Biarkan Banyak Orang Meninggal!

Di KTT Teheran, Erdogan: Jangan Biarkan Banyak Orang Meninggal!

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Anadolu)
dakwatuna.com – Teheran. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak agar kematian di Suriah diakhiri. Hal itu ia sampaikan saat pertemuan puncak di Teheran antara Turki, Iran dan Rusia, Jumat (07/09).

Saat konferensi bersama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani, Erdogan menegaskan urgensi mengakhiri pemboman di Idlib Suriah. Selain juga memastikan terjadinya gencatan senjata.

“Jika kita bisa mendeklarasikan gencatan senjata di sini, itu akan menjadi bagian terpenting dalam pertemuan ini, dan akan membebaskan warga sipil,” kata Erdogan, dikutip dari kantor berita Anadolu.

Menurut Erdogan, Idlib tidak hanya penting bagi masa depan politik di Suriah. Lebih dari itu, Idlib sangat ‘vital’ bagi keamanan nasional Turki, serta perdamaian dan stabilitas regional, imbuhnya.

“Kami tidak ingin Idlib berubah menjadi kubangan darah. Kami mengharapkan Anda mendukung upaya kami,” tambahnya.

Turki tidak bisa meninggalkan Idlib kepada rezim Bashar Assad yang rusak, lanjut Erdogan.

“Turki bertekad untuk mempertahankan kehadirannya di wilayah itu sampai integritas politik, geografis dan sosial Suriah terjamin,” tegas Presiden Turki tersebut.

Malapetaka baru

Menurut Erdogan, negaranya telah melakukan upaya untuk mengakhiri pertumpahan darah di Suriah sejak awal. Bahkan Turki tidak ingin ada seorang saudara laki-laki Suriah menderita ‘mimisan’ sekalipun.

“Kami tidak ingin orang-orang Idlib, yang telah banyak menderita, tertimpa bencana baru,” tambahnya.

Erdogan mengatakan, perwakilan dari tiga negara penjamin akan berkumpul di Jenewa bersama utusan khusus PBB untuk Suriah Stephan De Mistura di hari-hari mendatang.

Saat ini, Turki telah menampung total 3,5 juta pengungsi Suriah. Mengenai itu Erdogan mengatakan, “Penduduk Idlib berjumlah 3,5 juta, kami tidak memiliki cukup kekuatan dan fasilitas untuk menampung 3,5 juta lainnya.”

Pertemuan tiga negara Turki, Rusia dan Iran pertama kali digelar pada 22 November 2017 di Sochi, Rusia. Sementara pertemuan kedua, digelar di Ankara pada April lalu. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Buntut Pembunuhan Khashoggi, Jerman Bekukan Penjualan Senjata ke Arab Saudi