Home / Berita / Internasional / Asia / Warga Palestina Diberi 8 Hari untuk Angkat Kaki dari Khan al-Ahmar

Warga Palestina Diberi 8 Hari untuk Angkat Kaki dari Khan al-Ahmar

Warga Palestina di Khan al-Ahmar menolak pergi dari kampung halaman mereka. (Al Jazeera)
dakwatuna.com – Ramallah. Warga Palestina di desa Badui, Tepi Barat diminta untuk pergi dari rumah mereka dalam delapan hari ke depan. Otoritas Zionis Israel mengatakan, mereka akan menghancurkan rumah-rumah tersebut.

Peringatan pada Ahad (23/09) itu diumumkan beberapa pekan saja setelah Mahkamah Agung Israel menolak banding terhadap pembongkaran rumah.

“Berdasarkan putusan Mahkamah Agung, penduduk Khan al-Ahmar yang menerima pemberitahuan hari ini diharuskan untuk menghancurkan semua bangunan pada 01 Oktober 201,” kata unit kementerian pertahanan Israel yang mengawasi urusan sipil di Tepi Barat dalam pernyataannya.

“Jika Anda menolak, pihak berwenang akan menegakkan perintah pembongkaran sesuai keputusan pengadilan dan hukum.”

Rencana Israel untuk menghancurkan desa, yang dihuni 180 orang, dan merelokasi penduduknya telah dikritik oleh Palestina serta mendapat kecaman internasional.

Awal bulan ini, Inggris, Prancis, Jerman, Italia dan Spanyol memperbarui seruan mereka untuk Israel agar tidak menghancurkan desa. Negara-negara itu memperingatkan konsekuensi bagi penduduk, serta “prospek solusi dua negara”.

“Tidak ada yang ingin pergi. Kami diusir secara paksa,” kata juru bicara desa, Eid Abu Khamis kepada Al Jazeera. Ia menambahkan, warga desa akan segera berkumpul untuk membahas situasi tersebut.

“Jika kami ingin mengambil insentif ini, kami akan mengambilnya 30 tahun lalu, insentif terus datang tetapi kami semua menolak,” katanya.

“Kami ingin bertahan di tanah kami, dan tidak akan pergi selain dengan pemaksaan.”

Yousef Abu Dahouk, ayah empat anak berusia 37 tahun, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan Israel memasuki desa dan mengayunkan persenjataan berat di depan anak-anak dekat sekolah yang juga diperkirakan akan dihancurkan.

“Pasukan Israel mencoba memasuki sekolah tetapi para aktivis mencegah mereka. Setelah itu, mereka berjalan di sekitar desa, di antara rumah-rumah dan menjelajahi tempat itu, mencoba mencari tahu berapa banyak aktivis yang ada. Lalu mereka pergi.”

Khan al-Ahmar terletak beberapa kilometer dari Yerusalem antara dua pemukiman ilegal Israel utama, Maale Adumim dan Kfar Adumim. Israel berambisi untuk mengembangkan dua pemukiman tersebut. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Erdogan: Saya Kenal Pembunuh Jamal Khashoggi

Organization